'Jalan Ninja' Sandiaga Uno

Rabu, 14 September 2022 11:16 Reporter : Ahda Bayhaqi, Ronald, Randy Ferdi Firdaus
'Jalan Ninja' Sandiaga Uno Sandiaga Uno Hadiri Rapimnas Gerindra. ©2019 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Otis Homer ingat betul ketika Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto memperkenalkan Sandiaga Uno di Hambalang, Bogor. Saat itu, jelang Pilkada DKI Jakarta 2017, Prabowo mengumpulkan ratusan kader Gerindra yang menjabat di legislatif. Mereka wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) di Padepokan Garuda Yaksa Hambalang.

Dalam acara itu, Otis Homer sebagai salah satu kader muda Gerindra asal Papua, didapuk sebagai pembaca teks UUD 1945.

"Di sini saya pertama kali mendengar nama beliau yang disebutkan Pak Prabowo Subianto yang langsung mempromosikan Sandiaga Uno adalah kader partai yang akan diusung sebagai calon gubernur DKI Jakarta oleh Gerindra," kenang Otis bercerita momen jelang Pilkada DKI 2017.

Sandiaga kemudian dipasangkan bersama Anies Baswedan dan memenangkan Pilgub DKI mengalahkan petahana Basuki Tjahaja Purnama yang berduet dengan Djarot Saiful Hidayat.

Pilpres 2019, Sandiaga yang belum dua tahun menjabat wakil gubernur Jakarta, digaet Prabowo sebagai cawapres. Kalah di pilpres, Prabowo kemudian menjadi menteri pertahanan dan belakangan Sandiaga menyusul menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di kabinet Presiden Jokowi.

Sebagai kader baru, posisi Sandiaga di Gerindra melejit di level elite partai. Dalam kepengurusan DPP Gerindra periode 2020-2025, Sandiaga ditempatkan sebagai wakil ketua umum Dewan Pembina.

Hubungan Sandiaga dengan kader Gerindra kini memanas. Penyebabnya, dia menyatakan siap maju di Pilpres 2024 saat melakukan pertemuan dengan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Yogyakarta pada akhir Agustus 2022. Sandiaga menyatakan siap apabila ada partai yang mau mengusung.

Pernyataan Sandiaga itu memunculkan komentar pedas dari sejumlah kader Gerindra. Otis Homer, yang kini menjadi Kepala Departemen Bidang Kedisiplinan dan Tradisi Partai Sekolah Kader Partai mengaku kecewa berat dengan sikap Sandi. Terlebih, Gerindra sudah memutuskan untuk mengusung Prabowo sebagai capres.

"Saya sebagai kader tentu sangat tidak terima. Karena menurut saya itu bentuk pembangkangan seorang kader kepada pimpinan partai," katanya saat dihubungi merdeka.com awal September lalu.

Otis meminta Sandiaga lebih baik mundur dari kader Gerindra apabila tetap ngotot ingin maju di Pilpres 2024. Otis menangkap suara-suara keresahan kader Gerindra di daerah.

"Pak Sandiaga kalau berniat untuk capres silakan keluar dari Gerindra, tidak perlu ada di Gerindra," ujar Otis.

Pernyataan lebih keras dilontarkan politisi Gerindra Arief Poyuono yang menyebut Sandiaga sebagai pengkhianat.

"Kalau aku melihatnya apa? Kalau aku melihatnya Desmond ini seorang kader yang taat, yang patuh. Artinya mengamankan hasil Rapimnas bahwa calon presiden dari Gerindra itu hanya Prabowo. Karena ketika itu sudah diputuskan dalam Rapim masih ada kader yang mbalelo, kader yang pengkhianat seperti Sandiaga, ingin jadi capres lewat PPP," kata Poyuono dalam sebuah diskusi Rabu 7 September lalu.

Ucapan Arief Poyuono itu mengamini sindiran Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Desmond Junaidi Mahesa yang menyebut Sandiaga sudah lupa dengan kartu tanda anggota (KTA) Gerindra karena dimakan tikus.

Desmond menilai Sandiaga merasa bukan lagi sebagai kader Gerindra karena menerima pinangan partai lain.

"Jangan-jangan kartu anggota Gerindranya dimakan tikus. Kalau sudah dimakan tikus jadi dia merasa bukan anggota Gerindra lagi, jadi dia mau aja dicalonkan oleh PPP, atau sudah pindah partai, kan kita enggak ngerti," cetus Desmond kepada wartawan, Rabu (31/8).

Desmond menyinggung ucapan Sandiaga yang pernah bilang tidak ingin maju di Pilpres 2024. "Karena saat lalu dia pernah ngomong tidak mau nyalon, waktu itu dia masih pegang ada kartu Gerindra, karena dia udah enggak punya kartu Gerindra, ada ruang nyalon di PPP," ucap Desmond.

Lebih jauh, Desmond menduga, Sandiaga merasa kepentingannya tidak tersalurkan di Gerindra. "Ya bagi saya biasa aja, dia juga bukan pendiri partai, dia datang dengan kepentingannya, keluar dengan kepentingannya."

"Karena kepentingannya tidak tercapai dia pindah tempat lain juga tidak ada masalah. Jadi kalau lihat Sandiaga Uno bukan hal luar biasa, kaya jelangkung aja, datang tidak diundang pulang tidak diantar," pungkas Desmond.

2 dari 3 halaman

Sandiaga Tak Ingin Dibenturkan

ingin dibenturkan rev1

Tak mau terjebak dengan sikap panas kader-kader Gerindra, Sandiaga dalam beberapa kesempatan enggan menanggapi sindiran dan kritik keras kepada dirinya. Dia menolak dibenturkan oleh para kader terkait kesiapannya menjadi capres dan berharap suasana kontestasi tetap sejuk tanpa ada upaya pecah belah.

Sandiaga mengatakan, politik harus penuh dengan narasi-narasi yang bersahabat. Politik harus saling merangkul satu dengan yang lain.

"Saya ingin justru mendinginkan suasana," kata Sandiaga.

Usai rapat di dengan Komisi X DPR pekan lalu, Sandiaga menyatakan dirinya masih kader Gerindra. Dia menegaskan tetap patuh terhadap keputusan partai. Sandiaga mengaku akan terus berkomunikasi intens dengan Ketua Umum Prabowo Subianto.

Jawaban Sandiaga mengambang saat ditanya apakah akan minta izin Prabowo jika dia mau nyapres. "Tapi kan ini belum saatnya politik, kita sekarang saatnya bekerja untuk menyelesaikan tugas-tugas kita," ucapnya.

"Ada dua tahun lagi di pemerintahan ini. Tugas-tugas ada di depan mata terutama berkaitan dengan masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat," tukasnya.

3 dari 3 halaman

Musra Bikin Tambah Panas

tambah panas rev1

Panas hubungan Sandiaga dengan para kader tampak saat Gerindra menggelar rapat pimpinan nasional (rapimnas) awal Agustus lalu. Saat media sosial para petinggi kader diisi dengan keriuhan acara tersebut, tak satupun unggahan Sandiaga di akun Instagramnya @sandiuno dengan pengikut 8,9 juta yang menampilkan kegiatan Gerindra.

Saat Prabowo pidato menyatakan diri siap kembali maju sebagai calon presiden, Sandiaga tak hadir di lokasi Rapimnas di Sentul, Bogor. Alasannya, ada tugas negara ke Bali sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Senada dengan Otis Homer, Wakil Ketua Umum Gerindra, Habiburokhman menganggap, niat Sandiaga maju capres hanya mimpi belaka. Namun, dia tak mau mendorong Sandiaga mundur jika ingin nyapres melawan Prabowo.

"Jadi kalau ada orang mau niat nyapres silakan saja. Tapi kalau Gerindra (usung) Pak Prabowo. Ngimpi-ngimpi pengen-pengen silakan saja. Itu hak dia," kata Habiburokhman.

Hasil Musyawarah Rakyat (Musra) Relawan Jokowi yang digelar di Bandung akhir Agustus lalu beredar luas di ponsel-ponsel para politisi. Pesan terusan itu membuat seorang politikus mengernyitkan dahinya. Ada nama Sandiaga Uno sebagai calon presiden.

Grup WhatsApp para politisi menjadi heboh. Saling sahut menyahut. Lempar link berita. Isinya, Gerindra tegas mengusung Prabowo Subianto sebagai capres.

Meme bergambar Prabowo Subianto pun beredar. Tulisannya, 'Kemaren Prabowo, Sekarang Prabowo, Besok pun Gue Tetep Prabowo. Maaf Ye Gue Kagak Bisa Pindah ke Lain Hati'.

Sumber internal Gerindra bercerita, Sandiaga sama sekali tidak memiliki pendukung di partai. Selama ini, Sandiaga dianggap lebih mementingkan agenda pribadinya ketimbang parpol.

Politikus Gerindra ini bercerita, setiap ke daerah, Sandiaga tak pernah membawa bendera partai. Bahkan, tak pernah mampir ke kantor partai di daerah.

"Sandiaga tidak punya chemistry dengan Gerindra," katanya kepada merdeka.com.

Hasil Musra menyatakan, Sandiaga di urutan kedua sebagai capres favorit relawan Jokowi. Dengan perolehan 968 pemilih atau 16,92 persen. Prabowo jauh di bawah Sandiaga dengan 635 pemilih atau 11,10 persen.

Nomor satu Jokowi dengan 1.704 pemilih atau 29,79 persen. Di bawah Sandiaga, ada Ganjar Pranowo dengan 921 pemilih atau 16,10 persen.

Ketua Umum Bara JP Periode 2021-2026, Utje Gustaaf Patty menegaskan, tidak ada pengarahan apapun dari hasil Musra tersebut. Menurut dia, pemilih Musra banyak anak muda, sehingga cocok dengan gaya Sandiaga.

"Kalau kita ini pemilihnya memang plural. Jadi kita tidak men-setup sama sekali. Tidak ada pengarahan milih ini, ini milih itu, itu tidak ada," tegas Utje kepada merdeka.com.

Terkait tudingan tak pernah membawa bendera Gerindra di daerah, Sandiaga meluruskan. Dia merasa selalu memperjuangkan program di kementeriannya sebagai wadah aspirasi dari Fraksi Gerindra DPR.

Bahkan, kata dia, setiap acara kementerian selalu ramai dihadiri para kader Gerindra di daerah. "Dan undangan semakin banyak karena datangnya dari teman-teman dapil mereka atau daerah destinasi wisata yang butuh sentuhan pemerintah," kata Sandiaga.

Seorang pengurus Gerindra daerah pun punya cerita tentang Sandiaga. Saat Pemilu 2019 misalnya, Sandiaga hanya bermodal tiket pesawat saja. Semua akomodasi di daerah ditanggung oleh panitia.

Pengurus itu menambahkan, hingga kini menjadi menteri, Sandiaga dianggap tak pernah keluar modal pribadi untuk membesarkan partai dengan membantu acara-acara parpol di daerah. Sandiaga dianggap tak mampu membangun kedekatan dengan para kader Gerindra baik di pusat maupun daerah.

"Dia hanya bayar tiket (pesawat) saja," singkat pengurus daerah tersebut.

Sandiaga menolak komentar saat ditanya tentang sumbangsih dirinya untuk Gerindra. Termasuk tuduhan tak keluar modal saat menghadiri acara parpol di daerah. Sandiaga memilih bungkam saat dikonfirmasi usai menghadiri rapat di DPR pekan lalu.

Namun, mantan Waketum Gerindra, Fadli Zon menyatakan, kunjungan kerja Sandiaga ke daerah memang tak boleh membawa bendera partai. Menurut dia, wajar jika Sandiaga ke daerah tanpa embel-embel Gerindra.

"Pak Sandiaga kan pergi ke daerah sebagai menteri. memang enggak boleh bawa nama partai kan," kata Fadli Zon.

Dia menanggapi santai munculnya suara kader yang mendorong Sandiaga dipecat dari Gerindra. Menurut Fadli, pencapresan Sandiaga dari partai lain merupakan wacana yang masih jauh.

"Menurut saya ketika sudah ada penetapan calon atau menjelang penetapan calon, baru itu pasti ada kejelasan. Kalau sekarang ada orang berwacana ya susah ya, kan partai pendukung aja belum jelas. Kalau Pak Prabowo sudah jelas," kata mantan Wakil Ketua DPR itu.

Pun jika nantinya Sandiaga diusung partai lain, Fadli mengatakan Gerindra punya aturan organisasi dan dia yakin Sandiaga paham hal itu.

"Saya kira Pak Sandi paham sekali fatsun politik seperti apa. Tetapi saya kira masih terlalu awal melihat itu, karena semua itu masih wacana," tutup Fadli Zon. [bal]

Baca juga:
Begini Strategi Sandiaga Uno agar Wisata Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Sandiaga Berbagi Cara Cepat UMKM Daerah Meraup Cuan
Fadli Zon: Sandi Nyapres atau Tidak, Prabowo yang Tahu
Fadli Zon Sindir Sandiaga Belum Ada Partai Pendukung: Kalau Prabowo sudah Jelas
Sandiaga Siap Nyapres, Fadli Zon Ingatkan Ada Konsekuensi di Gerindra
Tidar: Sandiaga Sudah Komunikasi dengan Prabowo, Nyatakan Ikuti Rapimnas
Tidar Gerindra Tegas Dukung Prabowo Capres, Bukan Sandiaga

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini