Bagi Anda sebagian besar umat Muslim, pasti sudah tidak asing lagi dengan ungkapan Ahlan Wa Sahlan. Biasanya, kalimat dalam bahasa Arab ini diucapkan untuk menyambut kedatangan seseorang. Hal ini lantas memunculkan pemahaman bahwa arti ahlan wa sahlan sama dengan selamat datang. Hal ini tidaklah salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.
Menurut buku Catatan Ramadhan oleh Kholid A.Harras, masyarakat Arab mengucapkan Ahlan wa sahlan ketika datang kepadanya tamu yang mengunjunginya yang memang telah dinanti-nantikan. Sehingga penyambutannya dilakukan dengan penuh suka cita. Hal tersebut sesuai dengan perintah Rasulullah yang berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Arti ahlan wa sahlan sejatinya lebih luas dari sekedar selamat datang. Secara harfiah, asal kata ahlan adalahadalah ahlun yang artinya “keluarga”, dan asal kata sahlan adalah sahlun yang diartikan sebagai “mudah”. Jadi, ketika dirangkai menjadi satu kesatuan maka arti ahlan wa sahlan akan menjadi “saya menerima Anda sebagai/menjadi bagian dari keluarga kami, dan kami juga menerima Anda dengan mudah”.
Untuk itu, jika merujuk pada penjabaran di atas maka arti ahlan wa sahlan kurang lebih adalah;“silakan, jangan sungkan-sungkan” atau “silakan, anggap saja rumah sendiri” seperti yang dikutip dari ponpespantialhuda.com. Membahas tentang arti ahlam wa sahlan secara rinci dan lengkap adalah penting agar tidak ada lagi persepsi yang keliru. Berikut penjelasan selengkapnya.
Advertisement
Secara umum, arti ahlan wa sahlan yang beredar luas pada saat ini sebagai ucapan selamat datang. Mengutip dari pecihitam.org, arti ahlan wa sahlan ini tidaklah salah namun juga tidak 100% benar. Kalimat ahlan wa sahlan ( أَهْلًا وَسَهْلًا ) dalam bahasa Arab berasal dari kata “ahlun” ( أهْلَ ) yang berarti keluarga dan kata “sahlan” ( سَهْلًا ) dari kata “sahlun” ( سَهْل ) yang artinya mudah. Jika dua kata tersebut digabung maka memiliki arti “keluarga” dan “mudah.
Ungkapan ini asalnya dari satu ungkapan dalam bahasa Arab, yakni; "Engkau benar telah kami anggap sebagai keluarga kami dan engkau telah singgah di tempat kami dalam keadaan mudah atau tanpa adanya kesulitan."
Saat Anda mengucapkan ahlan wa sahlan, itu artinya Anda telah menganggap seseorang sebagai bagian dari keluarga. Anda juga sedang berusaha untuk memberikan kemudahan bagi orang yang Anda jumpai, tidak mempersulit urusan-urusannya, menampakkan kasih sayang padanya, dan juga menghormatinya.
Arti kata ahlan memiliki makna yang menggambarkan rasa persaudaraan dan sifat kasih sayang. Sedangkan arti kata sahlan yang berarti mudah bermakna sikap tolong menolong, berbuat baik, dan saling meringankan beban antar sesama. Untuk itu, arti ahlan wa sahlan yang Anda ucapkan tidak hanya sebatas pada selamat datang dan mempersilahka seseorang untuk masuk ke rumah atau teritori Anda, tetapi juga untuk menganggapnya sebagai bagian dari keluarga yang berhak untuk dihormati, dihargai, dikasihi, dan diperlakukan dengan layak serta baik.
Secara etimologis, kata “ahlan” (secara gramatikal menjadi hal dan karena itu dibaca mansub) berasal dari kata “ahl” (أهل) yang artinya keluarga, seperti misalnya dalam rangkaian kata ahlu l-bait (keluarga serumah, atau keluarga Nabi Muhammad SAW, atau lebih khusus lagi keluarga Nabi melalui garis keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah), ahli waris (keluarga yang berhak mendapatkan bagian harta waris), ahli Syam (keluarga atau penduduk Syam), ahlu al-jannah (penghuni Surga), ahlu l-diyar (ahli kubur, orang-orang yang sudah mati dan dikuburkan di suatu pemakaman itu), ahlu al-kitab (umat beragama yang diberikan Kitab Suci yang berisi wahyu dari Tuhan, seperti Yahudi dengan Kitab Taurat-nya, dan Umat Nasrani dengan Kitab Injil-nya, dan lain-lainnya).
Sementara “Sahlan” berasal dari kata “sahala” (سهل) yang artinya mudah, gampang, ringan, atau tidak ada halangan sama sekali. Jadi selama Anda di sini di rumah saya ini, atau selama menjadi tamu di sini, Anda tidak perlu malu-malu, sungkan atau pakewuh untuk menyampaikan apa saja yang anda perlukan, menikmati makanan dan minuman yang telah dihidangkan, atau berabjak ke toilet. Pasalnya, selama menjadi tamu (dhaif, dhuyuf) maka berarti Anda menjadi bagian dari keluarga (ahli) tuan rumah. Bahkan kalau bisa anggap saja rumah ini serasa rumah Anda sendiri.
Jadi “Ahlan wa sahlan” itu kira-kira sama seperti ungkapan dalam bahasa Inggris “May our house be like your family home and like a level plain on which you can walk easily and safely!” (Semoga rumah kami bisa menjadi seperti rumah keluarga Anda sendiri dan menjadi tempat yang membuat Anda mudah, nyaman dan aman!).
Advertisement
Ketika sudah mempelajari dan mengerti makna sesungguhnya dari ahlan wa sahlan, maka tak lengkap rasanya jika tidak sekalian mebahas bagaimana cara menjawab ucapan ahlan wa sahlan dengan benar. Ahlan wa sahlan dapat direspon dengan menyesuaikan terhadap siapa yang mengucapkan kalimat tersebut.
Jika yang mengucapkan laki-laki, maka Anda dapat menjawabnya dengan; “Ahlan bika” yang artinya :”Selamat datang juga kamu (laki-laki)”.
1. Jika yang mengucapkan perempuan, maka Anda dapat menjawabnya dengan; “Ahlan biki” yang
artinya : “Selamat datang juga kamu (perempuan)”.
2. Jika yang mengucapkan ahlan wa sahlan adalah sekelompok orang secara berbarengan, maka Anda dapat menjawabnya dengan; “Ahlan bikum” yang artinya : “Selamat datang juga kamu sekalian (jamak)”.
3. Jika yang mengucapkan arti ahlan wa sahlan adalah sekelompok orang secara berbarengan, maka Anda dapat menjawabnya dengan; “Ahlan bikum” yang artinya : “Selamat datang juga kamu sekalian (jamak)”.
Ahlan bika, Ahlan biki, dan Ahlan bikum mempunyai makna yang sama, yaitu “Sama-sama” atau “Selamat datang juga kamu”. Yang berbeda hanya lah kepada siapa kalimat tersebut ditujukan.
Advertisement
Dalam agama Islam, telah ada imbauan agar seorang Muslim hendaklah jangan memulai ucapan salam secara islam kepada orang yang non muslim dan jangan pula menggunakan salam non Muslim untuk menyapa mereka. Mengutip dari muslim.or.id, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam.” [HR. Muslim].
An Nawawi juga menjelaskan; “Sebagian dari ulama mazhab menyatakan makruhnya memulai salam (kepada orang kafir), tidaklah diharamkan. Pendapat ini lemah, karena (konteks) larangan menunjukkan keharaman. Yang benar adalah haram memulai salam kepada mereka.” [Al-Azkar 1/323].
Namun, Islam bukanlah agama yang begitu kaku. Para ulama telah menjelaskan bahwa Anda boleh mendahului salam kepada orang-orang non muslim jika terdapat kebutuhan dan mashlahat yang lebih besar. Itu pun dengan catatan bahwa pengucapan salamnya tidak menggunakan salam non muslim. Anda dapat menggunakan salam secara bahasa yang lebih universal, seperti misalnya selamat pagi, selamat malam, atau selamat datang.
Dalam al- Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan, “Apabila ada kebutuhan/hajat untuk memulai salam, maka tidaklah mengapa, akan tetapi tidak menggunakan salam (doa keselamatan). (boleh) Mengatakan ‘ahlan wa sahlan’ (selamat datang), ‘Kaifa haluk’ (bagaimana kabar) dan sejenisnya. Salam saat itu karena ada hajat, bukan untuk menghormati berlebihan’.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 25/168].
Demikian juga seperti yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim, “Sebagian ulama menjelaskan, boleh mendahului salam karena ada mashlahat yang lebih besar, misalnya ia membutuhkannya, takut dari gangguannya atau karena ada hubungan kerabat atau sebab lain yang menuntut ia harus memulai salam.” [Zadul Ma’ad 2/424].