Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kasih fulus, dagang mulus

Kasih fulus, dagang mulus Watmi, seorang pedagang sayu sedang menyiapkan dagangannya di trotoar kawasan Senen, Jakarta Pusat, Rabu (4/4) sore. (merdeka.com/Islahuddin)

Merdeka.com - Arus lalu lintas di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, sudah mulai macet Rabu sore pekan lalu. Para sopir Bajaj seperti tidak peduli dengan kemacetan itu dan tetap saja memarkir kendaraan mereka berjajar mepet di trotoar.

Di saat bersamaan, para pedagang sayur mulai membuka lapak mereka di atas trotar. Watmi, 56 tahun, satu dari sepuluh pedagang yang berjualan di trotoar selebar tiga meter itu juga sudah menggelar dagangannya. Mula-mula ia menaruh barang di pinggir trotoar, kemudian menggelar karung untuk alas tepat di ujung trotoar.

Sambil menungggu pembeli dia menata sayur-sayur dagangannya. Tiap orang lewat selalu dia tawari agar membeli dagangannya. Bila sepi, dia akan membersihkan dan mengikat daun bawang Bombay miliknya yang terbungkus di pinggir pagar trotoar.

Watmi sudah empat tahun berjualan di trotoar itu. Dia sadar apa yang dia lakukan melanggar hukum karena menghalangi pejalan kaki. Sebenarnya, dia mau berjualan di dalam pasar, namun karena tidak punya modal membeli barang dan sewa kios, dia terpaksa berjualan di trotoar.

Dia cuma diam dan mengabaikan umpatan dari pejalan yang susah lewat. “Emang ini jalan moyangmu ape, pade jualan di sini,” katanya kepada merdeka.com, menirukan seorang pejalan yang pernah memarahi dia.

Watmi tetap bertahan lantaran mendapat izin dari petugas keamanan dan ketertiban Kecamatan Senen. Dia mengaku bersama teman-temannnya hanya boleh berjualan sejak pukul 16.00 sampai 21.00,

Ibu tiga anak ini mengungkapkan izin tidak diperoleh gratis. Dia bersama pedagang lainnya mesti menyetor Rp 1.000 - Rp 2.000 kepada aparat keamanan. Dia juga harus menyerahkan uang kebersihan Rp 1.000 per pedagang, juga tiap hari. Namun, dia menolak memberi tahu identitas petugas yang mengutip uang haram itu. Yang pasti, kata Watmi, mereka tidak bertanggung jawab. Jika ada operasi gabungan, dagangannya tetap diangkut.

Sukris Triyono, Kepala Satuan Tugas Polisi Pamong Praja Kecamatan Senen, membantah pengakuan Watmi. “Tidak benar itu, itu hanya akal-akalan pedagang saja. Kami menegakkan peraturan tidak boleh tawar-menawar,” dia menegaskan.

(mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP