Berkenalan Dengan Pengidap Bipolar

Senin, 2 Desember 2019 07:29 Reporter : Anisyah Al Faqir
Berkenalan Dengan Pengidap Bipolar ilustrasi bipolar. ©www.earthwalkcommunity.com

Merdeka.com - Suatu pagi, suasana hati Nabila mendadak memburuk. Pikiran dia merasa tidak tenang. Perempuan itu bergegas mencari benda tajam, kemudian menyayat tangannya. Darah terus mengalir, beruntung nyawa masih terselamatkan.

Beruntung Nabila tidak sendiri. Dia ditemani Yasmin, sahabat dekatnya. Kejadian buruk pagi itu membuat Yasmin harus selalu mendampingi Nabila sepanjang hari. Guna menghilangkan stres di pikiran Nabila, keduanya memutuskan berjalan ke pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan.

Menjelang sore, mereka bertemu kami di sebuah kafe. Memakai kaos belang hitam-putih, Nabila menceritakan kembali kejadian buruk tadi pagi. Kondisi itu muncul saat dirinya merasa penat, salah satunya akibat rutinitas kampus.

"Jadi tadi pagi aku cutting, makanya dia (Yasmin) enggak mau lepas dari aku hari ini," kata Nabila saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Nabila pengidap gangguan Bipolar tipe 2. Bipolar merupakan gangguan jiwa berat yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara ekstrem. Suasana hati yang tinggi ditandai dengan bahagia, gembira, dan senang secara berlebihan. Lalu dalam waktu lain suasana hatinya buruk sehingga bisa sedih, murung, tidak bersemangat dan sampai ada perasaan ingin mengakhiri hidup.

Ada banyak jenis Bipolar. Pada gangguan Bipolar tipe dua ini terdapat dua fase. Fase mania dan fase depresi. Pagi tadi, bila mengalami fase depresi. Hatinya hampa tanpa sebab. Dia merasa tidak puas dengan dirinya sendiri. Terbersit ide untuk mengakhiri hidup.

Di lain waktu, saat memasuki fase depresi Bila bisa menangis hingga berhari-hari. Bahkan menonton film komedi pun tak mampu membuat dirinya tersenyum. Dalam kondisi ini muncul waham dalam dirinya jika hidupnya tidak berguna. Tidak ada yang lebih baik selain mati.

Bukan pertama kali Nabila berusaha bunuh diri. Gadis asal Jember, Jawa Timur, ini pernah mencoba lima kali mengakhiri hidup. Empat kali di antaranya menggunakan obat dan satu kali melukai diri dengan menyayat tangannya. Bahkan gara-gara over dosis obat Nabila pernah dua kali menjalani opname.

Meski dominan mengalami depresi, namun Nabila juga pernah mengalami masa hipomania. Hipomania merupakan fase yang tidak terlalu parah. Suasana hatinya sangat baik, senang berlebihan.

Fase ini pernah dialami Nabila saat masih kuliah di Universitas Gadjah Mada. Saat itu, Nabila tidak tidur selama berhari-hari. Energinya tak habis-habis. Dalam semalam dia bisa menghasilkan beberapa paper tugas kuliah. Banyak ide-ide baru muncul. Bahkan dia sampai mengikuti berbagai lomba saat dalam fase hipomania.

"Untuk di tipe 2 ini, fase depresinya lebih dominan dari pada fase hipomania," kata Nabila.

Keinginan menyakiti diri sudah dialami Nabila sejak masih duduk di bangku SMP. Saat itu usianya masih belasan tahun. Salah satu pemicunya yakni, perundungan lewat media sosial.

Cerita bermula saat dirinya terpilih menjadi Ketua OSIS di sekolah. Kala itu dia baru kelas VII. Sebagai ketua, dia harus membawahi kakak kelas dua angkatan sekaligus. Tidak sedikit pihak yang meragukan kepemimpinannya. Terutama para kakak kelas dan teman seangkatan yang memiliki kedekatan dengan mereka.

Para rival Nabila lantas membuat serangan balik dengan memanfaatkan akun media sosial. Media yang digunakan adalah Ask FM. Sebuah aplikasi anonim yang bisa memberikan pertanyaan kepada siapa saja tanpa diketahui penggunanya.

Dalam aplikasi tersebut, banyak pengguna yang mengkritik kinerja dia saat itu. Bahkan tak sedikit yang memberikan kritikan pedas pada Nabila dengan menggunakan bahasa tak pantas, mengolok-ngolok bahkan sampai menjelek-jelakkan.

Nabila mengaku tak pernah menggunakan aplikasi tersebut. Hanya saja, banyak teman-teman mengirimkan tangkapan layar percakapan di Ask FM. Kritik pedas yang diterima nyatanya ditelan bulat-bulat dan mengganggu pikiran perempuan itu. Bahkan dia sempat ingin mengakhiri hidupnya.

"Waktu itu aku mungkin mentalnya belum benar-benar kuat, masih remaja, masih belum stabil jadi ketika menghadapi itu aku bukan yang bisa bersikap bodo amat," cerita Nabila.

Kondisi tersebut harus dijalani selama 3 tahun. Sebab pada tahun berikutnya dia kembali terpilih menjadi Ketua OSIS. Memang tidak ada yang melakukan perundungan secara langsung lantaran Bila merupakan anak guru. Meski begitu, serangan dari media sosial membuatnya terganggu secara mental. Dia bahkan mengunci semua akun media sosial. Dia menyaring dengan teliti siapa saja yang boleh melihat akun media sosialnya.

Sebelum lulus SMP, Nabila mengaku tak ingin melanjutkan SMA di Jember. Alasannya karena dibenci kakak kelas dan sebagian teman angkatan. Namun, upaya mencari beasiswa itu gagal. Dia pun akhirnya memilih mengikuti program akselerasi. Hanya dua tahun untuk lulus SMA. "Biar cepet lulus dan enggak ketemu kakak kelas terus."

Lulus SMA, Nabila melanjutkan sekolah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dia akhirnya berhasil keluar dari Jember. Namun, baru mengikuti perkuliahan 3 bulan di jurusan Hubungan Internasional, Nabila harus keluar karena hasil diagnosis mengidap gangguan Bipolar.

"Jadi aku baru tahu mengidap Bipolar setelah 5 tahun di-bully (perisakan)," ujar gadis 18 tahun ini.

Kerap tidak tidur berhari-hari, energi tidak pernah habis membuatnya merasa sesuatu terjadi dalam dirinya. Bila segera melaporkan hal itu kepada sang ibu. Dia meminta ditemani ke psikiater. Benar saja, hasil konsultasi tersebut Bika didiagnosa mengidap gangguan Bipolar.

Meski begitu, dokter yang menangani Bila tak pernah menyebut gangguan mental yang dideritanya karena trauma perisakan. Ada banyak faktor yang membuat dirinya mengalami gangguan Bipolar.

Bila mengaku faktor penyebab penyakit yang dideritanya sangat kompleks. Mulai dari pola asuh. Katanya, kedua orang tua menuntut dirinya harus sempurna, menjadi nomor satu dalam hal apapun. Tuntutan itu membuat dirinya terpacu menjadi sempurna. Padahal ada bagian dalam dirinya yang tidak sempurna.

"Akhirnya aku ingin menjadi sempurna, padahal ada bagian hidupku yang tidak sempurna dan dengan di- bully jadi makin besar tantangannya," ungkap Nabila.

1 dari 2 halaman

Terapi Gangguan Bipolar

Serangkaian pengobatan telah dijalaninya sejak tahun lalu. Kondisi yang tidak stabil membuat Nabila harus keluar dari tempat kuliahnya. Percobaan bunuh diri dengan menelan 14 butir obat membawanya harus dirawat intensif.

Setelah 5 hari, orang tua Nabila membawa paksa pulang ke Jember. Dia mengatakan, saat itu ayahnya belum begitu memahami tentang gangguan Bipolar. Kondisi fisik yang terlihat sehat melahirkan kesimpulan sang anak baik-baik saja.

Setelah stabil, Nabila meminta ikut bimbingan belajar agar bisa kembali kuliah. Kali ini Universitas Indonesia jadi tujuan. Mengidap gangguan Bipolar membuatnya mengincar fakultas psikologi.

Mengikuti kembali bimbingan belajar nyatanya bukan keputusan yang tepat. Bimbingan belajar kali ini makin intensif dari sebelumnya. "Ternyata aku belum kuat, apalagi kalau intensif itu kan lebih berat lagi," kata dia.

Fase depresi saat itu makin akut. Dia menyayat tangannya demi mengakhiri hidup. Untuk kedua kalinya Bila harus menjalani opname. Sepuluh hari Naila menjalani perawatan.

Selain terapi obat yang sudah dijalani, kali ini Nabila harus menjalani terapi elektrokonvulsif (ECT) sebanyak tiga kali. Terapi ECT dilakukan dengan cara pemberian aliran listrik ke otak dengan tujuan menyeimbangkan jumlah neurotransmiter.

Neurotransmiter merupakan senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Di dalam otak, zat kimia ini berfungsi sebagai media komunikasi antar saraf. Sel saraf saling berkaitan. Di antara mereka terdapat celah yang tidak saling menempel. Neurotransmiter ini lah yang berfungsi menjadi penghubung antara sela saraf.

Pada keadaan normal neurotransmiter akan seimbang, tidak berkelebihan atau tidak berkurang. Namun peristiwa biologi, psikologi dan sosial (biopsikososial) akan memengaruhi keseimbangan zat tersebut. Bila terjadi dopamin tinggi pada neurotransmiter akan menyebabkan halusinasi dan waham. Sebaliknya, bila terjadi serotonin rendah pada neurotransmiter akan menyebabkan gejala depresi.

"Jadi neurotransmiter itu yang menyebabkan munculnya gangguan pada pikiran, perasaan dan perilaku," kata Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Lahargo Kembaren kepada merdeka.com pekan lalu.

Lahargo menjelaskan ada tiga jenis terapi yang biasa dijalani oleh pengidap gangguan Bipolar. Pertama terapi psikofarmaka, yakni terapi menggunakan obat-obatan karena penyakit ini merupakan penyakit medis. Para terapi ini ada empat jenis obat-obatan yang digunakan, yakni obat sebagai mood stabilizer, obat anti psikotik (untuk menghilangkan halusinasi dan delusi), anti cemas dan anti depresan.

Dalam terapi jenis ini juga ada terapi ECT dan terapi Transcranial Magnetic Stimulation (TSM). Pada terapi TMS, pasien menjalani terapi dalam kondisi sadar. Pasien diberikan gelombang elektromagnetik ke dalam otaknya melalui kepala. Gelombang elektromagnetik itu yang nantinya akan menyeimbangkan fungsi neurotransmiter.

Jenis terapi kedua yaitu psikoterapi. Terapi ini dalam bentuk bicara atau berinteraksi langsung. Ada tiga jenis terapi psikoterapi. Terapi sportif yakni membuat pasien dengan gangguan Bipolar agar menjadi lebih bail. Terapi edukatif yaitu mengubah maindset yang semula irasional jadi rasional. Terapi rekonstruktif yaitu terapi yang berangkat dari riwayat hidup dan segala akar masalah hidup yang belum terselesaikan.

Selain psikologi, ada rehabilitasi psikososial. Intinya dalam terapi ini bertujuan untuk memulihkan fungsi-fungsi pasien yang sudah terganggu. Orang dengan gangguan Bipolar itu sudah terganggu fungsi sosialnya. Sehingga perlu adanya latihan keterampilan.

Terapi ketiga yaitu rehabilitasi psikososial. Intinya pada terapi ini bertujuan memulihkan fungsi-fungsi pasien yang sudah terganggu. Biasanya orang dengan gangguan Bipolar terganggu fungsi sosialnya. Sehingga pada terapi ini ada latihan keterampilan sosial. Bila pasien terganggu pada kognitifnya maka akan dilakukan remediasi kognitif.

Bila ada pasien tidak bisa bekerja dan beraktivitas, maka harus menjalani terapi okupasi dan vokasional. Misalnya berlatih membuat hidroponik, membuat telur asin, membuat tata boga, membuat sulaman dan lain-lain.

2 dari 2 halaman

Tiga Faktor Gangguan Bipolar

Sebagai penyakit medis, Lahargo mengatakan ada tiga faktor penyebab terjadinya gangguan Bipolar pada seseorang. Ketiga faktor tersebut adalah faktor bilogi, psikologi dan sosial.

Hal mendasar dari faktor biologi adalah genetik. Bila ada faktor genetik di keluarga yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental sekalipun bukan Bipolar atau gangguan emosional lainnya, maka mereka akan beresiko. Hal ini akan terjadi sepanjang memiliki hubungan darah. Mereka akan lebih rentan mengidap Bipolar.

Seorang ibu ketika sedang mengandung rentan mengalami gangguan fisik dan emosional. Bila selama mengandung janin, sang ibu sedih berkepanjangan maka bayi dalam kandungan akan berpotensi mengalami gangguan Bipolar. Faktor biologis lainnya, yaitu gangguan kepala akibat jatuh terbentur kepala, dan penggunaan narkoba jenis apapun.

Pada faktor psikologi, berbagai peristiwa kehidupan bisa memengaruhi kondisi psikologi seseorang. Pengalaman perisakan, pengalaman menakutkan, keinginan tidak tercapai, kekecewaan, kehilangan, kemarahan yang terpendam itu semua faktor psikologis yang bisa menyebabkan seseorang mengidap Bipolar.

Sementara faktor sosial lingkungan yaitu pola asuh, nilai budaya, agama juga dapat memberikan dampak pada psikologis. Pola asuh orangtua yang otoriter, dimanja atau diabaikan atau punya nilai-nilai agama yang keras itu mempengaruhi secara sosial.

"Jadi faktor biopsikososial ini akan mempengaruhi dan menyebabkan gangguan keseimbangan zat kimia di otak atau kita sebut Neurotransmiter," kata Lahargo menjelaskan.

Berbagai faktor tersebut mampu membuat seseorang mengidap gangguan Bipolar. Setidaknya ada tiga jenis gangguan Bipolar. Gangguan Bipolar 1 ditandai dengan episode mood yang manik atau mania.

Pada episode ini, seseorang akan merasa senang atau gembira berlebihan di luar yang sewajarnya. Sangat berenergi, punya tenaga yang lebih sehingga terlihat sangat aktif mengerjakan berbagai hal. Pada episode manik ini seseorang akan kurang tidur.

Sedangkan gangguan Bipolar tipe 2, seseorang akan mengalami depresi yang disertai hipomania. Namun, bila hanya depresi saja, hal itu belum bisa disebut gangguan Bipolar.

Untuk gangguan Bipolar campuran, yaitu jika suasana hati naik turun dalam waktu singkat. Misalnya, seseorang mengalami episode hipomania berhari-hari kemudian berubah menjadi depresi dalam waktu singkat. [ang]

Baca juga:
Perjuangan Berat Pendamping Penyintas Bipolar
Tenar dan kaya, artis-artis ini justru hidup dengan bipolar
Bipolar, gangguan mental yang tidak boleh disepelekan
Teliti lagi, ini 8 sinyal gangguan bipolar mulai menghampiri

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini