Rambutnya bergaya mohawk. Seluruh badannya nyaris dipenuhi tato. Di pipi kanannya sebuah tato bergambar tiang listrik membentang panjang dari kepala hingga dagu. Anting hitam bergelayut di kupingnya dengan lubang berdiameter lumayan besar.Begitulah penampilan saban hari Bob, gitaris kelompok musik Marjinal. Waktunya banyak dihabiskan di komunitas Taring Babi. Suami dari Indah ini berkantor tiap hari, mengisi kreativitas di rumah dia sebut sebagai sekolah alam. Di sana Bob kadang menjajakan dirinya sebagai pembuat rajah. Tak jarang dia juga ikut memproduksi kaus karya komunitas Taring Babi."Setiap hari saya di sini," kata Bob saat ditemui merdeka.com Kamis pekan lalu. Jiwanya seolah sudah menyatu dengan komunitas Taring Babi. Di Komunitas ini sejak 16 tahun lalu dia mulai konsisten menjalani dan berbagi ilmu kepada sesama anak Punk. Rumah itu memang buat anak punk mau belajar. Dari sini pula Bob banyak belajar nilai-nilai kehidupan sesungguhnya. "Awalnya warga menolak, bahkan sampai ada rapat khusus di tingkat Rukun Tetangga dan Rukun Warga," ujarnya. "Kita dikasih kesempatan dan itu kita buktikan." Di komunitas Taring Babi anak-anak punk diajarkan untuk kreatif. Berkarya meski memiliki keterbatasan minim. Itulah prinsip bagi Bob, tetap berarti dengan kemampuan kecil. Perjuangannya melalui komunitas Taring Babi masih terus disuarakan lantang. Bersama Mike dan beberapa kawan dari kalangan punk, mereka mencoba menghapus stigma negatif keberadaan mereka.Menurut Mike, penampilan urakan mereka dengan hiasan tato dan rambut mohawk merupakan identitas kebebasan. "Kalau masih melihat dari bungkusan, namanya antiperbedaan. Katanya Pancasila, ini kok kaya gitu," tutur MikeKarena selalu ditolak keberadaannya, komunitas Taring Babi sudah beberapa kali pindah tempat. Awalnya mereka menyewa lokasi di Gang Kompos dekat Stasiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Dari sana mereka bergeser ke Kampung Setu Babakan. Sejak 2003 mereka bertahan di Gang Setiabudi, Jalan Mochamad Kahfi II, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.Warga setempat telah menganggap komunitas Taring Babi dan Marjinal sebagai keluarga meski awalnya ada rasa takut karena penampilan mereka. Jangan kaget jika markas karang taruna di sana juga merupakan markas Komunitas Taring Babi. Bahkan, anak-anak punk di komunitas itu memiliki jiwa sosial tinggi. Mereka lebih berempati dengan sesama tanpa harus diminta. "Kalo ada warga di sini meninggal, biasanya KTP-nya sudah di sini. Kita bantu buat bikin papan nisan," kata Mike.