Kisah Nenek di Surabaya Tak Sanggup Beli Alat Dengar untuk Cucu yang Diasuhnya

Kamis, 2 Desember 2021 09:09 Reporter : Rizka Nur Laily M
Kisah Nenek di Surabaya Tak Sanggup Beli Alat Dengar untuk Cucu yang Diasuhnya Ilustrasi orang alami masalah pendengaran harus pakai alat bantu dengar. ©2021 Merdeka.com/Dok. Kementerian Kesehatan

Merdeka.com - Muhammad Alfarizi, balita berusia dua tahun di Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, Jawa Timur, didiagnosa mengalami masalah pendengaran. Menurut hasil pemeriksaan rumah sakit, masalah yang dialami balita tersebut membuatnya harus menggunakan alat bantu dengar.

"Namun, karena harga alat bantu dengar yang mahal, pihak keluarga tidak sanggup untuk membeli. Apalagi, sang balita kini harus diasuh oleh sang nenek, karena ibundanya sudah meninggal beberapa waktu lalu," terang Camat Simokerto Kota Surabaya, Deddy Sjahrial Kusuma, Rabu (1/12/2021).

Ambil Langkah Cepat

Deddy menjelaskan, sebenarnya sejak Agustus 2021, kader kesehatan dan Puskesmas Simolawang sudah melakukan pendampingan dan pemeriksaan terhadap balita itu.

Ia bersama jajaran kelurahan dan Puskesmas mengantar balita dan neneknya ke RSUD dr Soewandhie untuk melakukan pemeriksaan intensif.

"Jadi sudah ditangani RSUD dr Soewandhie dan hasil pemeriksaan memang ada gangguan dengan pendengaran. Besok kembali lagi ke rumah sakit untuk dilakukan pengukuran alat bantu dengar. Nanti, setelah itu 3 pekan alatnya datang, karena harus pesan dulu dari Jakarta," ungkapnya.

2 dari 3 halaman

Bantuan Pemkot

ilustrasi orang alami masalah pendengaran harus pakai alat bantu dengarilustrasi ©2021 Merdeka.com/Dok. Kementerian Kesehatan

Pemkot Surabaya melalui Dinas Kesehatan memberikan intervensi kepada balita tersebut berupa bantuan alat dengar. Selain itu, intervensi berupa makanan juga sudah diusulkan ke Dinas Sosial.

"Untuk makanan juga sudah dibantu. Kemudian terkait bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) juga sudah diurus oleh Dinas Sosial," lanjut Deddy, dikutip dari Antara.

Kini, balita tersebut tercatat ke dalam Kartu Keluarga (KK) Sulikah, sang nenek yang beralamat di RT 12 RW 05, Kelurahan Simolawang, Kecamatan Simokerto. Sementara itu, alamat ayah dari balita itu berada di Perak.

"Nah, balita ini sudah masuk ke KK neneknya. Ini dulu memang rencana mau dipindah ke alamat Simolawang, tapi kemudian belum sampai, ibunda si balita meninggal," imbuhnya.

3 dari 3 halaman

Kronologi Kejadian

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Simolawang Kecamatan Simokerto Kota Surabaya, dr. Dwi Sapta Edy Purnama menuturkan, sebelumnya balita tersebut pernah diperiksa di puskesmas pada 20 Agustus 2021.

"Jadi tanggal 20 Agustus 2021 periksa ke puskesmas. Setelah diperiksa, ada keterlambatan bicara dan gangguan pendengaran, lalu kami beri rujukan ke rumah sakit RSUD dr Soewandhie," tutur dr Edy.

Namun sang nenek ingin cucunya dirujuk ke rumah sakit Al-Irsyad Surabaya dengan alasan lebih dekat dari rumah. Seiring berjalannya waktu, sang nenek juga sempat memeriksakan cucunya ke rumah sakit swasta dan dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan) di kawasan Bronggalan.

"Jadi saat bulan Agustus itu memang neneknya yang minta agar cucunya dirujuk ke RS Al-Irsyad. Meski bekerja sama dengan BPJS, tapi bukan rumah sakit milik pemkot, akhirnya pemkot tidak bisa intervensi lebih lanjut sampai muncul di medsos itu," tandasnya.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini