Berbatasan Langsung dengan Samudera Hindia, Desa Terpencil di Tulungagung Ini Jadi Tempat Pelarungan Abu Jenazah

Pesanggrahan ini dibangun pada tanggal 18 Mei 2010 oleh PT Gudang Garam TBK

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Berbatasan Langsung dengan Samudera Hindia, Desa Terpencil di Tulungagung Ini Jadi Tempat Pelarungan Abu Jenazah
Berbatasan Langsung dengan Samudera Hindia, Desa Terpencil di Tulungagung Ini Jadi Tempat Pelarungan Abu Jenazah (Merdeka.com)

Pesanggrahan Madya Nirwana merupakan sebuah pesanggrahan yang berada di pesisir selatan Tulungagung. Lokasinya cukup terpencil dan jauh dari keramaian.

Dilansir dari kanal YouTube Jejak Richard, pesanggrahan itu dibangun oleh PT Gudang Garam TBK dan digunakan untuk melarung abu jenazah warga Tionghoa. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Melalui sebuah video yang diunggah pada 1 Mei 2024 ini, kanal YouTube Jejak Richard berkesempatan untuk mengunjungi pesanggrahan tersebut. Tampak di sana ada beberapa pemancing yang baru saja memancing di area pesanggrahan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Untuk bisa menuju ke lokasi pesanggrahan, pengunjung harus berjalan kaki terlebih dahulu sejauh 400 meter. Jalan setapak menurun itu sudah dibangun dengan berbagai fasilitas penunjang, salah satunya adalah tempat pegangan tangan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sementara di tiap sisi jalan itu ada rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah di samping jalan itu masih banyak yang sederhana. Rupanya rumah-rumah itu tidak berdiri di lahan pribadi, melainkan berada di lahan perhutani.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Setelah melewati area permukiman warga, pengunjung akan melewati tengah hutan jati. Suasananya sungguh indah, sejuk, dan alami. Dari kejauhan, bangunan pesanggrahan sudah terlihat. Samar-samar, birunya laut juga sudah terlihat.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di tempat itulah abu jenazah warga Tionghoa dilarung. Pesanggrahan itu dibangun pada tanggal 18 Mei 2010 di atas tebing yang berbatasan langsung dengan laut selatan Jawa.

Saat kanal YouTube Jejak Richard datang ke tempat itu, tampak beberapa warga keturunan Tionghoa sedang melakukan sebuah ritual. Mereka ternyata sedang melaksanakan tradisi Cheng Beng.

Pada bulan April-Mei, biasanya banyak peziarah warga Tionghoa yang datang ke tempat itu. Pada masa itu, mereka akan melaksanakan tradisi Cheng Beng untuk mendoakan keluarga atau kerabat mereka yang abu jenazahnya dilarung di sana. 

Tak jauh dari pesanggrahan itu, tepatnya di salah satu sisi jalan setapak menuju pesanggrahan, terdapat lorong misterius yang menuju entah ke mana. Lorong itu ukurannya begitu kecil.

Namun bila dijelajahi lagi, di lorong itu, ada tangga menurun yang melintas di tengah bebatuan karang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Rupanya lorong itu merupakan jalan menuju tempat keramat di kawasan pesanggrahan. Tempat itu biasanya digunakan untuk ritual masyarakat penghayat kepercayaan maupun masyarakat kejawen.

Imam Nurhadi, salah seorang warga di sana, mengatakan bahwa biasanya banyak orang datang ke tempat keramat itu pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Pon, Jumat Legi, dan Selasa Kliwon.

“Yang ritual di situ biasanya punya keinginan. Itu kan kepercayaan pribadi masing-masing,” kata Imam Nurhadi seperti dikutip dari kanal YouTube Jejak Richard.  

Rekomendasi