Mengenal Diva Sandiwara Sunda Miss Tjitjih
Merdeka.com - Mungkin tak banyak orang mengetahui seni teater legendaris Miss Tjitjih. Hingga kini, panggung sandiwara dengan logat sunda itu masih terus eksis di tengah gerusan zaman. Siang baru saja beranjak saat merdeka.com menyambangi Gedung Kesenian Miss Tjitjih. Letaknya erada di tengah pemukiman padat penduduk kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Masuk melintasi sebuah gang muat kendaraan bermotor, di situ lah para seniman sunda itu berkumpul.
Gedung Kesenian Miss Tjitjih letaknya berada di Jalan Kabel Pendek Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat. Masuk di jalan itu, sebuah gapura bertuliskan'Gedung Kesenian Mis Tjitjih' menyambut bagi siapa saja yang ingin berkunjung. Sayang Gapura itu tertutupi rimbunnya pepohonan berada di sisi jalan sekitar cempaka baru.
Sarifah Rohmah, keturunan Miss Tjitjih menuturkan, keberadaan teater Miss Tjitjih sejatinya sudah ada sejak zaman Belanda. Tepatnya ketika mendiang neneknya menikah dengan Aboebakar Bafaqih, seorang Arab-Indonesia kelahiran Bangil, Jawa Timur. Suaminya yang dikenal sebagai pemilik sandiwara Keliling mengajak Tjitjih mengelilingi Sumedang hingga Jakarta untuk menampilkan kesenian sandiwara sunda. Ketika zaman Belanda, namanya lebih dikenal dengan sebutan 'Miss Tjitjih Toneel Gezelschap'.
"Sandiwara ini dibawa oleh nenek kami namanya Tjitjih," ujar Sarifah saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu. Dia menambahkan, sebelumnya tidak ada nama digunakan untuk memperkenalkan kesenian sandiwara sunda Miss Tjitjih. "Kalau dulu belum ada namanya,".
Saat berkeliling itu nama sandiwara Miss Tjitjih makin terkenal. Puncaknya tahun 1928, ketika menempati sebuah gedung di kawasan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Teater Miss Tjitjih makin terkenal. "kalau dulu di zaman Belanda namanya Tonil," kata Sarifah.
Tak lama menempati gedung di Jalan Keramat Raya, Miss Tjitjih kemudian pindah ke kawasan Angke, Jakarta Utara. Tepatnya tahun 1960. Namun ketika Gubernur DKI Ali Sadikin menjabat teater Miss Tjitjih dipindah ke kawasan cempaka baru sampai sekarang. Kini, asrama beserta gedung keseniannya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Dulu sebenarnya gedung ini hasil kerjasama Yayasan Jawa Barat dengan Pemprov DKI. Tapi sekarang gak tahu Yayasan Jawa Barat kemana ,jadi sekarang sepenuhnya milik Pemprov," tutur Omah, panggilan akrab Sarifah Rohmah menjelaskan.
Seiring berkembangnya zaman, semakin banyaknya para pendatang di Jakarta, kesenian sandiwara Miss Tjitjih mencoba bertahan. Salah satunya adalah penggunaan logat sunda merupakan ciri khas teater Miss Tjitjih setiap kali mengadakan pentas. Harga buat menonton seni sandiwara ini pun lumayan murah. Hanya Rp 10 ribu untuk sekali tonton. Hampir setiap dua minggu sekali, Miss Tjitjih selalu mengadakan pentas.
"Mungkin beda kalau dulu dengan sekarang. Ketika di Angke dulu, banyak yang nonton," kata Sarifah. Dia pun mengatakan akan terus mempertahankan kesenian milik mendiang neneknya sebagai salah satu budaya sunda. (mdk/arb)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya