Langkah dini Bakrie pajang diri

Penetapan Bakrie sebagai calon presiden menimbulkan konflik dalam Partai Golkar.

Islahudin
Oleh Islahudin - Reporter
Langkah dini Bakrie pajang diri
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, calon presiden. (merdeka.com/arie basuki)

Partai Golongan Karya (Golkar) melangkah lebih dini menetapkan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden 2014 awal Juli lalu. Meski, konon pencalonan Ical, sapaan gaul ketua umum partai, itu menimbulkan perpecahan karena dianggap tidak terbuka. Tetapi Ical tetap percaya diri. Buktinya, wajahnya sering muncul dalam iklan televisi, mengusung nama ARB (Aburizal Bakrie).Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan deklarasi pencalonan Bakrie justru kian menunjukkan konflik internal Partai Golkar. “Kali ini Partai Golkar kesulitan menyepakati tokoh calonnya, padahal sebelumnya, sebelum deklarasi sudah ada nama calon presiden diusung,” ujar Zuhro saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya Kamis malam pekan lalu. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mulanya mendukung pencalonan Ical asal disepakati semua kader dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Mei lalu. Namun ketika pertemuan itu berlangsung Juli lalu, Akbar merasa Bakrie hanya ditunjuk oleh Dewan Pimpinan Daerah I (Provinsi) dan tidak melibatkan DPD II tingkat kabupaten atau kota.Suara partai terbelah dua dalam pencalonan Bakrie. Hal itu menunjukkan dinamika baru dalam Partai Golkar setelah 1999. Menurut dia, sejak 1999 Partai Beringin ini ingin beralih menjadi partai modern. Itu bisa dilihat dengan adanya konvensi calon presiden dari Golkar pada 2004 dan terbukti mengusung pasangan calon presiden Wiranto dan Salahuddin Wahid.Pencarian calon melalui jalur konvensi itu ternyata tidak berlanjut pada pemilu berikutnya. Ketika Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi ketua umum partai periode 2004-2009 menghilangkan sistem konvensi itu dan mengusung dirinya berpasangan dengan Wiranto menjadi calon presiden.Bagi Siti Zuhro, pencalonan Bakrie mengulang hal sama, yakni Partai Golkar mengusung ketua umumnya sebagai calon presiden untuk 2014. Padahal, menurut dia, tidak satu suara dalam pencalonan Bakrie itu justru membahayakan bagi Partai Golkar. “Jika internal saja masih tidak sepakat, bisa menjadi peluang bagi pesaing menjadikan itu sebagai amunisi serangan. Mestinya Partai Golkar solid karena guncangan jelang pemilihan semakin tinggi,” katanya.Apalagi pekan lalu, Akbar mengirim surat kepada Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar meminta evaluasi atas elektabilitas Bakrie untuk Pemilu 2014. Siti Zuhro menilai sulit menebak apa maksud surat itu, apakah hanya mengingatkan atau justru kian menunjukkan guncangan dalam Partai Golkar.Menurut dia, wajar saja jika Akbar mengkritik pencalonan Bakrie. Selain dianggap tidak melalui prosedur partai, elektabilitas Bakrie dalam berbagai hasil survei calon presiden versi pelbagai lembaga selalu di bawah nomor tiga alias tidak meyakinkan.Setidaknya, langkah dini Bakrie menjadi pelajaran berharga buat Golkar segera berevaluasi.

Rekomendasi