Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menghindari gunung berkabut

Menghindari gunung berkabut Gunung Salak. (merdeka.com/Arie Basuki)

Merdeka.com - Anda tentu masih ingat peristiwa jatuhnya pesawat komersial Sukhoi Superjet-100 Rabu dua pekan lalu. Pesawat yang jauh-jauh didatangkan dari Rusia itu sedianya cuma pamer kebolehan tiga kali terbang di langit Indonesia dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Namun nahas, pada penerbangan kedua, Sukhoi dengan pilot Aleksandr Yablonstsev itu menumbuk tebing Gunung Salak yang dikenal berkabut. Sebanyak 45 penumpang tewas.

Lima belas tahun silam, 26 September 1997, nasib serupa juga dialami pesawat Airbus A300-B4 milik maskapai Garuda Indonesia. Pesawat bernomor penerbangan GA 152 ini menumbuk tebing pegunungan di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pegunungan kala itu juga diselimuti kabut. Insiden itu dianggap terbesar dalam sejarah kecelakaan pesawat di Indonesia lantaran korban tewas 234 orang.

Selama ini, Indonesia memang dikenal memiliki banyak gunung. Apalagi, gunung-gunung itu rata-rata berselimut kabut. Menurut pengamat penerbangan, Chappy Hakim, pegunungan di Indonesia memang menghambat. Cuma, dalam penerbangan sudah ada regulasi nasional dan internasional sempurna. "Aturan itu menjadi pedoman pilot. Bila dipatuhi, tidak ada celah atau alasan kecelakaan," kata dia ketika dihubungi, Kamis pekan lalu.

Hal itu dibenarkan juru bicara Kementerian Perhubungan Bambang S Irvan. Sebab itu, kini pegunungan bukanlah hambatan lagi. Kementerian misalnya, sudah menetapkan rute-rute penerbangan pesawat komersial kecil di kawasan Papua. Seorang pilot, kata dia, pasti mengenal peta-peta wilayah pegunungan yang menjadi perlintasan pesawat. Mereka juga pasti memahami bagaimana cara melintasi zona itu.

Misalnya, pemahaman tentang aturan penerbangan visual (VFR/Visual Flight Rules) dan aturan penerbangan instrumen (IFR/Instrumen Flight Rules). VFR adalah kondisi penerbangan dengan cuaca sedemikian rupa sehingga pesawat dapat mempertahankan jarak pisah aman lima kilometer dengan cara visual. IFR merupakan kondisi penerbangan bila jarak penglihatan di bawah batas yang ditentukan VFR. Biasanya, jaraknya dua kilometer.

VFR biasanya digunakan pada penerbangan pesawat kecil, sesuai aturan ketinggian terbang di bawah ketinggian gunung. Misalnya, pesawat-pesawat komersial berukuran kecil digunakan di Papua. Jarak pandang pilot dengan gunung di sana tidak boleh kurang dari lima kilometer kalau tidak ingin menyerempet punggung gunung. Dengan penerbangan visual seperti itu, pilot juga bisa melempar pandangannya ke luar kokpit untuk membaca tanda-tanda alam.

Sedangkan IFR biasanya digunakan pada pesawat komersial besar yang memiliki kemampuan terbang di atas gunung. Pesawat jenis ini biasanya dilengkapi perangkat navigasi berteknologi canggih. Pilot bisa mengandalkan petugas pengendali lalu lintas udara (ATC) di bandara. "Selama pilot mematuhi aturan, saya rasa sekarang gunung bukan penghalang lagi," Bambang menegaskan.

(mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP