Dulu Kerja Kantoran, Pensiunan BUMN Ini Pilih Jalani Hari Tua Jadi Petani di Madiun

Sandjoko menjadi pegawai BUMN selama 33 tahun. Setelah pensiun, ia memutuskan untuk jadi petani di kampungnya.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Dulu Kerja Kantoran, Pensiunan BUMN Ini Pilih Jalani Hari Tua Jadi Petani di Madiun
Dulu Kerja Kantoran, Pensiunan BUMN Ini Pilih Jalani Hari Tua Jadi Petani di Madiun (Merdeka.com)

Ia pulang kampung dan memberdayakan para petani di desanya

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/YouTube PecahTelur

Puluhan tahun menjadi pegawai BUMN di Jakarta tak membuat Sandjoko Tanoyo lupa akan kampung halamannya. Saat pandemi Covid-19 melanda, ia sekeluarga pulang kampung ke Desa Betek, Kecamatan/Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Sandjoko menjadi pegawai BUMN selama 33 tahun. Setelah pensiun, ia pun masih dipercaya untuk mengelola salah satu anak usaha BUMN.

"Setelah itu saya jadi konsultan gadai perusahaan swasta. Kemudian waktu Covid-19 marak-maraknya mengharuskan saya pulang kampung," jelas Sandjoko, dikutip dari YouTube PecahTelur, Sabtu (13/7/2024).

Pilih Bertani
© 2024 merdeka.com/YouTube PecahTelur

Pria berusia 68 tahun ini sempat bingung, kegiatan apa yang bisa ia lakukan saat pulang ke desa. Akhirnya, ia pun mantap belajar seluk-beluk pertanian dan peternakan. Kini, tak hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, Sandjoko juga memberdayakan para petani lain di desanya.

Sandjoko belajar seluk-beluk pertanian dengan serius, selain praktik langsung, ia memperdalam keilmuan seputar pertanian melalui berbagai pelatihan.

Singkat cerita, Sandjoko menerapkan konsep pertanian berkesinambungan. Beruntungnya, apa yang dilakukan Sandjoko ini sevisi dengan program PT Pegadaian yang bertajuk The Gade Integrated Farming. BUMN ini kemudian memfasilitasi berbagai pelatihan untuk Sandjoko dan rekan-rekan sesama petani di bawah organisasi Konco Tani (Kontan) Betek Kabupaten Madiun.

"Setelah pelatihan membuat pupuk organik oleh Pegadaian sampai sekarang, pupuk padat maupun cair kami bagikan gratis ke petani. Sudah ada 1.500 liter pupuk kepada para petani," ungkap Sandjoko.

Saat ini, pupuk organik yang diproduksi oleh Kontan Desa Betek tengah menunggu izin edar untuk dapat dijual bebas. Meski demikian, ketika nantinya pupuk organik ini dijual bebas, pupuk organik cair akan tetap dibagikan gratis untuk para petani Kontan Desa Betek.

"Misi sosialnya tetap, di sini tempat belajar membuat pupuk organik," imbuhnya.

Pelajaran Hidup
© 2024 merdeka.com/YouTube PecahTelur

Bagi Sandjoko, bertani tidak hanya membuat fisiknya sehat karena teteap berkegiatan di usia senja. Bertani juga membuat pola pikirnya menjadi lebih baik. Kini, ia tidak hanya seorang petani yang ingin untung sendiri, tetapi mengajak para petani lain bersama-sama menjadi petani mandiri.

Sandjoko mengakui bahwa dirinya adalah sosok yang senang bekerja. Ia selalu mencurahkan kemampuan terbaiknya dalam setiap pekerjaan yang digeluti.

"Istri saya sempat bilang ke anak, 'Itu bapakmu kasihan, dulu kerja kantoran sekarang setiap hari ke sawah'. Melihat saya bahagia menjalaninya akhirnya perlahan-lahan mengerti," tandas Sandjoko.

Rekomendasi