Jasa Ekspedisi di Masa Pandemi

Menyusuri Jalan Hidup Kurir Ekspedisi

Jumat, 24 September 2021 07:04 Reporter : Henny Rachma Sari
Menyusuri Jalan Hidup Kurir Ekspedisi Kurir jasa ekspedisi selama pandemi. ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Tangannya terampil menyusun barang-barang di atas motor. Satu per satu bungkusan besar diikat. Agar tak terjatuh saat motor melaju kencang. Semua paket pesanan tak boleh ada yang tertinggal. Meski kondisi motor jauh dari kata nyaman. Bahkan mengancam keselamatan.

Bermodal motor, Achmad bersiap menjalani hari. Berangkat dari gudang perusahaan jasa ekspedisi. Terbayang rute yang akan dilalui. Menyusuri jalanan mulus ibu kota. Hingga berhimpit di gang sempit. Pesanan paket harus sampai ke tangan penerima, hari itu juga.

Pandangannya tajam melihat daftar paket yang harus diantar. Di masa awal Pandemi, paket didominasi alat kesehatan. Bagi Achmad, paket itu yang harus diprioritaskan. Segera mungkin sampai kepada yang membutuhkan.

"Begitu melihat invoice, paket kebanyakan obat-obatan, vitamin sama barang-barang besar," ucapnya membuka perbincangan dengan merdeka.com, awal September 2021.

infografis jasa kurir di masa pandemi
©2021 Merdeka.com/Grafis: Amar Choiruddin

Terbesit rasa khawatir. Tapi dibuang jauh. Tanggung jawab pekerjaan dan rasa kemanusiaan lebih besar dari ketakutan tertular virus Covid-19. Terbayang para pemesan paket yang membutuhkan obat-obatan. Kondisi yang meneguhkan Achmad tetap bekerja di luar meski Pandemi Covid-19 menghantam. Ancaman penularan virus nyata.

"Ya saya bismillah saja. Niat membantu juga. Semoga tidak tertular," batinnya kala itu.

Roda motor menggelinding di jalanan. Pagi yang tak seperti biasanya. Jalanan begitu sepi di awal masa Pandemi. Nyaris hening. Suara bising knalpot hanya terdengar samar-samar. Banyak rolling door tertutup rapat. Menandakan toko-toko tidak beroperasi. Di sisi jalan, hanya satu gerobak jajanan. Padahal biasanya, sepanjang tepi jalan berjejer gerobak dengan beragam kudapan yang ditawarkan.

Pria 42 tahun itu menyemangati diri sendiri. Tak ingin membayangkan kelelahan yang bakal dirasakan. Sebab hari itu, 200 paket harus dikirimkan. Jumlahnya di luar keadaan normal. Dia paham betul jenis paket yang harus diprioritaskan.

"Itu waktu awal-awal Covid-19. Kayanya orang-orang lagi panik."

kurir jasa ekspedisi selama pandemi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Sudah lima tahun Achmad menjalani hari sebagai kurir jasa ekspedisi. Masa Pandemi dirasa paling berat. Semakin banyak masyarakat berbelanja online membuat gudang jasa ekspedisi penuh. Achmad dan kurir ekspedisi lain dituntut bekerja ekstra. Paket yang diantar dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.

Dalam sehari, kurang lebih 10 jam Achmad duduk di atas motor. Panas dan hujan tak jadi soal. Dia menyambangi satu per satu alamat penerima paket.

"Sebelum pandemi, antar paket 100. Sekarang menyentuh 200 paket," ucapnya sambil tersenyum.

Direktur Utama PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau lebih dikenal JNE, Mohammad Feriadi mengamini. Dia memotret perubahan perilaku masyarakat di tengah Pandemi. Imbauan untuk di rumah saja membuat segala kebutuhan rumah tangga hingga urusan perut dilakukan secara online.

Feri tak menampik terjadi peningkatan arus pengiriman barang selama masa pandemi. "Peningkatan ada tapi mungkin tidak terlalu banyak. Sekitar 20 persen," jelas Feri.

kurir jasa ekspedisi selama pandemi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Bertambahnya jumlah paket yang harus dikirim tak berbanding lurus dengan rupiah dikantongi. Achmad bersama rekan-rekan sudah meminta kompensasi di masa Pandemi. Namun seluruh daya upaya berujung aksi gigit jari. Tapi dia bersyukur, masih menerima upah minimum sesuai keputusan pemerintah.

"Susah juga sih, karena kita kan statusnya mitra bukan pegawai," curhat Ahmad.

Hanya satu yang disyukuri. Dapur rumah masih mengebul. Anak-anak tak kehilangan hak pendidikan. Achmad masih bisa menyekolahkan anaknya.

"Tolong fokus saja rawat dan didik anak-anak. Soal uang serahkan sama saya," pesan Achmad kepada istrinya, sambil tersenyum.

Upah Harian

Sebagai seorang kurir, Hakim hanya diberi jatah libur satu hari dalam sepekan. Setiap hari, dia harus menempuh puluhan kilometer dari rumahnya ke kantor ekspedisi di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur. Dia diharuskan mengisi absensi kehadiran pukul 08.00 Wib.

Tiba di kantor, Hakim disambut tumpukan paket yang menjadi 'jatahnya' hari itu. Paket-paket tersebut sudah disiapkan pegawai bagian prosesing. Dia berhitung. Ada sekitar 100 paket. Biasanya, Hakim mengantarkan dalam tiga fase waktu. Pengantaran pertama jam delapan pagi. Lalu dia kembali pukul 12 siang untuk pengantaran kedua. Pengantaran terakhir jam 3 sore. "Pokoknya jam 8 malam saya sudah selesai."

paket konsumen e commerce di masa pandemi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Meski sama-sama berstatus mitra perusahaan jasa ekspedisi, namun nasib Hakim berbeda dari Achmad yang sudah menerima upah minimum. Hakim dibayar upah harian. Dalam satu hari kerja, dihargai Rp125.000. Ditambah Rp500 untuk setiap paket yang diantar. Dia tak mengenal upah minimum.

"Hitung saja Rp125.000 ditambah per paket Rp500, dikali 26 hari kerja. Itu pemasukan kami," kata Hakim.

Dia dan rekannya pernah melewati pengalaman buruk. Ketika perusahaan tak memberikan gaji atau upah selama dua bulan lamanya. Mereka menggelar aksi hingga akhirnya kewajiban perusahaan dipenuhi.

Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan, hanya 50 persen pegawai yang boleh masuk. Konsekuensinya paket menumpuk dan pengiriman terlambat. Sebagai buruh harian, kondisi ini berdampak pada rupiah yang masuk ke kantongnya. Bersyukur tidak berlangsung lama. Ketika PSBB dilonggarkan, Hakim kejar setoran. Mengganti upah harian yang sempat hilang.

"Saya lebih takut kelaparan sih," katanya.

kurir jasa ekspedisi selama pandemi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Salah satu perusahaan jasa ekspedisi, JNE menerapkan dua status untuk kurir. Ada kurir yang berstatus karyawan. Ada pula kurir yang bekerja dengan sistem kemitraan. Lebih dikenal jasa outsourcing. Tenaga outsourcing atau pihak ketiga biasanya digunakan JNE saat event tertentu. Contohnya Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Dari pengalaman selama ini, jumlah paket semakin banyak ketika Harbolnas.

"Kalau kita (kurir sudah) karyawan. Tapi kita juga menggunakan tenaga-tenaga outsourcing," jelas Direktur Utama PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir.

Soal pengupahan, Feri menjelaskan, perusahaan rintisan ayahnya, Soeprapto Suparno ini sudah mengikuti aturan Upah Minimum Provinsi. Seperti anjuran pemerintah. Selain itu, ada insentif yang bisa didapatkan pegawainya. Tentunya berbasis produktivitas masing-masing.

"Insentif itu ada untuk mendorong karyawan agar lebih produktif," katanya.

kurir jasa ekspedisi selama pandemi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Sekjen Kemenaker Anwar Sanusi melihat fenomena para pekerja yang terdampak Pandemi, beralih profesi menjadi kurir jasa ekspedisi. Sistem kerja yang diterapkan kebanyakan kemitraan. Skemanya mirip outsourcing. Bedanya, tidak melalui perantara perusahaan outsourcing. Langsung antara pemberi kerja dan penerima kerja.

Sistem kemitraan dengan persoalan pekerja di dalamnya, sudah pernah dibahas antara Kemnaker dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Mengingat semakin banyak masyarakat yang bekerja di sektor ini.

Topik yang dibahas, skema jaminan sosial. Terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal seperti para kurir jasa ekspedisi hingga driver ojek dan taksi online. Anwar mengambil contoh saat hari raya Idul Fitri. Mereka tidak bisa menikmati Tunjangan Hari Raya (THR). Akibat sistem kemitraan yang diterapkan.

"Ini yang kami carikan solusi, bagaimana exit strateginya, exit policy-nya. Supaya mereka yang bekerja dengan sistem kemitraan juga bisa meningkat kesejahteraannya," tuturnya.

kurir jasa ekspedisi selama pandemi
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Pemerintah tidak segan untuk mencontoh sistem yang diterapkan di luar negeri. Termasuk regulasi yang dikeluarkan untuk bisa membantu peningkatan kesejahteraan pekerja sektor informal.

"Di luar negeri gimana mereka memberikan atau mengeluarkan treatment regulasi untuk para pekerja yang bekerja dengan pola-pola kemitraan tersebut," tutupnya. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini