Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita Unik Watu Gajah di Tuban, Dipercaya sebagai Arena Tempur Patih Gajah Mada

Cerita Unik Watu Gajah di Tuban, Dipercaya sebagai Arena Tempur Patih Gajah Mada Watu Gajah Tuban. ©2020 Merdeka.com/Youtube Jelajah Nesia

Merdeka.com - Kumpulan beberapa batu besar berbentuk gajah di persawahan Kabupaten Tuban dipercaya masyarakat setempat sebagai arena pertempuran Patih Gajah Mada. Cerita itu menjadi bagian dari kisah tutur turun-temurun di kalangan masyarakat setempat.

Bentuknya yang menyerupai gajah membuat masyarakat sekitar menamainya dengan sebutan “Watu Gajah”. Batu ini persisnya terletak di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Cerita Rakyat

watu gajah tuban

©2020 Merdeka.com/Youtube Jelajah Nesia

Sebagian masyarakat meyakini batu tersebut adalah bekas pertempuran Patih Gajah Mada. Dikutip dari bloktuban.com, pertempuran terjadi saat Kusumawardhani, anak Raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit mendatangi tokoh penyebar agama Islam, Syech Abdullah Asy'ari atau Sunan Bejagung Lor. Tujuan kedatangannya yakni untuk berguru ilmu agama.

Sunan Bejagung Lor sendiri dikenal sebagai seorang penyebar agama yang gigih, pandai bergaul, dan mudah diterima semua lapisan masyarakat. Hal itulah yang membuat Kusumawardhani sangat berniat menimba ilmu dari Kanjeng Sunan.

Raja Hayam Wuruk tidak berkenan anaknya belajar agama Islam karena digadang-gadang akan menjadi pewaris tahta kerajaan Majapahit. Ia kemudian memerintahkan Patih Gajah Mada untuk menghalangi niat putri Kusumawardhani.

Pihak Kerajaan mengirimkan bala pasukan gajah dari Majapahit yang dipimpin Patih Gajah Mada. Mereka berusaha menyerang padepokan Sunan Bejagung. Adu kesaktian terjadi antara Patih Gajah Mada dengan Kanjeng Sunan Bejagung Lor.

Di sela adu kesaktian itu, Kanjeng Sunan menyabda pasukan gajah menjadi batu. Maka, jadilah batu-batu yang mempunyai ukuran cukup besar, sekilas wujudnya menyerupai gajah sampai sekarang.

Adu Kesaktian Masih Berlanjut

watu gajah tuban

©2020 Merdeka.com/Youtube Jelajah Nesia

Melihat pasukannya sudah menjadi batu, Patih Gajah Mada geram. Sontak, ia mengoyak pohon kelapa hingga buahnya berjatuhan. Segera ia meminumnya.

Sebaliknya, Kanjeng Sunan dengan santai melambaikan tangan ke arah pohon kelapa. Pohon kelapa itu seolah menjadi hidup dan patuh. Batangnya melengkung dari ujung pohon sampai ke tanah mengikuti lambaian tangan Sunan Bejagung. Ia kemudian memetik satu buah dan memberikannya kepada Gajah Mada untuk diminum.

Adu kesaktian masih berlanjut. Gajah Mada menantang Kanjeng Sunan mengambil ikan di laut dalam kondisi hidup dengan kesaktian yang dimiliki. Gajah Mada menggunakan ilmunya untuk mendapatkan ikan, namun yang didapat justru ikan mati. Sebaliknya, Sunan Bejagung Lor yang mengambil ikan dengan bermodal daun waru dan timba yang terisi air berhasil mendapatkan ikan hidup.

Kembali ke Kerajaan

watu gajah tuban

©2020 Merdeka.com/Youtube Jelajah Nesia

Juru Kunci Makam Sunan Bejagung, Darmawan menceritakan, awalnya Patih Gajah Mada percaya bisa mengalahkan Sunan Bejagung Lor dengan mudah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dua kali kalah dalam adu kesaktian, membuat Gajah Mada dengan berat hati mengakui kehebatan Sunan Bejagung Lor.  

Juru Kunci makam Sunan Bejagung ke-9 itu menambahkan, usai kalah melawan Kanjeng Sunan, akhirnya Gajah Mada angkat kaki kembali ke kerajaan tanpa hasil alias tanpa membawa anak Raja Hayam Wuruk.

Tidak Terawat

watu gajah tuban

©2020 Merdeka.com/Youtube Jelajah Nesia

Dikutip dari Facebook Media Informasi Orang Tuban, keberadaan batu-batu mirip gajah itu terkesan diabaikan. Kondisinya sudah tidak lagi mirip dengan gajah lantaran ulah tangan manusia. Bahkan sudah lenyap digunakan bahan batu koral. Endapan tanah yang terus bertambah juga telah mengubur batu-batu itu. Sehingga yang tampak sekarang hanya bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di atas tanah merah.

Menurut cerita warga setempat, dulu bebatuan itu benar-benar mirip gajah berbaris. Tempat itupun dikeramatkan. Anak-anak kecil dilarang mendekati tempat itu lantaran ada keyakinan bisa terkena musibah.

Tempat itu sering dijadikan tempat meditasi oleh sejumlah kalangan. Tidak sedikit yang meyakini gajah-gajah yang menjadi batu tersebut masih hidup secara gaib di sekitar tempat itu. Bahkan, menurut penuturan sejumlah warga asli yang telah lanjut, dahulu sering terdengar suara gajah pada malam-malam tertentu.

Dimanfaatkan Warga

 

Seiring perkembangan waktu, tempat itu tidak lagi keramat. Masyarakat setempat memanfaatkan batu-batu mirip gajah itu untuk berbagai keperluan. Kawasan itu juga telah dimanfaatkan warga sebagai lahan pertanian.

Popularitas Watu Gajah berangsur surut. Saat ini tidak banyak orang mengenal tempat itu. Upaya untuk mengabadikannya dengan menamakan tim sepak bola Kecamatan Semanding dengan nama PS Watu Gajah rupanya tidak membawa pengaruh besar.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP