Mengenal Krisis Eksistensial, Pahami Jenis dan Cara Mengatasinya

Ketika seseorang mengalami krisis eksistensial, mereka telah sampai pada titik di mana mereka mempertanyakan tujuan hidup dan makna hidupnya yang sebenarnya. Bagaimana Anda menghadapi dilema krisis eksistensial dengan cara yang lebih efektif dan bermakna? Langkah pertama adalah memahami artinya.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Mengenal Krisis Eksistensial, Pahami Jenis dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi stres. ©Ilustrasi stres

Ketika seseorang mengalami krisis eksistensial, mereka telah sampai pada titik di mana mereka mempertanyakan tujuan hidup dan makna hidupnya yang sebenarnya. Kita semua ingin merasa bahwa hidup memiliki makna. Namun, ketika kita mulai mengajukan pertanyaan besar tentang tujuan hidup - sering kali akibatnya adalah depresi eksistensial.

Komedian terkenal dan ahli tertawa amatir sama-sama sering mengolok-olok krisis eksistensial. Tidak ada yang salah dengan itu sama sekali. Humor bisa menjadi salah satu cara untuk menghadapi keputusasaan eksistensial ketika tidak ada cara lain yang berhasil. Ketakutan eksistensial adalah pengalaman yang umum, menertawakannya dengan orang lain dapat membawa kita bersama dalam cara yang positif.

Tertawa menawarkan kelegaan, tetapi biasanya hal tersebut hanya bersifat sementara. Akhirnya, Anda mungkin ingin menemukan jawaban yang lebih berguna untuk pertanyaan eksistensial Anda. Jadi, bagaimana Anda menghadapi dilema krisis eksistensial dengan cara yang lebih efektif dan bermakna? Langkah pertama adalah memahami apa arti dari krisis eksistensial berikut ini, mengutip dari betterhelp.com.

Pengertian Krisis Eksistensial

Psikolog mendefinisikan krisis eksistensial sebagai titik balik di mana Anda mulai mempertanyakan makna dan tujuan hidup secara lebih dalam. Ini adalah momen ketika Anda merasa perlu menemukan makna atau tujuan dalam hidup, dan sering disebut sebagai malam gelap bagi jiwa.

Krisis eksistensial dapat terjadi ketika Anda berada dalam segala jenis krisis, stres, atau menghadapi keputusan yang sulit. Itu juga bisa terjadi pada saat teduh ketika hidup tampak tidak berguna, atau Anda terputus dari orang lain di sekitar saat Anda sedang berjuang untuk memahami tujuan hidup Anda sendiri.

Ada banyak alasan berbeda mengapa seseorang mungkin mengalami krisis eksistensial dan mulai menderita depresi eksistensial. Anda mungkin berada pada titik dalam hidup di mana sesuatu perlu bergeser dan berubah. Dunia modern berubah terus-menerus, begitu pula manusia. Berikut adalah berbagai jenis depresi eksistensial.

Jenis Krisis Eksistensial

Banyak psikolog telah mengidentifikasi empat atau lima aspek kehidupan berdasarkan filosofi eksistensial. Setiap kejadian kecemasan dan keputusasaan eksistensial dapat menjadi sumber kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya seperti gangguan obsesif-kompulsif. Dengan menyelesaikan dilema ini dan menjawab pertanyaan sulit yang berkaitan dengan keberadaan manusia, Anda dapat melewati krisis eksistensial Anda.

1. Kebebasan dan Tanggung Jawab

Banyak orang mengira bahwa makna hidup yang paling hakiki adalah kebebasan penuh. Namun kebebasan datang dengan tanggung jawab. Ketika Anda secara mental menerima kebebasan untuk membuat pilihan, dalam kaitannya dengan batasan agama dan moralitas tradisional Anda tidak bisa lagi menyalahkan orang lain atas apa yang Anda lakukan.

2. Kematian dan Keterbatasan

Anda tidak dapat memilih kapan akan mati. Anda tidak dapat memilih untuk menjadi tidak terbatas. Apa yang dapat Anda lakukan adalah memilih apakah akan mengakui kematian dan keterbatasan secara psikologis daripada mengembangkan krisis makna akan keduanya.

3. Isolasi dan Keterhubungan

Jenis krisis eksistensial lainnya adalah antara isolasi dan keterhubungan, yang berada pada kontinum dan bukan sebagai keadaan on-off. Meskipun isolasi total tampak nyaman dan lebih mudah dikelola, isolasi gagal memenuhi kebutuhan sosial yang penting bagi manusia. Keterhubungan yang lengkap, di sisi lain, mungkin memuaskan secara sosial. Tetapi dapat membatasi kebebasan dan krisis eksistensial dapat terjadi.

4. Arti dan Makna

Manusia mencari makna untuk hidup mereka. Ketika mereka tidak dapat menemukannya, manusia membuatnya. Ketika kita tidak dapat menemukan makna dalam hidup atau energi mental yang diperlukan untuk menciptakannya, ketakutan dan kecemasan eksistensial dapat menyerang pikiran. Gangguan psikologis seperti gangguan kepribadian ambang (BPD) dan gangguan obsesif-kompulsif biasanya berkembang selama periode pencarian ini.

5. Emosi, Pengalaman, dan Perwujudan

Psikologi eksistensial mengakui pentingnya emosi. Ahli teori psikologi eksistensial Amerika, Rollo May, menyarankan bahwa kecemasan harus diterima secara positif. Ini sejalan dengan karya Nietzsche, yang mendorong penerimaan pengalaman emosional.

Identifikasi Dilema Eksistensial Anda

Ketika sedang berada di tengah-tengah dilema eksistensial, Anda mulai merenungkan masalah seputar keberadaan atau pemahaman tentang apa artinya berada di bumi ini. Anda mungkin merasakan kecemasan, ketakutan, atau bahkan rasa takut. Akan terasa juga bahwa segala sesuatu tidak memiliki harapan atau tidak berguna lagi. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melewati dilema ini dan menemukan sumber krisis eksistensial.

1. Kenali, Rangkul dan Ekspresikan Ketakutan Eksistensial Anda

Bagi banyak orang, hidup tampak lebih pasti ketika emosi disembunyikan atau disingkirkan. Teori eksistensial menyatakan bahwa cara paling sehat untuk menghadapi emosi adalah dengan mengalami dan merangkulnya. Biarkan diri Anda merasakan ketakutan dan kecemasan eksistensial. Ekspresikan dengan kata-kata, seni, musik, dan tindakan.

2. Mencari Jawaban Secara Aktif

Banyak orang dapat menyelesaikan krisis eksistensial setelah mencari jawaban secara aktif. Anda dapat menemukan kemungkinan jawaban dengan beberapa cara. Contohnya seperti bertanya pada diri sendiri, riset, mempertimbangkan opsi, dan  menerima bahwa manusia pada dasarnya tidak bisa mengetahui segala hal yang ada di Bumi ini.

3. Bangun dan Pertahankan Koneksi dengan Orang Lain

Membangun dan memelihara koneksi bisa menjadi tantangan yang sulit, terutama di saat tragedi dan trauma. Koneksi individu tersebut dapat membantu Anda menyelesaikan krisis dan melampaui situasi yang merugikan. Temukan orang untuk dihubungi sehingga Anda dapat merasakan dukungan. Selama masa stres dalam krisis eksistensial, Anda membutuhkan teman dan orang yang peduli untuk mendukung Anda.

4. Temukan Makna Eksistensial Anda

Carilah peluang untuk membangun makna dan koneksi. Temukan ideologi tentang kematian yang masuk akal bagi Anda. Biarkan diri merasakan emosi secara penuh dan temukan jalan untuk mengekspresikannya.

Cara Mengatasi Krisis Eksistensial

Krisis eksistensial dapat membuat cemas, tetapi jika Anda bisa menahan rasa sakit emosional yang menyertainya, maka Anda bisa bertahan lebih lama. Namun jika tidak, berikut adalah beberapa alasan untuk segera mendapatkan bantuan secara profesional:

  • Anda memiliki pikiran, rencana, atau perilaku untuk bunuh diri.
  • Anda secara serius mempertimbangkan untuk menemukan makna dengan menyakiti orang lain dan mendapati diri Anda membuat rencana untuk melakukannya.
  • Apa pun kasusnya, Anda harus segera pergi ke klinik kesehatan mental atau rumah sakit setempat.

Berbicara dengan terapis eksistensial dapat membantu Anda melewatinya. Dalam jenis terapi ini, konselor memungkinkan Anda untuk mengarahkan jalannya terapi, membicarakan apa yang penting bagi Anda dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Jika Anda ingin mengatasi masalah eksistensial, Anda akan mendapat manfaat dari jenis terapi yang berfokus pada makna hidup. Terapi eksistensial adalah bentuk perawatan yang sangat baik untuk orang yang mengalami stagnasi dalam hidup. Anda akan mengatasi hambatan yang dihadapi dan mengembangkan rencana untuk membuat hidup menjadi lebih memuaskan.

Penyebab Krisis Eksistensial

Krisis eksistensial adalah ketika Anda mulai mempertanyakan keberadaan Anda, dan ada banyak cara untuk memicunya. Berikut beberapa pemicu atau penyebab krisis eksistensial;

  1. Usia. Saat Anda masih remaja atau baru beranjak dewasa, Anda mungkin mulai mempertanyakan keberadaan diri dan apakah nantinya Anda dapat memberi pengaruh pada dunia atau tidak. Ini bisa menjadi semacam krisis identitas. Ketika Anda bertambah tua, krisis paruh baya mungkin datang dalam bentuk depresi eksistensial atas kematian. Krisis paruh baya dapat mempertanyakan seberapa banyak hal yang telah Anda lakukan sampai pada tahap hidup yang sekarang.
  2. Kerugian besar. Anda mungkin mulai mempertanyakan keberadaan diri sendiri atau untuk apa keberadaan orang lain.
  3. Perubahan keyakinan. Misalnya, jika Anda tidak lagi percaya pada agama Kristen, Anda mungkin bertanya-tanya mengenai apa tujuan hidup yag sebenarnya.
  4. Terkadang, krisis eksistensial terjadi tanpa alasan sama sekali. Anda mungkin merasa gelisah dan putus asa meski hidup berjalan dengan baik. Eksistensi manusia pada dasarnya memang aneh dan tidak bisa ditebak.
Rekomendasi