Menilik Asal Usul Sumenep, Daerah yang Mengalami Empat Zaman, Kini Punya Pelabuhan Terbanyak di Jatim

Pernah jadi daerah di bawah bayang-bayang Jawa hingga jadi daerah khusus

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Menilik Asal Usul Sumenep, Daerah yang Mengalami Empat Zaman, Kini Punya Pelabuhan Terbanyak di Jatim
Menilik Asal Usul Sumenep, Daerah yang Mengalami Empat Zaman, Kini Punya Pelabuhan Terbanyak di Jatim (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kabupaten Sumenep mengalami empat zaman. Mulai dari zaman keraton (feodal), keraton dalam bayang-bayang VOC dan kolonialisme (neo feodal), runtuhnya sistem keraton (akhir abad 19), dan era kedaulatan RI (1945).

Zaman keraton jilid pertama yakni saat Adipati Madura Aria Wiraraja berkedudukan di Sumenep. Saat itu, Sumenep berada di bawah bayang-bayang Jawa (Singasari).

Mengutip situs resmi Pemkab Sumenep, usai Kerajaan Singasari runtuh, tiba lah era baru yakni era Majapahit yang dimulai tahun 1393 masehi. Pada masa Majapahit, Sumenep tercatat sebagai konseptor sekaligus bidan. 

Berkat kepiawaian Wiraraja (Banyak Wide), Dyah Wijaya (menantu Raja Singasari terakhir, sekaligus keturunan laki-laki dari Ken Arok), berhasil merebut kembali mahkota Wangsa Rajasa.

Dyah Wijaya berterima kasih kepada Wiraraja dengan menjadikan Sumenep sebagai wilayah khusus.

Dyah Wijaya memberikan separuh wilayah Majapahit kepada Wiraraja. Wilayah yang diberikan saat itu kini dikenal sebagai daerah Lumajang. 

Sementara Wiraraja memimpin Lumajang, Sumenep diberikan kepada sang adik, Aria Bangah.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pada masa-masa kerajaan berikutnya, Sumenep tetap dalam bayang-bayang Jawa. Puncaknya, pada tahun 1620-an masehi, Sumenep dan seluruh wilayah Madura jatuh ke tangan Kerajaan Mataram. 

Kedatangan bangsa asing ke nusantara, membuka pintu perubahan zaman bagi Sumenep. Perlawanan Pangeran Madura bernama Trunojoyo pada pertengahan abad 17, menarik simpati rakyat kecil.

Saat melawan penjajah, mau tidak mau penguasa (keraton) dengan rakyat harus bersatu. Pada masa ini, wibawa keraton masih terjaga. Rakyat kecil masih menjunjung bahasa krama inggil saat berhubungan dengan pihak keraton.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Perkembangan situasi sedikit menyulitkan penguasa di Sumenep dan daerah lain do Madura. Penguasa Jawa (Mataram) yang terjebak dalam perjanjian-perjanjian politik dengan Belanda, mulai kehilangan wibawa akibat perlawanan Trunojoyo. 

Keraton Berakhir, RI Berdaulat<br>
Dok. Istimewa

Pada tahun 1880-an masehi, sistem keraton dihapuskan. Penguasa lokal ibarat pegawai yang digaji. Perlahan-lahan, struktur pemerintahan dirombak. Hingga akhirnya masuk pada era kedaulatan RI.

Kini Kabupaten Sumenep dikenal sebagai daerah dengan pelabuhan terbanyak di Jawa Timur. Banyaknya pelabuhan di kabupaten ini memudahkan akses layanan logistik dan perdagangan.

Mengutip Instagram @jatimpemprov, Kabupaten Sumenep memiliki sembilan pelabuhan. Pelabuhan Kalianget, Pelabuhan Masalembu, Pelabuhan Sapudi, Pelabuhan Raas, Pelabuhan Sapeken, Pelabuhan Kangean, Pelabuhan Keramaian, Pelabuhan Dungkek, dan Pelabuhan Giliyang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Banyaknya pelabuhan di Kabupaten Sumenep tak lepas dari banyaknya pulau-pulau kecil di daerah ini.

Rekomendasi