Redam asmara pendam rahasia

Livni langsung kawin setelah keluar dari Mossad.

Faisal Assegaf
Oleh Faisal Assegaf - Reporter
Redam asmara pendam rahasia
Mantan agen Mossad Tzipi Livni. (theurbn.com)

Setelah setengah tahun mundur dari politik, awal bulan ini, nama Tzipi Livni menghiasi berita utama pelbagai media di seantero negara Arab. Bukan lantaran dia kembali ke ranah yang pernah membesarkan namanya, tapi tudingan skandal seks saat ia menjadi agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Mantan ketua Partai Kadima ini sempat menjadi pemimpin oposisi setelah tidak berhasil membentuk pemerintahan koalisi selepas pemilihan umum Februari 2009. Jabatan perdana menteri akhirnya direbut oleh Benjamin Netanyahu yang berhasil menggandeng pemimpin Partai Yisrael Beitenu Aviddor Lieberman dan Eli Yishai dari Partai Shas. Tuduhan itu dilontarkan surat kabar independen paling berpengaruh di Mesir, Al-Masri al-Yaum. Dalam berita utama mereka, Koran ini menulis judul "Livni: Saya pernah bercinta dengan tokoh-tokoh Arab buat konsesi politik."Surat kabar the Times of Israel melaporkan berita itu kontan saja menghebohkan. Dalam sehari, selentingan soal bekas ketua Partai Kadima itu disebar 20 ribu orang lewat media sosial Facebook dan mendapat 1.800 tanggapan melalui Twitter.Harian Mesir itu mendasarkan berita mereka pada hasil wawancara Livni dengan koran the Times of London tiga tahun lalu. Ketika itu Livni mengakui pernah berpacaran, namun dia membantah pernah berhubungan seks buat memuluskan tugasnya. "Tapi jika saya diminta untuk melakukan itu, saya tidak tahu apa yang akan saya katakan," ujar L, nama samaran Livni semasa bertugas di Mossad.Orang-orang dekat Livni menyebut berita itu sangat tidak berdasar. "Ada pihak-pihak yang takut Livni kembali ke politik karena dia bisa membuat Israel kuat secara domestik dan internasional," ujar sumber-sumber itu.Livni yang ketika itu berusia 22 tahun bekerja sebagai agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Gadis dengan kode “L” ini merupakan anggota Bayonet, unit paling elite dalam Mossad yang bertugas sebagai pembunuh. Pada 1982, ia menjalankan misi rahasia di kota mode Paris, ketika ketegangan antara Israel dan Libanon sedang meningkat. Di kota ini pula banyak hidup para pejuang Palestina.Bagi L, bekerja sebagai agen rahasia ibarat hidup dalam dua dunia. Ia mesti menjalani kehidupan normal saban hari namun mesti mengunci rapat identitas dirinya dari orang lain, bahkan dengan keluarga terdekat. Ayahnya, Eitan Livni, yang mengunjungi ia di Paris sempat heran lantaran tidak pernah melihat putrinya ke kantor.Tapi L menikmati profesinya itu. “Anda dipenuhi adrenalin sepanjang waktu namun saya kehilangan semua spontanitas saya. Anda harus selalu fokus dan penuh perhitungan,” katanya. Sarjana hukum dari Universitas Bar Ilan, Tel Aviv, ini pun tidak ragu membunuh atas nama tugas negara.Namanya juga gadis normal. L pun tidak dapat menyembunyikan hasrat seksualnya. Ia merasa kesepian hidup di Paris yang dikenal sebagai kota romantis. Hanya saja ia sadar tidak bisa membina hubungan serius yang memerlukan kejujuran. Meski begitu ia sempat berpacaran meski hanya sebentar. “Seperti memaksa diri Anda tidak mabuk agar bisa mengontrol lisan,” katanya.L pun keluar dari Mossad pada 1984 setelah bergabung selama empat tahun. Ia menikah dan telah dikaruniai dua putra, Omri dan Yuval. Pada 1996, ia mulai terjun ke politik melalui Partai Likud yang berhaluan keras. Ia juga ikut pindah ke Kadima saat mantan perdana Ariel Sharon mendirikan partai baru itu.Livni kini telah merdeka, bebas memuaskan gairah bercinta.

Rekomendasi