Rombongan jamaah memasuki area pengajian yang akan berlangsung di Mushala Annur, Kemayoran, Jakarta Pusat. Sebagian jamaah menggunakan pakaian hitam, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, remaja, dan orang tua. Lantuanan shalawat dari pengeras suara mengalun tiada henti sejak lepas maghrib, seperti menyambut jamaah datang.
Para pedagang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Mereka dagangan kepada jamaah yang lalu-lalang. Terkadang ada yang berhenti menawar, juga banyak yang cuek.
Salah satu pedagang yang mencoba mencari untung adalah Nurjayadi. Sejak pukul empat sore, ia sudah menggelar lapak. Semua barang dagangan ia angkut dengan gerobak. Meski boleh dibilang tidak telat, posisi strategis untuk berjualan sudah penuh. Ia terpaksa berjualan di atas trotoar. Meski begitu, dia tidak menyesal. Nurjayadi mengaku datang dari kawasan Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. “Kalau mau dapat lokasi yang bagus, harus datang ke lokasi minimal jam dua siang,” katanya.
Hanya Nurjayadi yang berdagang dengan gerobak. Itu pun masih dilengkapi lampu yang dengan setrum dari aki miliknya. Sedangkan pedagang lainnya menggelar barang mereka di atas terpal plastik. Sebab itu, dia tidak perlu repot merogoh uang infak kepada panitia sebagai imbalan lampu dan fasilitas lain yang dipakai. Sudah dua tahun Nurjadi hinggap dari satu lokasi ke lokasi pengajian lainnya di seantero Jakarta. Sebelumnya, selama lima tahun, dia bersama istri dan dua anak mereka datang hanya buat mengaji. Alasannya, dia ingin menuntut ilmu dan mengenalkan Islam kepada kedua anaknya. “Nanti dengan sendiri anak juga suka dengan shalawat-shalawat itu, kalau sudah suka pasti dia akan tanya sendiri kepada kita. Itu lebih bagus dari pada anak nyanyiin lagu macam Goyang Dombret,” ujarnya.
Ketika shalawat pembuka mengalun, rokok yang masih mengepul dimatikan. Mulutnya ikut merapal dengan suara perlahan sambil duduk bersila. Kopiah berwarna gelap ia rapikan, kemudian kedua dia tengadahkan setinggi dada. Lamat-lamat, suara shalawat bergema dari mulut para pedagang, bersatu dengan jamaah lainnya. Dia sedikit tersinggung saat merdeka.com mengajak berbincang lagi. “Ente tahu orang paling pelit di dunia ini, kata Nabi?” dia bertanya. “Mereka mendengar namaku, namun tidak ikut menyebutku, kata Nabi.”Hampir setengah jam pengajian sudah berlangsung, belum ada pembeli datang. Tapi ia yakin bakal ada sorban, buku shalawat, jaket, DVD dan CD shalawat, kopiah, tasbih, dan lain-lain yang akan laku. “Kalau memang rizki akan dapat juga,” ujarnya. Nurjayadi mengaku membeli barang-barang kulakan dari Majelis Ahbaabul Musthofa yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf yang bermarkas di Semanggi Kidul, Surakarta, Jawa Tengah. Sekali lagi, dia menolak membuka penghasilannya.
Lantunan shalawat diiringi marawis kembali bergema. Dia kembali ke posisi sebelumnya. Bersila sambil mengangkat kedua tangan dengan lisan ikut bergoyang. Lewat pukul 11 malam, pengajian usai. Nurjayadi pun bergegas merapikan dagangan dan segera pulang. Tapi ia berjanji dalam hati akan kembali bersama gerobaknya buat menikmati pesona sang habib.