Kabar duka datang lagi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Minggu (5/7) tengah malam, dokter Putri Wulan Sukmawati tutup usia karena COVID-19. Dokter Putri merupakan salah satu dokter yang bertugas di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Kabar duka tersebut diunggah melalui akun Instagram @idisurabaya pada Senin (6/7). Dikutip dari Liputan6.com, Ketua IDI Surabaya dr Brahmana Askandar membenarkan kabar meninggalnya dokter Putri.
Advertisement
Punya Penyakit Penyerta
Dokter kelahiran 1987 tersebut termasuk anggota IDI Kota Surabaya. Ia menjalani perawatan medis di RSUD Dr Soetomo sejak 16 Juni 2020 hingga dinyatakan meninggal karena COVID-19.
Dokter yang sedang menempuh program pendidikan dokter spesialis (PPDS) anak itu memiliki penyakit penyerta atau komorbid, alias tidak hanya terjangkit virus corona jenis baru penyebab COVID-19.
"Iya, COVID-19. Beliau ada komorbid,” terang Brahmana.
Advertisement
Daftar Panjang Dokter Meninggal karena COVID-19
Dokter Putri merupakan dokter keenam yang meninggal karena COVID-19 di Surabaya dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Dokter Putri sendiri juga tidak bertugas di ruang isolasi COVID-19.
Meninggalnya dokter Putri Wulan Sukmawati menambah daftar panjang dokter di Surabaya yang meninggal karena COVID-19. Sebelumnya ada dr Berkatnu Indrawan Janguk, dr Boedhi Harsono, dr Miftah Fawzy Sarengat (PPDS FK Unair), dr I S Tjahyadi dan dr Arief Basuki yang lebih dulu gugur karena COVID-19.
Advertisement
Tenaga Kesehatan yang Gugur
Sebelumnya, sebanyak 24 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter dan perawat di Jawa Timur yang meninggal dunia karena COVID-19.
Pada pekan ini, seorang dokter anestesi yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Haji Surabaya tutup usia karena COVID-19 pada 30 Juni 2020. Selain itu seorang perawat Rumah Sakit Islam (RSI) di Jalan Ahmad Yani, Surabaya juga tutup usia setelah terpapar COVID-19.
Advertisement
Bahaya Penyakit Penyerta
Menurut penjelasan Ketua IDI Jatim, dr Sutrisno SpOG, jumlah dokter terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 88 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 dokter meninggal dunia karena COVID-19.
Sutrisno menuturkan, beban kerja turut mempengaruhi kondisi kesehatan para tenaga medis. Namun, saat ini sudah dikurangi. Selain itu, penyebab meninggalnya tenaga kesehatan karena COVID-19 dikarenakan adanya penyakit penyerta atau komorbid.
"Ada yang sakit jantung, diabetes, obesitas dan ada yang tidak ada komorbidnya,” terang Sutrisno, Kamis (2/7).
Advertisement
Anjuran Ketua IDI Jatim
Sutrisno menganjurkan supaya seluruh rumah sakit menyesuaikan pelayanannya. Yakni dengan membagi pelayanan menjadi COVID-19 dan nonCOVID-19. Selain itu, untuk menekan penyebaran virus corona jenis baru penyebab COVID-19, juga perlu diadakan tes masif, isolasi yang positif, segera merawat pasien yang sakit, serta pelacakan atau tracing intensif setelah ditemukan kasus terkonfirmasi positif COVID-19
"Jurusnya 3T, dan edukasi terus menerus oleh media, tenaga kesehatan, pejabat dan tokoh masyarakat,” pungkas Ketua IDI Jatim.