Masjid 10 Lantai di Malang Berdiri Megah tanpa Arsitek, Dibangun Malam Hari Didesain Seorang Kiai

Ada anggapan bahwa masjid ini tiba-tiba ada dan pembangunannya dibantu jin

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Masjid 10 Lantai di Malang Berdiri Megah tanpa Arsitek, Dibangun Malam Hari Didesain Seorang Kiai
Masjid 10 Lantai di Malang Berdiri Megah tanpa Arsitek, Dibangun Malam Hari Didesain Seorang Kiai (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Masjid 10 lantai di sebuah kampung kecil di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini dikenal dengan sebutan Masjid Tiban. Kata "Tiban" berasal dari Bahasa Jawa yang artinya tiba-tiba. Masyarakat sekitar menyebut masjid ini disebut tiba-tiba ada.

Cerita yang Beredar

Istilah Masjid Tiban konon diberikan oleh seorang sopir angkot yang nyletuk pada penumpangnya kalau ada Masjid Tukul (Tumbuh) dari bumi sekitar tahun 2000-an. Sejak saat itu, banyak rombongan datang ke masjid ini ingin mencari kepastian.

Saat itu ada pengunjung asal Gondanglegi dan Tumpang, Malang yang mengaku mendapat kabar dari seorang sopir kalau ada Masjid Tiban. Hingga kini, tidak pernah diketahui siapa sosok sopir yang menyebarkan cerita tersebut.

Pondok Pesantren

Masjid bernuansa biru ini sebenarnya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri'asali Fadlaailir Rahmah. Lokasinya di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06 Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang. Sekitar 40 kilometer dari pusat kota Malang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pondok ini didirikan oleh almarhum KH Hadratus Syeikh Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam atau yang akrab disapa Romo Ahmad.

(Foto: Google Maps IkaRini)

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Romo Ahmad mulai merencanakan pembangunan pondok sejak tahun 1963, namun izinnya baru keluar pada 1978. Pembangunan baru dilakukan mulai tahun 1987. 

(Foto: Google Maps Riza Yunan)

Dibangun Malam Hari

Mengutip Instagram @jatimpemprov, akses jalan yang sulit dan hanya satu arah menjadi alasan proses pembangunan masjid dilakukan pada malam hari. Tujuannya agar tidak menggangu mobiltas warga sekitar.

Atas dasar inilah, warga menyebut masjid ini tiba-tiba ada karena mereka tidak menyaksikan langsung proses pembangunannya. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menariknya, masjid 10 lantai dengan banyak fungsi ini sama sekali tidak menggunakan jasa arsitek. Desain pembangunannya diarahkan langsung oleh Romo Ahmad, pemilik pondok pesantren.

Pembangunan

Romo Ahmad mengaku mendapatkan petunjuk pembangunan masjid ini saat salat istikarah.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Masjid Tiban terdiri dari 10 lantai yang difungsikan sesuai kebutuhan pondok pesantren. Lantai 1 hingga lantai 4 digunakan untuk beribadah serta kegiatan harian para santri. 

(Foto: Google Maps naning fauziah)

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Lantai 5 dan lantai 6 digunakan untuk ruang keluarga. Kemudian, lantai 7 dan lantai 8 digunakan sebagai pertokoan yang menjual kebutuhan harian para santri.

(Foto: Google Maps aditya marta kasih)

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Lantai 9 didesain sebagai lereng gunung masjid. Lantai 10 merupakan puncak dari gunung sekaligus sebagai rooftop.

(Foto: Google Maps Sofya MC)

Rekomendasi