"Saya lelaki sedang mencari istri sah, istri ketiga atau istri siri," tanya seorang lelaki dalam pesan singkatnya. Titi sering mendapatkan pertanyaan dari calon anggota milisnya sendiri. Komunitas orang tua tunggal masih dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Pandangan miring masih dialamatkan kepada anggota kelompok berisi para janda dan duda itu.Terutama status janda. Banyak yang menganggap komunitas itu menjadi biro jodoh terselubung. "Kalau sejak awal kita tegaskan di sini bukan mencari jodoh, hanya saling berbagi dan mendukung permasalahan mengenai bagaimana menjadi orang tua tunggal," kata Titi kepada merdeka.com kemarin di Jakarta.Namun jika ke depannya sesama anggota saling bertemu lalu menjalin hubungan sebagai wanita dan pria dewasa tak ada salah soal itu. "Secara umum kita berkumpul sebagai komunitas lalu di luar kegiatan yang ada, kita nggak bisa larang," ujarnya.Apalagi dengan status janda, sesama wanita biasanya punya pandangan negatif dicap perusak rumah tangga atau perebut suami orang. Selain masalah itu, dia menemukan sebuah permasalahan lelaki-lelaki pembual di dalam komunitasnya.
Terdapat seorang pria berhasil menipu beberapa janda dengan memacari sesama anggota milis. Tak tanggung-tanggung akun langsung secara otomatis dibekukan. "Pernah ada juga yang ketahuan berhubungan dengan A setelah itu dengan B, C, D," tutur Titi.Memang untuk anggota lelaki memang sedikit dibandingkan kaum hawa. Rata-rata pria terbilang sanggup menghadapi masalah rumah tangga pelik seperti perceraian. Komunitas unik ini sering melakukan kopi darat atau mengadakan forum grup diskusi dengan membahas tema permasalahan orang tua tunggal dilakukan di Jakarta. "Tak sampai sepuluh persenlah, anggota lelakinya," ujarnya.