Mission Impossible Garuda Indonesia

Mission Impossible Garuda Indonesia Hanggar baru Garuda Indonesia. ©2015 AFP PHOTO/ROMEO GACAD

Merdeka.com - Rapat yang cukup melelahkan di Gedung DPR RI, Selasa 9 November 2021. Berakhir jelang malam. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra berjalan keluar ruangan. Masih tetap tersenyum meski persoalan berat di pundaknya. Pemerintah menilai, perusahaan yang dipimpinnya secara teknis sudah disebut bangkrut.

Garuda Indonesia babak belur. Bukan hanya di luar karena utang yang membesar, tapi juga di internal perusahaan. Karyawannya sudah tidak lagi mendapat gaji penuh. Termasuk sang direktur utama. Karyawan yang gajinya tidak terlalu besar, potongannya hanya 30 persen. Sedangkan yang bergaji jumbo, potongan bisa mencapai 50 persen.

"(Gaji) Gua dipotong 50 persen," kata Irfan saat berbincang dengan merdeka.com pekan lalu.

Buru besi berlogo Garuda Indonesia mulai jarang menghiasi langit. Sudah banyak pilot yang dirumahkan. Mengingat jumlah pesawat yang beroperasi tak sebanyak sebelum Pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Tapi beban operasional tidak berkurang. Kondisi ini dibicarakan Irfan secara terbuka dengan karyawannya. Setiap bulan, selalu ada pertemuan antara manajemen dengan karyawan.

"Tapi kita bicara baik-baik kok. Semuanya kan terjadi pandemi. Mau nyalahin gua boleh juga sih," kata Irfan.

Dibuka opsi pensiun dini. Karyawan berhak mengajukan. Setelah itu dibicarakan kesepakatan dua belah pihak. Opsi lain, tawaran cuti di luar tanggungan. Opsi yang muncul karena keadaan. Irfan mengakui, demi mengurani beban. "Pokoknya dia cuti kita tidak bayar. Oke jadi beban gua kurang."

Berbagai misi penyelamatan di internal sudah dijalankan. Salah satunya efisiensi. Bukan hanya gaji yang dipotong. Jumlah karyawan juga dipangkas. Jumlahnya, ribuan. Tapi belum juga menolong Garuda.

Garuda Indonesia tercekik utang hingga USD9,78 miliar. Jika disetarakan dengan mata uang rupiah, sekitar Rp140 triliun. Utang tersebut melibatkan 800 kreditur. Hingga akhirnya, Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo menyebut Garuda secara teknis sudah bangkrut. Pernyataan itu terdengar ke telinga karyawan Garuda Indonesia. Sangat disayangkan.

"Mereka itu di Kementerian tugasnya mencari solusi Garuda tetap ada. Kalau cuma berbicara untuk failed tidak usah wamen, cleaning service pun bisa," ucap Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda Indonesia, Tomy Tampatty.

Beban utang masa lalu dituding menjadi biang kerok. Ditambah, pandemi Covid-19. Membuat lilitan utang Garuda Indonesia semakin mencekik. Manajemen Garuda masih yakin. Badai dan turbulensi segera berlalu.

Utang terbesar berasal dari kewajiban pembayaran sewa pesawat kepada lessor atau perusahaan penyewaan pesawat. Nilainya USD6,3 miliar.

"Bisa. Sudah tenang saja. Loe percaya sama Gua," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra.

Dalam paparan di Komisi VI DPR, Irfan menjelaskan, saat ini manajemen Garuda tengah menempuh jalan restrukturisasi sebagai langkah penyelamatan. Salah satunya dengan melakukan renegosiasi kontrak penyewaan pesawat dengan para lessor. Ini yang dianggap paling sulit. Setidaknya ada 32 lessor yang harus dinegosiasi pihak Garuda. Padahal, maskapai lain rata-rata hanya melibatkan tiga sampai empat lessor saja.

Dalam proses renegosiasi itu, ada beberapa lessor yang memang telah mengikhlaskan utangnya untuk tak dibayar. "Ada juga lessor yang menyampaikan saya tarik pesawatnya, sudah deh utang kamu ke saya saya lupakan," kata Irfan.

Misi Penyelamatan Garuda

Seorang pejabat di lingkaran Istana pun menegaskan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kepala Negara ingin Garuda diselamatkan. Jokowi tak setuju jika Garuda ditutup lalu diganti Pelita Air.

"Jokowi akan fight, pertahankan Garuda," kata sumber itu.

Stafsus Presiden bidang ekonomi, Arief Budimanta menolak komentar soal sikap Jokowi tentang Garuda. Menurut dia, hal itu lebih baik ditanyakan kepada Kementerian BUMN.

Garuda Indonesia layak diselamatkan. Semua pihak harus mempertimbangkan di luar sisi bisnis Garuda Indonesia. Salah satunya nilai sejarah dan kebanggaan sebagai maskapai pelat merah.

Garuda memberikan kontribusi besar kepada negara sejak awal kemerdekaan. Garuda Indonesia adalah bentuk rasa nasionalis masyarakat Aceh yang menyumbang hartanya kepada presiden pertama untuk pembelian pesawat. Pesawat itulah menjadi cikal bakal dari Garuda Indonesia.

"Maka dari itu kami mengatakan bahwa nilai utang itu kecil dibandingkan nilai historikal yang begitu besar," ucap Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda Indonesia, Tomy Tampatty.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra yakin jika kerja keras dilakukan, Garuda bisa diselamatkan. Selain renegosiasi kontrak penyewaan pesawat dengan lessor, manajemen juga melakukan restrukturisasi keuangan Garuda. Termasuk pemotongan gaji karyawan. Negosiasi dengan kreditur. Menutup rute tak menguntungkan. Hingga pengurangan jumlah pesawat. Apapun harus dilakukan demi melihat Garuda kembali terbang tinggi.

"Gini lah, Loe kalau punya utang Rp1 miliar, gaji Loe cuma Rp10 juta, Loe technically mati sudah kan. Tapi kalau masih hidup, terus berarti yang satu mereka tidak ngotot. Kedua, Loe kerja keras. Ketiga, Tuhan mungkin masih kasihan," kata Irfan.

Irfan berjanji mengembalikan bisnis Garuda ke jalan yang benar. Misi yang tidak mudah. Dia harus fokus misi penyelamatan Garuda. Atas alasan itu, Irfan tak mau menanggapi analisis pengamat di luar. Dia mengganggap para komentator tersebut tak tahu persis yang terjadi di dalam manajemen Garuda.

"Gua mau kerja. Apalagi menanggapi para komentator yang cari panggung," tegas dia.

Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade sepakat dengan rencana restrukturisasi keuangan. Dia sekaligus mendorong agar penyelesaian Garuda tidak menggunakan APBN. "Bicara negosiasi kan minimal kalau tidak bisa dibantu APBN modal kerjanya dibantuin. Nanti kita bicarakan lah," kata Andre.

Namun koleganya di Komisi VI, Herman Khaeron tak setuju dengan pandangan Andre soal penyelamatan Garuda tanpa dana talangan dari uang negara. Apalagi Garuda adalah maspakai milik negara. Mau tidak mau harus mendapatkan penyelamatan dari negara melalui APBN. Dia mencontohkan Singapura yang mengeluarkan dana segar ratusan triliun untuk menyelamatkan maskapai Singapore Airlines.

"Negara harus memberikan jaminan kepada Garuda Indonesia. Untuk Jiwasraya saja sudah mengeluarkan Rp22 triliun. Masak tidak bisa menyelamatkan Garuda," tutur Herman.

Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda Indonesia, Tomy Tampatty sepakat, suntikan modal kerja melalui penyertaan modal negara (PMN) tetap dibutuhkan. Mengingat imbas selama pandemi atau sekitar 2 tahun, Garuda Indonesia tidak produktif.

Dalam paparan di Komisi VI DPR, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan detil langkah penyelamatan Garuda. Setidaknya, ada lima hal yang bakal dilakukan untuk perbaiki neraca keuangan Garuda.

Pertama mengoptimalkan rute network perseroan. Dimana rute-rute Garuda direfocusing ke rute domestik secara masif. Rute internasional dikurangi secara signifikan. Kecuali kargo dengan volume besar. Garuda juga tidak lagi melayani rute Amsterdam dan London.

"Garuda harus untung, tidak ada cerita tidak untung. Dan kita tahu kok bikin untung. Kita tahu. Tidak usah gaya-gayaan saja. Selama ini terdesak untuk tidak bikin untung karena banyak tekanan untuk buka rute," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra.

Kedua menurunkan jumlah pesawat Garuda dan Citilink dari 202 pesawat di 2019 menjadi 134. Kemudian menjadi 188 di 2026. Ketiga melakukan negosiasi ulang kontrak sewa pesawat yang akan digunakan oleh perseroan. Tujuannya, untuk menyesuaikan biaya sewa pesawat dengan market rates saat ini.

Keempat meningkatkan kontribusi pendapatan kargo melalui peningkatan utilisasi belly capacity dan digitalisasi operasional. Kelima meningkatkan kontribusi pendapatan anciallary melalui produk unbundling, ekspansi produk yang ditawarkan dan penerapan dynamic pricing strategy.

Proses Restrukturisasi

Pemerintah juga mengungkap strategi restrukturisasi yang bakal dilakukan. Dia memahami untuk menyelamatkan Garuda harus menurunkan aksesibilitas secara sama-sama dengan cara melakukan negosiasi leasing. Kuncinya komunikasi dengan kreditur.

Sebab, tanpa persetujuan kreditur, tidak mungkin pemegang saham bisa bergerak. Nasib Garuda bukan hanya di tangan para pemegang saham, tapi juga di tangan krediturnya. Kreditur-kreditur seperti para lessor dan bank termasuk bank BUMN serta Pertamina memahami kondisi keuangan Garuda yang sedang sakit. Kreditur pun menerima harus ada pengurangan utang yang signifikan.

Kurangi Utang

Utang Garuda harus ditekan. Tiko menargetkan, dari USD9,78 miliar menjadi USD3,69 miliar. Ini perlu rumusan besar. Pertama untuk utang pajak dan karyawan yang harus segera diselesaikan. Kemudian, bagi para perusahaan BUMN, seperti Pertamina dan Airnav, pihaknya menawarkan zero kupon bond.

"Jadi misalnya utangnya Rp1 triliun kita isu minimalnya Rp200 miliar mungkin 20 tahun lagi akan mencapai Rp1 triliun. Sehingga secara nominal value tidak berkurang," jelas Tiko.

Kemudian untuk sukuk, LPI dan bank swasta, pihaknya mengajukan new dengan kupon yang rendah dan juga dengan ekuitas kombinasi. Harapannya mereka langsung ke ekuitas Begitu juga dengan AP1 dan AP2. Karena sistem perusahaan, pemerintah ingin convert menjadi ekuitas jangka panjang.

Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade berjanji mengawal pembenahan yang dilakukan Kementerian BUMN khususnya persoalan Garuda. Menurut dia, sejauh ini Kementerian BUMN di bawah Erick Thohir sudah on the track. Kementerian BUMN sudah mengambil langkah tegas dalam rangka pembenahan di sejumlah BUMN. Contohnya di kasus Jiwasraya.

"Harusnya dengan pembenahan ini ya diharapkan hal-hal yang bermasalah ini sudah tidak ada lagi," kata Andre.

Penulis: Wilfridus Setu Embu, Dwi Aditya, Ronald, Randy Firdaus, Harwanto Bimo [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini