Jenis buah rambutan terbaik dikenal masyarakat Jakarta adalah rambutan Aceh. Varietas rambutan saat dimakan daging buahnya bisa didapatkan utuh dan terpisah dari bijinya dan tentu rasanya manis. Lebak Bulus adalah lokasi rambutan ditanam pertama di Jakarta.Itulah penuturan Salam, 77 tahun, warga asli Lebak bulus yang tinggal di Jalan Lebak Bulus III Nomor 8, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Salam mengenang saat masih kecil hampir di semua bantaran Sungai Grogol yang melewati Lebak Bulus ditanami rambutan. “Dulu di Pasar Senen, rambutan terbaik berasal dari Lebak Bulus,” kata Salam saat ditemui merdeka.com, Senin lalu. Kendati Salam sudah tinggal selama 77 tahun di Lebak Bulus, dia belum pernah mendengar muasal nama kampungnnya. Yang dia tahu, sejak lahir nama Lebak Bulus sudah ada. Namun dia memperkirakan banyaknya Lebak atau lokasi tanah lebih rendah dari aliran sungai dan di situ terdapat banyak kura-kura kecil yang bisa hidup di air tawar dan air laut.Sama dengan kampung-kampung lainnya di Jakarta Selatan, Lebak Bulus adalah kawasan dirimbuni pepohonan. Salam menuturkan rimbunan pohon di Lebak Bulus berakhir hingga 1960-an. Sejak dimulainya proyek jalan Fatmawati pada era Presiden Soekarno.Menurut Salam, Pohon kemiri mendominasi Lebak Bulus. Banyaknya hutan kala itu membuat kawasan itu menjadi sejuk. Namun, di balik hembusan udara segar itu, terdapat bahaya mengintip. “Kalau malam banyak perampok dan bersembunyi di hutan,” ujar Salam. Tidak sampai di situ, dari cerita Salam, sebelum dibukanya Jalan Fatmawati, jalan di sekitar Lebak Bulus adalah jalan becek. Kebanyakan yang lewat gerobak ditarik sapi. Salam masih ingat soal Gudang Susu, nama tempat di Lebak Bulus. Sekitar 1940-an, Salam sudah memasuki Sekolah Rakyat di wilayah perbatasan Lebak Bulus dan Pondok Labu. “Ada orang namanya Ricardus, dia kepala Gudang Susu, tiap pagi bagi susu kepada anak-anak sekolah,” kata Salam. Susu dalam bentuk drum didatangkan langsung dari Amerika Serikat. Dia tidak tahu alasan susu itu dibagikan gratis tiap ke sekolah. Apalagi yang ikut memasak penduduk sekitar. Lebak Bulus mulai ramai sebagai permukiman sekitar 1960-an. Dia mengenang faktor penting berpindahnya penduduk ke Lebak Bulus sejak dibukanya Jalan Fatmawati, disusul Rumah Sakit Fatmawati, stadion, dan terminal.