Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kebal golok dan peluru berkat doa ibu

Kebal golok dan peluru berkat doa ibu Ucu Kambing di rumahnya, Kebon Pala, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (merdeka.com/arie basuki)

Merdeka.com - Tangannya selalu gatal menggapai rokok kretek dalam kemasan berwarna hijau. Dia seperti lokomotif kereta, tak pernah berhenti mengepulkan asap. Sambil menyalakan rokok dan menyeruput kopi dalam cangkir putih, dia lupa berapa banyak orang telah berkelahi dengannya.

"Umur udah 67, dijorokin juga jatuh," kata Ucu saat ditemui merdeka.com pekan lalu di kediamannya, Jalan Kebon Pala III, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Itu pun kalau kena." Dia mengaku telah membunuh hampir seribu orang.

Perkelahian pertama pada 1960 dengan pemuda dari kelompok Irian tinggal di Tanah Abang. Ketika itu usia baru 14 tahun. Dia berhasil memenangkan perkelahian di Kebon Melati ini. Ucu pernah menjadi santri di Pesantren Tebu Ireng, Gontor, Jawa Timur, namun tidak sampai rampung.

Banyak orang percaya Ucu kebal senjata tajam dan peluru. Kabarnya, jaket kulit dia gunakan juga bertuah. Ucu buru-buru membantah cerita itu. Dia menegaskan tidak ada manusia kebal. Cerita kehidupannya hingga saat ini tak kurang karena doa ibu.

"Rasulullah aja dipukul berdarah. Bohong kalau ada yang dipukul enggak berdarah," ujarnya seraya menunjukkan luka bacok di kepala saat bertikai dengan anggota Pemuda Pancasila di Pecenongan, Jakarta Pusat, pada 1976.

Dia mengatakan para pembacok dan penembak dia kala itu adalah orang bodoh. Dia mengaku tidak memiliki jimat kebal. "Masih ada mamah, masih ada umi. Cukup itu aja, taat," ujarnya.

Ucu tak mau disebut jawara atau jagoan. Tapi dia mengakui dulunya berandal jalanan dan hobi berkelahi. Tujuannya buat menolong pedagang kaki lima diperas oleh para begundal dan membantu sahabatnya jika ada masalah.

Saban mau berkelahi, dia selalu pamit dan meminta restu ibunya. "Denger kata orang tua aje. Demi Allah, ini abis puase," tuturnya. "Asal sama ibu taat, insya Allah enggak ada apa-apa. Kan doa ibu paling diijabah."

Sebagai berandalan, tubuhnya juga berajah. Salah satunya di dada kanan bertulisan Kill Of Tanah Abang. Tato ini bikinan perampok ulung era 1960-an Hengky Tupanwael. Kenangan itu dibuat saat keduanya sama-sama menghuni Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Rajah itu dibuat memakai lidi dibakar, jarum, dan benang.

Namun nasib memisahkan mereka, Hengky divonis hukuman mati pada 1980. "Rampok segan sama koboi (tukang berkelahi) dan dia (Hengky) tukang ambil duit orang, sedang saya tukang berkelahi," kata Ucu.

Meski hobi berkelahi, Ucu tidak pernah mengajak rekannya. Dia juga tidak bersenjata. Dia mengaku paling lama mendekam di penjara sembilan bulan. "Meski saya membacok tapi itu bukan pakai senjata saya, itu pakai senjata lawan. Saya hanya membela diri."

Baca juga:

Berkelahi pakai sumpit

Pantang bunuh orang Islam

Tukang kambing jago berkelahi

Berkelana setelah patah hati

Bertobat sebelum terlambat (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP