Setiap datang truk bertulisan Hotel Indonesia, anak-anak di sekitar Velbak akan segera menyerbu tumpukan sampah telah ditumpahkan. Mereka berebut memilah sampah-sampah dianggap layak pakai atau pantas jual.Mulai dari handuk, bungkus rokok, pecahan kaca, hingga piring dan gelas masih bisa dipakai. Oleh mereka, kemasan rokok biasanya akan digunakan untuk bermain dan taruhan. Sedangkan pecahan kaca bakal dijual kepada pengepul barang bekas. Piring dan gelas kotor akan dibawa ke rumah dan dibersihkan, meski ada cacat sedikit di sana-sisni.Itulah suasana Velbak pada 1960-an seperti tuturkan Darwawan, 56 tahun, Ketua Rukun Tetangga 01/02 Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Velbak sebagai pembuangan sampah tidak dianggap sebagai sumber masalah, malah ladang uang. “Pemulung kawasan Velbak dulu orang-orang sekitar pembuangan sampah,” kata Darmawan saat ditemui merdeka.com pada Kamis siang pekan lalu.Darmawan bersama teman-teman sebanyanya juga ikut memulung barang bekas di Velbak. Bukan karena tidak diberi uang oleh orang tua mereka, namun buat senang-senang. Velbak saat dia kecil masih jarang penduduk. Rata-rata rumah berpekarangan luas dan tiap keluarga memiliki kebun. Darmawan mengaku dari keluarga berkecukupan, tapi dia tidak pernah gengsi berenang di Kali Grogol. Kadang orang tuanya mengajak dia berenang di Senayan. Walau tinggal di tempat pembuangan sampah, namun, menurut Darmawan, warga sekitar tidak membuang sampah di sana. Saban rumah membikin lubang buat menimbun sampah. Mereka juga tidak membuang sampah ke Sungai Grogol. Sehingga airnya tetap jernih dan bisa dipakai buat mandi dan berwudu. Tempang pembuangan sampah Velbak ketika itu seluas 1,5 hektare. Arealnya dari tembok kompleks Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan hingga bantaran Kali Grogol yang sekarang membatasi kelurahan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama. “Bayangkan, tidak begitu luas kan,” ujar Darmawan. Jika sudah menumpuk, sampah-sampah di Velbak dipindah ke daerah lebih rendah.Darmawan mengungkapkan warga Velbak juga sehat meski tinggal dekat lokasi pembuangan samapah. Rata-rata bisa hidup di atas 70 tahun. Sebab, masa itu sirkulasi udara masih bagus dan permukiman belum padat. Perlahan, permukiman di Velbak kian ramai. Lokasi pembuangan sampah dipindah ke Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Sayangnya, perubahan itu diikuti pergantian kebiasaan masyarakat yang kini tidak lagi peduli kebersihan. “Meski zaman sudah berubah, mestinya kesadaran lingkungan harusnya tetap sama,” ujar Darmawan.