Rabu pucat di bilangan Orchard

Ledakan di gedung MacDonald House menewaskan tiga orang dan melukai 33 lainnya.

Faisal Assegaf
Oleh Faisal Assegaf - Reporter
Rabu pucat di bilangan Orchard
Lokasi ledakan di gedung Mac Donald House, Orcahrd Road, Singapura, 10 maret 1965. (straitstimes.com)

Rabu sore, 10 Maret 1965. Hujan deras masih mengguyur kawasan Orchard Road, jantung Kota Singapura. Kantor the Hong Kong and Shanghai Bank Corporation (HSBC) baru saja tutup pukul tiga sore. Arus lalu lintas cukup ramai.Tujuh menit berselang, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari dalam gedung sepuluh lantai MacDonald House. Sumber ledakan berasal dari lantai mezzanine. Insiden ini menewaskan tiga orang - Elizabeth Suzie Choo Kway Hoi (36 tahun), sekretaris pribadi manajer bank, Juliet Goh Hwee Kuang (23 tahun), karyawan bank, dan Mohammed Yasin Kesit (45 tahun), sopir - serta melukai sedikitnya 33 orang.Banyak orang dalam bank dan di jalan merasa sangat terkejut. Korban luka serius juga tidak sedikit. Semua jendela dalam jarak seratus meter pecah dan hampir semua mobil di luar gedung dan seberang jalan rusak, seperti dilansir surat kabar the Straits Times dalam berita utama berjudul Terror Bomb Kills 2 Girls at Bank, 11 Maret 1965.Sebuah minibus milik kantor Komisi Perdagangan Australia diparkir dekat pintu masuk MacDonald House melayang hingga jatuh ke pembatas jalan. Kantor ini berada di atas lantai mezzanine. Kendaraan lalu lalang terpaksa mengerem mendadak lantaran kaget. Seorang pengemudi taksi bersama dua penumpangnya juga cedera.MacDonald House dengan ciri khas bata merah ini adalah salah satu gedung paling besar di Singapura saat itu. Gedung ini diresmikan pada 2 Juli 1949. Bangunan ini memakai nama Malcolm MacDonald, Gubernur Jenderal Inggris untuk Asia Tenggara, menjabat selama 1948-1955. Bom waktu ini meledak pukul 3.07, delapan menit sebelum karyawan bengkel the Wearne Brothers beristirahat sore buat minum teh. Bengkel ini bersebelahan dengan MacDonald House. Polisi, paramedis, dan ambulans segera tiba di lokasi. Sekitar pukul lima sore hujan berhenti. Rombongan besar dari Departemen Kesehatan tiba di lokasi untuk membersihkan pecahan kaca berserakan. Bahan peledak itu diletakkan di dekat sebuah pintu lift. Ledakan menghancurkan pintu lift itu, meninggalkan bekas sebuah lubang besar, dan merobohkan dinding di lantai mezzanine. Di lantai dasar di mana kantor HSBC berada, plester dan batu bata menghujani sekitar 150 karyawan bank. Suzie Choo dan Juliet Goh meninggal tertimbun reruntuhan.Lim Chin Hin, 45 tahun, segera menghapus darah di mukanya dan merapalkan doa lamat-lamat. Dia bersyukur selamat. Dari dalam ruang kerjanya, dia menyaksikan kilatan diikuti ledakan hebat. I.C. Menzies, 27 tahun, kepala departemen akuntansi, juga tengah sibuk di ruangan kerjanya saat ledakan terjadi. Dia cuma ingat plafon jatuh menimpa tubuhnya. Setelah sadar dia melihat tubuhnya terbungkus abu. Dia mendengar seseorang semua pekerja keluar meninggalkan gedung MacDonald House. Dia bergegas mengumpulkan semua buku dan menyimpan di tempat aman sebelum meninggalkan ruangan kerjanya. Dia sempat dirawat di rumah sakit lantaran cedera di kepala.Dua mekanik tengah berdiri berdampingan di luar ruang pamer the Cycle and Carriage luka parah terkena pecahan kaca. Kaca semua mobil pajangan hancur. Kondisi serupa juga dialami bengkel sekaligus ruang pamer the Progress Motors. Tiga pekerja mereka juga cedera. Kalau saja bom meledak sepuluh menit kemudian, barangkali korban meninggal dan luka lebih banyak. mereka biasa Sebab, karyawan-karyawan ini biasa membeli buah di sebuah kios di antara Progress Motors dan MacDonald House selama waktu istirahat minum teh.Lokasi ledakan sekitar 12 kilometer dari kediaman Salim Osman, 12 tahun, pelajar kelas satu SMP, di Geylang Serai, Kampung Melayu. "Ketika peristiwa itu, saya masih di sekolah," katanya mengenang kejadian 49 tahun lalu itu saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya Jumat dua pekan lalu. Dia baru tahu kabar itu setibanya di rumah pukul tujuh malam.Setidaknya Salim sadar Rabu sore itu wajah warga Singapura pucat dan suara mereka tercekat.

Rekomendasi