Kebebasan napi korupsi di balik jeruji besi

Jumat, 1 September 2017 06:00 Reporter : Tim Merdeka
Lapas Sukamiskin. ©2015 merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Dua petugas berseragam biru muda duduk santai di balik meja. Pria dan wanita. Di dalam ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter. Mereka meminta para pengunjung lapas mencatat identitas. Termasuk tujuan dan siapa ingin ditemui. Tak ada permintaan berlebihan. Hanya menyarankan ponsel dititipkan. Sekaligus mengingatkan jam besuk cuma satu jam.

Identitas diisi. Lalu pengunjung dipersilakan memasuki ruangan selanjutnya. Pintu besi lebih kurang setinggi 3 meter menyambut. Ukurannya besar dan tertutup. Berwarna abu-abu. Di tengah pintu besi terdapat pintu kecil. Cukup dilalui satu orang. Di atas pintu besi terdapat tulisan Lapas Klas I Sukamiskin. Warnanya silver dan memakai alumunium.

Pintu kecil dibuka. Satu per satu pengunjung masuk. Petugas lain lalu kembali meminta semua tamu meninggalkan KTP. Lalu ditukar dengan tanda pengenal bertuliskan 'Pengunjung'. Tangan pengunjung lantas dicap. Tanda diperbolehkan masuk ke penjara khusus koruptor berlokasi di Kota Bandung, Jawa Barat.

Petugas lagi-lagi mengimbau agar ponsel ditinggalkan. Namun, tak dilakukan penggeledahan tiap barang pemeriksaan. Hanya mengingatkan. Tak ada pula alat metal detektor. Para sipir hanya melongok tiap isi tas atau bawaan para pengunjung. Lalu mempersilakan pengunjung masuk. Sehingga ponsel mudah dibawa. Dengan cara diselipkan di barang bawaan lain.

"Ini kalau diisi narkoba juga enggak akan ketahuan," celetuk seorang pengunjung Lapas berbisik kepada merdeka.com. Ketika itu kami berkesempatan mengunjungi salah seorang napi kasus korupsi di Lapas Sukamiskin pada pekan lalu.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Melewati pemeriksaan terakhir. Lalu dipersilakan masuk. Melalui sebuah lorong, lalu belok ke kanan. Setelah itu belok lagi ke kiri. Di sana terdapat ruang terbuka. Berisi jajaran tempat berupa saung memaki atap jerami. Dengan tiang bambu sebagai penopang.

Jumlahnya sekitar belasan. Terlihat nyaman. Satu saung berukuran sekitar 4 x 5 meter. Di dalamnya tersedia sofa maupun tempat duduk kayu untuk bersantai. Hingga dapur kecil. Ada pula ruang bermain anak dekat saung itu.

Saung itu menjadi tempat para napi korupsi menjamu para tamu. Dibikin dari hasil patungan. Menyajikan pelbagai kudapan. Kue hingga buah-buahan. Para koruptor ini terlihat santai. Tak ada sipir wara-wiri. Terik siang itu juga tak terasa. Sebab di dalam saung disediakan kipas angin. Ada juga sebuah kantin.

Sang terpidana korupsi itu akhirnya bertemu kami. Dia sedang asyik bermain ponsel pintar miliknya. Tampak santai. Sambil duduk di kursi kayu. "Apa kabar? Silakan duduk. Mau teh? Atau Kopi?" sapa dia menyambut kedatangan kami.

Wajahnya semringah. Tak tampak ada tekanan. Meski statusnya sudah terpidana kasus korupsi. Pakaiannya rapih. Memakai kemeja dan celana jin. Pegangan ponsel di tangannya model terbaru.

Ketika disinggung soal ponsel di tangannya, napi korupsi itu hanya tersenyum. Dirinya bahkan tak merasa khawatir pegang ponsel meski sipir melihat. "Enggak apa-apa. Anda juga kalau bawa HP (ponsel) mestinya enggak apa-apa, diselipkan saja," ujarnya.

Tak lama dua orang menghampiri. Mereka disuruh napi korupsi itu menyiapkan hidangan. Mulai dari teh, minuman kemasan hingga cemilan. Dua orang itu siap disuruh kapan saja. Melayani tiap permintaan. Termasuk jika pesan makanan dari luar.

Nikmatnya hidup napi di Lapas Sukamiskin memang dikenal. Beberapa waktu lalu, juga pernah terungkap isi ruang tahanan di sana. Gadget sampai televisi ditemukan saat era Wakil Menteri Hukum dan HAM dijabat Denny Indrayana, melakukan sidak tengah malam. Bikin heboh. Namun sidak itu belum memberi efek jera.

Lengahnya tata tertib di Lapas Sukamiskin sudah menjadi perhatian LSM Indonesia Corruption Watch (ICW). Mereka menyadari ada masalah serius dalam pengawasan lapas di bawah koordinasi Kemenkumham. Sehingga sudah seharusnya pemerintah harus mempertimbangkan tentang lapas khusus bagi napi korupsi.

"Justru membuat kekuatan para koruptor terkonsolidasi, dan tidak ada efek jera," tegas Kepala Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Lola Ester, kepada merdeka.com.

Bebasnya para tahanan korupsi di Lapas Sukamiskin tak dibenarkan Plt Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Ham, Ma'mun. Dia memastikan bahwa para napi korupsi diberikan fasilitas sama seperti tahanan kasus lainnya.

Larangan keras memegang alat komunikasi juga diberlakukan. Ma'mun menyebut itu tidak diperkenankan untuk para tahanan. Sebab Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) sudah menyediakan warung telepon (wartel) khusus bagi para napi.

"Prosedur peraturan di seluruh rutan sama, tidak ada yang dibeda-bedakan," tegas Ma'mun kepada merdeka.com pada Selasa pekan ini, usai rapat dengan Pansus KPK di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Kembali ke Lapas Sukamiskin. Pelbagai pelanggaran seperti dibiarkan para petugas. Termasuk untuk jam besuk. Para tamu bebas berkunjung. Tetapi dalam aturan, kunjungan dimulai sejak pukul 10 pagi. Berbincang hingga sore hari pun tak masalah. Padahal lapas untuk kasus lainnya diberi batas waktu. Penjagaan ketat. Para pengunjungnya juga harus tunduk pada aturan.

Satu jam berlalu. Waktu kunjungan seharusnya habis. Seperti pesan petugas di depan. Namun kami tak lantas pergi. Napi korupsi itu justru menahan kami. "Sudah santai saja," ujar napi tersebut.

Lalu kami melanjutkan perbincangan. Banyak hal. Mulai masalah pribadi, hukum, hingga urusan politik.

Selama kami berbincang, beberapa nama besar terpidana korupsi tampak hilir mudik. Seperti Muhammad Sanusi, Akil Mochtar, Gatot Pudjo Nugroho sampai OC Kaligis. Salah satu di antara mereka juga sempat tegur sapa dengan kami di dalam saung.

Tak terasa azan Zuhur berkumandang. Sekaligus menyudahi tatap muka dengan napi korupsi di Lapas Sukamiskin. Pertemuan berakhir. Tak lupa saling mendoakan. Berharap bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Kami berpamitan. Lalu kembali mengambil identitas dan keluar dari lapas. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.