Dua pekan lalu para jenderal bintang tiga berkumpul di Ruang Rapat Utama Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Tak ada yang aneh dalam pertemuan itu. Disana hadir Kepala Badan Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal Suhardi Alius, Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Komisaris Jenderal Putut Bayu Seno, Inspektorat Pengawasan Umum Komisaris Jenderal Dwi Prayitno, dan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti.Dalam ruangan itu juga terlihat Komisaris Jenderal Budi Gunawan, Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan Polri. Dia hanya duduk sendiri. Sedangkan sisanya asyik mengobrol. Entah apa yang mereka perbincangkan. Yang pasti, Budi seperti orang asing dalam ruangan itu. "Di pojok ada Budi. Hanya Budi tidak mengobrol," kata sumber merdeka.com minta namanya dirahasiakan pekan lalu.Beberapa hari kemudian, memang ramai isu soal pergantian calon kepala Polri. Padahal masa jabatan Jenderal Sutarman baru habis Oktober nanti. Isu pergantian pucuk pimpinan Polri ini sejatinya sudah muncul setahun lalu, usai pelantikan Joko Widodo sebagai presiden. Adalah Neta S Pane pertama kali meniup selentingan akan ada pergantian Trunojoyo 1. Dia menyebutkan beberapa perwira Polri bakal menggantikan Jenderal Sutarman ialah Kepala Lembaga Pendidikan Polisi Komisari Jenderal Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Inspektur Jenderal Safrudin, Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya Inspektur Jenderal Unggun Cahyono, Gubernur Akademi Polisi Inspektur Jenderal Puji Hartanto.Namun Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti menepis selentingan itu. "Kata siapa? Itu kan baru isu. Kalau Kapolri omong baru bisa dipercaya," katanya kepada merdeka.com.Isu pergantian itu makin bergulir. Puncaknya Jumat dua pekan lalu. Indonesia Corruption Watch kembali mengkritik soal tidak adanya transparansi dalam pergantian pimpinan lembaga hukum. Apalagi nama Budi Gunawan masuk sebagai salah satu kandidat. Budi Gunawan disebut-sebut sebagai pemilik rekening tambun.Padahal saat isu itu ramai, Presiden Joko Widodo paginya menerima nama-nama calon kepala Polri dari Komisi Kepolisian Nasional. Ada lima nama disodorkan. Tak perlu waktu lama, Jokowi langsung menunjuk Budi Gunawan sebagai calon tunggal. Dia lantas mengirim surat ke Dewan Perwakilan Rakyat.Pencalonan itu mengundang banyak pertanyaan. Apalagi setelah penatapan Budi Gunawan menjadi calon tunggal kepala Polri, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan dia sebagai tersangka dalam kasus rekening tambun. KPK menemukan transaksi mencurigakan di rekening Budi Gunawan.Sumber merdeka.com mengatakan penetapan tersangka itu lantaran bantuan perwira tinggi di Kepolisian. "Dua alat bukti, satu bukti lagi dari Kepolisian," kata sang sumber. Satu alat bukti itu berupa transaksi atas nama anak Budi Gunawan. "Transaksi itu janggal karena terjadi saat anaknya berusia 19 tahun untuk membuat perusahaan," ujarnya.Isu berkembang. Penetapan tersangka itu berkat bantuan Komisaris Jenderal Suhardi Alius. Suhardi dituding membocorkan data ke KPK. Bahkan penetapan nama Budi Gunawan sebagai calon kepala Polri sempat dicekal oleh tiga jenderal. Budi disebut-sebut tidak mendapat tiket untuk menuju Tri Brata 1 oleh internal Polri. "Sampai saat ini belum ada yang cocok gantikan Pak Sutarman," tutur sumber itu.Neta S. Pane pun berkelakar. "Ada yang merasa dirinya lebih pantas jadi kepala Polri ketimbang Budi Gunawan," kata Neta.Sayangnya, Suhardi Alius tidak bisa dikonfirmasi soal tudingan membocorkan data ke KPK. Suhardi hanya membalas pertanyaan soal pemindahannya menjadi Sekretaris Lembaga Pertahanan Nasional. "Saya nggak apa-apa Tya," kata Suhardi melalui pesan BlackBerry, Jumat pekan kemarin kepada Mustiana lestari dari merdeka.com.