Lia Eden. ©2012 Merdeka.com
Merdeka.com - Anda tentu masih ingat dengan sosok Lia Eden? Dialah perempuan kontroversial, pemimpin agama sesat kaum eden. Dalam syiarnya, perempuan kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1947, itu mengaku sebagai Jibril dan Mesias yang muncul di dunia sebelum kiamat. Dia juga mengaku sebagai reinkarnasi Bunda Maria, Ibu dari Yesus Kristus. Sedangkan anaknya, Ahmad Mukti mengklaim reinkarnasi Isa Almasih.
Pemilik nama kecil Lia Aminudin itu mengaku diutus oleh Tuhan melalui perantara Jibril. Dia menciptakan Istana Tuhan dan surga di rumahnya, Jalan Mahoni Nomor 30, Kelurahan Bungur, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Sebelum dipenjara karena tuduhan penistaan agama, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghapus agama Islam, pengikut Eden di Istana sebanyak 120 orang lebih. Lalu bagaimana sekarang?
Senin siang, 13 Agustus 2012 lalu, merdeka.com sempat mengunjungi Istana Eden. Di sana tidak tampak ada aktivitas ibadah lagi. Hanya tampak beberapa tukang bangunan sibuk merenovasi rumah dengan desain campuran; ukiran dinding khas timur tengah plus hiasan rumbai-rumbai kain dan lukisan.
Sementara di depan rumah dipajang hiasan bunga-bunga di sekitar taman kecil lengkap dengan kolam air mancur, kursi duduk, serta pura-pura kecil. Siang itu pintu gerbang selebar satu meter di samping kanan pagar rumah sudah terbuka. Sesekali seorang perempuan pengikut Eden keluar, memantau pekerjaan para tukang.
Ditemui merdeka.com, dia memasang wajah ramah, tersenyum lalu membungkukkan badan sambil menyapa salam. Laiknya pengikut Eden lain, perempuan yang menolak menyebut nama itu juga berpakaian serba putih; kaos putih ditutupi kain mori yang disilangkan di pundak sebelah kanan dan kiri.
"Maaf, kursinya kotor, sedang ada renovasi biar lebih nyaman," kata dia singkat. Sayang, ketika ditanya ihwal kondisi kelompok Eden kini, dia menolak bicara."Kalau anda mau nanya kondisi kami, bukan bagian saya menjawab. Silakan temui orang yang bagian komunikasi dengan dunia luar saja, Pak Abdul Rahman."
Setengah jam menunggu perempuan itu masuk ke Istana, akhirnya Abdul Rahman nongol juga. Abdul Rahman dulu mahasiswa Aqidah Filsafat IAIN (sekarang UIN) Jakarta yang sangat radikal. Dia juga seorang pelopor gerakan mahasiswa penentang Soeharto di pertengahan tahun 1990-an.
Setelah masa reformasi 1998, dia sempat andil di Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Kemudian dia berangkat ke luar negeri, mendalami ilmu filsafat. Sepulang dari sana, mulailah dia menggugat agama. Abdul Rahman juga seorang pencari ilmu.
"Saya sudah selesai dengan buku-buku. Sekarang agama sudah tidak relevan lagi dengan kondisi manusia. Agama malah membuat manusia tidak tenang dan saling benci. Makanya saya di sini," kata dia kepada merdeka.com.
Abdul Rahman juga dipenjara bersama Lia Eden ketika kasus penistaan agama mencuat pada 2007 lalu. Ketika Lia dipenjara dua kali, yakni 2 tahun dan 2,5 tahun, Abdul Rahman hanya dipenjara 3 tahun. Lalu bagaimana kondisi komunitas Eden kini? Dia menjawab."Kami bisa disebut komunitas. Sekarang yang tinggal di sini tidak sebanyak dulu," kata dia.
Dulu jumlah pengikut sebanyak 120 orang lebih, tapi kini hanya tinggal 17 orang saja. Delapan orang diizinkan oleh Tuhan berada di luar buat menjalankan bisnis dan menjadi donatur tetap kaum Eden. Sedangkan sisanya tetap tinggal di Istana tanpa bekerja."Tidak apa-apa. Biarkan yang lain mengingkari komitmen, tapi kami yang tersisa inilah yang bertahan," kata dia menegaskan. (M Taufik)
[did]
Mencari Solusi Sistem Zonasi PPDB
Sekitar 4 Hari yang lalu
Kisah Mereka yang Tersingkir dan Siswa Titipan di Sekolah Favorit
Sekitar 5 Hari yang lalu
Biaya Hidup di Jakarta, antara Kebutuhan dan Gaya
Sekitar 1 Minggu yang lalu
Mengapa Jakarta Masuk Kota Termahal di Dunia?
Sekitar 1 Minggu yang lalu
Pilpres 2024, Manuver Demokrat Mencari Partai Sefrekuensi
Sekitar 2 Minggu yang lalu
Multitafsir Aturan Pernikahan Beda Agama
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Mengesahkan Pernikahan Beda Agama, Agar Tak Disebut Kumpul Kebo
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Menghapus Subsidi BBM yang Tinggal Janji
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Berhitung Isi Kantong Karena Harga BBM
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Menjadikan Candi Borobudur Milik Semua
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Menjaga Candi Borobudur Tetap Lestari
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Mantan Ketum PB IDI Daeng M Faqih: Ada Fakultas Kedokteran tapi Tidak Ada Dosennya
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Menghitung Biaya Menjadi Dokter
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Menjadi Dokter Bukan untuk Jadi Kaya
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Soal Kursi Menpan RB, PDIP: Ada Ganjar, Olly dan Hasto
Sekitar 4 Minggu yang lalu
Masih Berduka, Airlangga Sebut Koalisi Belum Bahas Pengganti Tjahjo Kumolo
Sekitar 4 Minggu yang lalu
Mengenang Menteri PAN RB Tjahjo Kumolo, Sosok Kakek yang Hangat dan Dekat dengan Cucu
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Luhut Bongkar Rahasia, Kisah di Balik Jokowi Sering Merotasinya Sebagai Menteri
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Momen Jokowi Lupa Sapa Zulkifli Hasan dan Hadi Tjahjanto di Sidang Kabinet Paripurna
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Cerita Reshuffle Kabinet Jokowi
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Potret Ultah Cucu Jokowi Sedah Mirah yang Ke-4, Paras Cantiknya Curi Perhatian
Sekitar 2 Jam yang lalu
Upacara HUT ke-77 RI Digelar Terbuka, Istana Undang Eks Presiden & Ribuan Masyarakat
Sekitar 18 Jam yang lalu
Megawati akan Bertemu Jokowi, Bahas Menpan RB Pengganti Tjahjo Kumolo
Sekitar 23 Jam yang lalu
Relawan Jokowi Gelar Musyawarah 27 Agustus Bahas Figur Capres
Sekitar 2 Hari yang lalu
ASEAN Para Games XI, 10 Atlet Renang Positif Covid-19
Sekitar 11 Jam yang lalu
Melawan Virus dengan Mikroba Demi Masa Depan Dunia
Sekitar 19 Jam yang lalu
Menteri Nadiem Terbitkan Edaran Setop Sementara PTM
Sekitar 1 Hari yang lalu
Jokowi Tanya Potensi BBM Naik jika APBN Tak Kuat Subsidi, Ini Jawaban Pedagang Pasar
Sekitar 3 Minggu yang lalu
Menghapus Subsidi BBM yang Tinggal Janji
Sekitar 1 Bulan yang lalu
Mantan Presiden Rusia Beberkan Peta Baru Ukraina di Masa Depan
Sekitar 38 Menit yang lalu
Pengusaha Gandum di Ukraina Tewas Akibat Serangan Rusia
Sekitar 1 Jam yang laluAdvertisement
Advertisement
Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami