Wawancara Khusus

Kemenlu RI: Perdamaian Israel-Palestina Harus Dimulai Kembali

Jumat, 21 Mei 2021 06:36 Reporter : Angga Yudha Pratomo, Ronald
Kemenlu RI: Perdamaian Israel-Palestina Harus Dimulai Kembali Ilustrasi bendera Israel dan Palestina. ©Reuters

Merdeka.com - Israel dan Palestina akhirnya bersepakat melakukan gencatan senjata. Setelah 11 hari bertempur, kedua negara akhirnya mewujudkan harapan banyak negara. Pengumuman pun telah disampaikan dua negara tersebut.

Keputusan gencatan senjata Israel-Palestina memang dorongan banyak negara. Tentu keputusan ini juga sejalan dengan harapan pemerintah Indonesia.

Direktorat Jenderal (Dirjen) Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Abdul Kadir Jailani, menyebut keputusan gencatan senjata akan berdampak baik. Masalah ini juga sudah dikumandangkan ke PBB. Di sana Indonesia sangat mendorong agar gencatan senjata dapat diwujudkan.

Abdul Kadir menceritakan lebih detil mengenai upaya mewujudkan perdamaian antara Israel-Palestina dalam wawancara dengan jurnalis merdeka.com Angga Yudha via telepon pada Kamis kemarin. Berikut petikan lengkapnya:

dirjen asia pasifik dan afrika kemenlu abdul kadir jailani

Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu, Abdul Kadir Jailani ©2021 Merdeka.com/kemlu.go.id

Bisa dijelaskan langkah konkret pemerintah Indonesia dalam mendorong perdamaian konflik Israel-Palestina?

Seperti yang sudah diberitakan media massa bahwa kita sangat aktif dan Indonesia berada di garda depan untuk mendorong perdamaian di Palestina. Banyak hal yang kita lakukan. Dan untuk krisis dalam beberapa hari ini, kita telah mendorong pertemuan OKI (Organisasi negara islam) setingkat menteri.

Kemudian kita mendorong penyelenggaraan dewan keamanan. Dan ini dinyatakan oleh Pak Presiden sendiri dan Ibu Menteri Luar Negeri.

Terus kemudian kita juga dewan keamanan melakukan pertemuan. Saat ini menteri luar negeri sedang berada di New York untuk menghadiri pertemuan majelis PBB khusus membahas masalah ini (konflik Israel-Palestina).

Langkah konkret kita melakukan semua tindakan sepanjang koridor diplomatik antar internasional itu yang kita lakukan.

Dalam perang antara Israel-Palestina saat akhir ramadan tahun ini, Anda melihat apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahannya?

Akar persoalan yang paling mendasar adanya penjajahan oleh Israel terhadap Palestina. Palestina adalah satu-satunya negara yang sampai saat ini masih di bawah kependudukan asing.

Palestina salah satu yang pernah mendukung Indonesia. Kejadian koloniallisme di Palestina masih terus berlanjut, dan kedua kebijakan apartheid pemerintah otoritas Israel sangat diskriminatif.

Kemudian juga ada mengenai pembangunan ilegal (illegal seatlement) dan pengikaran terhadap hak-hak rakyat Palestina, itu akar persoalan.

Jadi ada banyak konflik-konflik karena hal-hal tertentu, tapi semua terjadi atau bermuara karena adanya penjajahan dan pengingkaran hak-hak. Intinya, akar persoalan itu penjajahan dan pengingkaran hak.

Mengapa konflik antara Israel dan Palestina hampir selalu terjadi saat menjelang Hari Raya Idul Fitri?

Ini sudah berulang dan hal ini terjadi karena sering kali otoritas Israel melakukan pembatasan-pembatasan pada bulan Ramadan dan itu yang sering dilakukan. Umumnya karena pembatasan-pembatasan di Masjidil Aqsa. Saya tidak tahu persis pertimbangan dari Israel, kenapa dia melakukan pembatasan itu. Tapi perbatasan ini terjadi pada bulan Ramadan.

Yang kedua, yang menjadi pemicu, saya katakan pemicu bukan akar persoalan, pemicunya adalah rencana adanya keputusan Mahkamah Agung Israel terhadap sengketa lahan di di Sheikh Jarrah itu yang menjadi persoalan.

Jadi setelah ada friksi dari otoritas Israel bersama itu pula ada rencana keputusan Mahkamah Agung Israel mengenai sengketa lahan di Sheikh Jarrah maka aksi protes dari masyarakat Palestina di Jerrusalem Timur menjadi semakin menguat. Ini yang jadi pemicunya.

Selama ini seperti apa pemerintah Indonesia memandang negara Israel?

Sebenarnya posisi kita sudah cukup jelas. Tepatnya akhir tahun lalu ketika terdapat banyak pandangan yang mengatakan pentingnya Indonesia melakukan normalisasi terhadap Israel di mana didorong adanya politik di negara timur tengah.

Sehubungan dengan hal ini pemerintah sudah menyatakan sikap secara jelas sebagaimana diungkapkan Presiden Jokowi yang menelepon langsung ke Mahfud Abad, kepala negara Palestina, yang pada saat itu dalam pembicaraan telepon itu Pak Presiden Jokowi menegaskan bahwa terlepas dari dinamika politik yang terjadi di timur tengah, Indonesia akan selalu konsisten mendukung dan bersama Palestina, dan Indonesia belum bisa berpikir melakukan normalisasi sampai terwujudnya perdamaian yang berdaulat di mana sampai adanya kemerdekaan Palestina.

Setelah mendorong upaya perdamaian konflik Israel-Palestina, bisa dijelaskan sejauh ini apa saja peran pemerintah Indonesia demi mewujudkan kemerdekaan bagi Palestina?

Yang sudah saya sampaikan di awal bahwa Palestina berusaha untuk memperjuangkan memperoleh kemerdekaan dan saat ini kemerdekaan banyak tantangan oleh banyak negara, terutama dari Israel itu sendiri. Yang dapat kita lakukan adalah menggalang dukungan internasional. Jadi yang diperlukan dilakukan adalah dukungan internasional itu yang paling penting.

Apakah ada peluang konflik saat ini makin meluas di kawasan atau ada kemungkinan gencatan senjata?

Memang salah satu yang saat ini kita kumandangkan ke PBB, kita sangat mengharapkan dan Indonesia juga mendorong agar gencatan senjata dapat diwujudkan.

Kita harapkan adanya deeskalasi, menurunkan suhu, sehingga konflik meredam dengan tujuan hanya satu supaya menghindari korban yang lebih banyak.

Bagaimana Kementerian Luar Negeri melihat sikap negara Arab maupun dunia Arab dalam konflik antara Israel-Palestina saat ini?

Semua negara Arab tentunya mempunyai kebijakan masing-masing, kebijakan masing-masing, strategi masing-masing, kita menghormati posisi negara Arab saat ini. Tetapi yang pasti di bawah banner organisasi negara Islam kemarin Indonesia bersama negara Islam lainnya termasuk negara Arab tentunya, itu berhasil menyepakati nota kesepakatan, yaitu meminta dewan keamanan dalam pertemuan dan kita meminta gencatan senjata menghentikan kekerasan dan juga untuk perdamaian itu harus dimulai kembali karena saat ini sudah terhenti.

Menurut Anda seberapa besar kemungkinan Palestina nantinya bisa berdamai dengan Israel?

Mengapa sampai saat ini sulit sekali terjadinya perdamaian, karena perdamaian yang ditawarkan Israel adalah perdamaian yang tidak berkeadilan dan tidak melindungi.

Saya ambil contoh bagaimana yang tidak berkeadilan dan melindungi. Pertama, mengenai two-state solutions, jadi harus dua negara, ini Israel sendiri masih enggan menerimanya. Mereka maunya adalah Palestina bagian negara Israel itu sendiri.

Kemudian kedua kalau ada two-state solution mengenai perbatasan negaranya itu di mana? Karena kita tahu belajar sejarah ini wilayah Palestina dan wilayah Israel berubah terus dari peperangan tahun 1948, di mana mulai peperangan, Israel memperluas terus, Palestina makin mengecil. Kalau ada dua negara perbatasan dua negara batasnya di mana.

Ketiga persoalan ibu kota. Ibu kota Palestina di mana? Palestina menghendaki di Yerusalem. Israel kalau mau bagian itu di Gaza saja. Maunya Israel di daerah otonomi di Gaza saja. Bukan hanya perebutan, ini kompleks permasalahannya. Lalu mengenai pembangunan pemukiman ilegal Yahudi. Tapi semua itu bermuara pada satu hal penjajahan.

Jadi ini persoalan penjajahan dan pengingkaran hak. Oleh karenanya, sekali lagi perlu ditekankan bahwa konflik ini tidak ada hubungannya dengan agama tertentu, tidak ada hubungan dengan konflik agama. Konflik ini murni yang saya katakan tadi, suatu bangsa yang menjajah bangsa lain. Ini masalah penjajahan tidak ada hubungannya dengan yang lain, ini yg perlu digaris bawahi. Yang pasti konflik ini bukan masalah agama

Sebenarnya hubungan antar warga Palestina dan Israel seperti apa yang Anda ketahui?

Hubungan masyarakat Israel dan Palestina sebelum berdirinya negara Israel, sebelum adanya gerakan Zionisme mereka tidak ada masalah dan hubungannya baik, kalau kita melihat sejarah. Semua ini berubah sejak perang tahun 1948.

Dan saat ini di wilayah Israel itu 20 persen rakyat mereka itu orang Palestina. Jadi 20 persen itu kira-kira ada 1,9 juta orang di Israel itu org Palestina. Tapi mereka warga negara Israel.

Yang terjadi konflik hari ini itu, yaitu banyaknya kerusuhan sebagian kota itu. Konflik horizontal juga sudah mulai terjadi di beberapa kota. Dan bukan hanya itu, ada mogok massal orang-orang Palestina sehingga mengganggu ekonomi kehidupan di Israel sendiri. Ini persoalan sangat pelik.

Tentu kami pemerintah Indonesia, kita harapkan perdamaian dan mewujudkan gencatan senjata. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini