Sistem pembinaan pemain muda bobrok. Awal 2011, PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) menyodorkan 60 pemain berusia di bawah 19 tahun.Namun hanya satu pemain memenuhi kriteria. Tidak tinggal diam meski tanpa sokongan berarti, Indra Sjafri blusukan ke pelosok negeri mencari pemain berbakat mengolah si kulit bundar.berikut penuturan mantan kepala kantor pos ini soal pengalamannya mencari pemain ke pelbagai daerah saat ditemui Arbi Soemandoyo dan Pramirvan Datu Aprillatu dari merdeka.com Jumat dua pekan lalu di lobi Hotel Transit Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.Bagaimana pengalaman Anda saat blusukan mencari anggota skuad?Karena tak ada sistemnya tadi, saat seleksi ke daerah-daerah ada kesulitan, seperti transportasi, komunikasi, kadang pendanaan. Namun itu menjadi tantangan. Apalagi saya tahu persis infrastruktur di daerah seperti apa, kualitas infrastruktur di Indonesia, provinsi di Indonesia. Kalau bikin buku saya sudah bisa merangkum seperti apa.Cerita miris di balik serba kekurangan?Pernah ke suatu daerah, digembok itu stadionnya sama kadispora supaya tak rusak, di mana logikanya. Padahal SSB di sana serba kekurangan lapangan, kan otaknya enggak ada. Saya bilang ke dia terus kalau digembok perawatan enggak ada. Ini aneh. Terus ada orang tua memaksakan anaknya masuk tim nasional.Daerah paling sulit?Kupang, itu kan jauh, menyeberangi laut. Pulau Natuna juga. Ketika saya datang ke daerah itu, ada tiga manfaat saya dapat1 Saya dapat menyemangati orang daerah. Daerah ikut dilibatkan dalam pembentukan tim nasional, itu paling besar.2 Saya melakukan klinik pelatihan pada guru-guru SD, pelatih-pelatih sekolah sepakbola (SSB) dan anak-anak di sana.3 Pencarian bakat, ada dapat, ada enggak.Kriteria pemilihan seperti apa?Saya tidak bisa paparkan semua, tapi intinya ada empat: kemampuan, ketahanan fisik, kemampuan taktik, dan mental. Itu bisa diukur. Jadi kalau ada orang tanya kenapa pemain itu dipilih, saya bisa jelaskan semua. Terus kenapa dicoret, saya tahu alasannya.Sejauh ini berapa pemain sudah dicoret dari tim?Sudah banyak, dari 160 menjadi 35 pemain, kan bisa dilihat berapa banyak, sudah 125 pemain.Rata-rata kekurangannya apa?Beragam, ada fisiknya tak memenuhi standar, kemampuan taktiknya kurang, ada kemampuannya masih di bawah standar.Bagaimana antusiasme sepak bola di daerah?Iya, apalagi dengan kesuksesan kemarin, tambah antusias mereka. Kemarin saya sudah membuka turnamen SSB di Sumatera Barat, Bengkulu, Batam. Hampir setiap provinsi mengundang saya. Semangat dan mereka mencontoh pemain tim nasional usia 19. Sekarang anak-anak kalau cetak gol sujud suykur semua. Umur delapan tahun, kayak dakwah saya. Sebetulnya sujud bukan hanya untuk orang Islam saja, Paus juga sujud di mana dia tiba. Tak ada hal aneh.Cuma saya bilang kita dapat nikmat bisa diucapkan dalam hati. Karena ini ada hubungannya dengan sepak bola, dari pada cetak gol buka baju dapat kartu kuning, lebih baik sujud syukur cium tanah. Kan langsung dijawab Tuhan dengan kemenangan.Setelah final Piala AFF kita juara, lolos lagi Piala Asia. Kita bersyukur dengan kemenangan, mudah-mudahan kita lolos ke Piala Dunia.Perjuangan tim nasional U-19 selama ini banyak didukung oleh seleksi daerah dan masyarakat?Awalnya kan enggak didukung. Harus timnya dulu membuktikan, setelah itu orang akan mendukung. Dulu kesulitan uang, sekarang berlebih-lebih kita. Siapa pun mau membantu, tidak kayak dulu lagi. Itu perjuanganArtinya, seleksi pemain muda berbukat masih kurang? Bukan kurang, tidak ada. Selama ini kompetisi pemain muda cuma ada di kota besar seperti Jakarta. Padahal Indonesia ada potensi 237 juta bakat pemain muda menyeluruh. Dan Tuhan bilang tak mau kasih pemain-pemain di kota besar, potensi turun di kaki bukit di mana-mana. Selain bagaimana, bikin kompetisi bagus.Itu membuat Anda blusukan mencari pemain?Nah, itu karena sistemnya tak ada saya berinovasi dan berkreativitas. Kalau saya menunggu, bagaimana jadinya. Pada awal 2011 saya mau melatih tim nasional disodorkan 60 pemain. Sekarang sisa cuma Ardianto tuh, satu orang.Saat itu kita juga gagal di Bangkok. Setelah saya rombak, cari-cari pemain terbaik, menang pada beberapa kejuaraan. Dua kali membantai Pakistan 27-0 dan Libanon, mengalahkan Arab Saudi 2-0, menahan UEA 0-0. Itu tak pernah di ekspos orang, kalau sekarang sudah tak bisa dibendung lagi.Kita harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita jangan takut kalah, nanti semua akan salah. Contoh, sekarang orang asing dikasih semua fasilitas gaji tinggi, terus anak negeri tidak. Di mana cara berpikir kita. Saya mau tunggu bagaimana pelatih asing nanti, apa fasilitas dia, harus disamain dengan saya. Jangan dibeda-bedain, mau apa tidak dia. Kalau tidak mau usir saja karena masih banyak pelatih-pelatih di Indonesia. Kapan kita mau belajar. Bagaimana soal rasa tidak percaya diri?Itu karena kita tidak pernah yakin berdiri di kaki sendiri. Kita semua sudah tahu, tapi tidak ada yang menyuarakan. Saya sudah dari dulu sebelum masuk PSSI. Sekarang saya tegas tidak mau jadi asisten Blanco. Kalau tidak, dia jadi asisten saya kalau mau. Sekarang kita bandingkan mana lebih tahu sepak bola Indonesia, dia atau saya. Silakan PSSI memilih. Orang asing lebih menguasai, itu enggak mungkin.Separah itukah kondisi kita sekarang ini?Itu dia, kita bodoh tapi bisa belajar, telinga dua. Kita bisa mendengar dari orang, banyak sumber-sumber ilmu. Ilmu dasar sepak bola di seluruh dunia sama. Periodesasi sepak bola di seluruh dunia sama. Sekarang saya didorong belajar ke luar negeri, ngapain. Mending saya kasih duit orang Indonesia. Fokus latihan di Batu, Malang. Lebih enak latihan di Indonesia. Cuaca lebih bagus dan bisa jadi hiburan masyarakat.Ini mungkin pertama-tama buat kita. Walau nanti kita gagal lolos ke Piala Dunia, tapi jadi momentum kebangkitan kita. Kemarin saya sudah katakan kepada PSSI, anak-anak kelahiran 1997 sudah dikumpulkan untuk Tim Nasional U-19. Dua tahun ke depan sudah kita persiapkan.Seperti apa kebangkitan sepak bola Indonesia saat ini?Sudah mulai bangkit, tapi memang butuh waktu. Tapi PSSI masih kurang SDM dan orang-orang berkomitmen. Selama ini kebanyakan duitnya dulu.