Anak Driver Taksi Online di Sidoarjo Tak Boleh Ikut Ujian, Begini Curhatan Sang Ayah
Merdeka.com - Seorang pengemudi taksi online di Kabupaten Sidoarjo, Willy Kristanto (52) mengeluhkan sikap pihak Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di wilayah setempat yang melarang anaknya mengikuti Penilaian Tengah Semester (PTS).
Larangan tidak ikut PTS itu buntut dari adanya tunggakan biaya yang diwajibkan bayar oleh pihak sekolah, namun orang tua pelajar kelas IX itu belum mampu melunasinya.
Sementara itu, Willy termasuk golongan masyarakat tidak mampu sehingga benar-benar tertekan dengan biaya sekolah anak laki-lakinya tersebut.
Curhat Orang Tua

©2022 Merdeka.com/Instagram @beritaseputarsidoarjo
Warga Desa Sumorame, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo itu mengungkapkan bahwa syarat agar sang anak bisa mengikuti PTS ialah membayar 50 persen tunggakan biaya sekolah.
"Pihak sekolah dimintai membayar 50 persen dari tunggakan biaya sekolah anak saya, Rp2 juta lebih. Saya benar-benar tidak ada, apa yang harus saya buat bayar," keluhnya, Selasa (11/10/2022).
Bapak tiga anak itu menyesalkan keputusan pihak sekolah yang tidak memperbolehkan putranya mengikuti PTS yang dimulai pada Senin, 3 Oktober 2022 lalu.
Ia mengaku sedih melihat anaknya di rumah, sedangkan teman-teman sekelasnya sedang mengikuti PTS selama lima hari di sekolah.
"Sebelum dimulai ujian itu memang saya dipanggil pihak sekolah terkait masalah tunggakan uang DO. Saya bilang mau nitip uang 300 ribu dulu supaya anak saya dapat ikut ujian, saya sudah usaha ke sana kemari dapatnya segitu," ungkap dia, dikutip dari akun Instagram @beritaseputarsidoarjo.
Bayar Cicilan
Willy mengaku mengesampingkan kebutuhan rumah tangga demi menyicil tunggakan biaya sekolah anaknya. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi taksi online dengan mobil sewaan itu membayar cicilan biaya sekolah anaknya sebesar Rp300 ribu.
Dia berharap sekolah menerima cicilan tersebut dan memperbolehkan sang anak mengikuti ujian, namun ternyata harapannya tak berbalas.
"Jumat saya bayar, terus hari Senin pertama ujian dimulai paginya saya WA gurunya "apakah anak saya sudah boleh ikut ujian hari ini?". Katanya sesuai keputusan Kepala sekolah harus membayar separuh dulu baru bisa ikut," imbuhnya.
Willy dan keluarganya yang tinggal di rumah tanpa pintu mengaku hanya ingin buah hatinya sekolah hingga lulus SMA.
Selain anak bungsunya yang masih SMP, Willy juga mengeluhkan persoalan yang dialami anak perempuannya.
Ijazah SMA sang putri ditahan pihak sekolah karena yang bersangkutan belum melunasi biaya pendidikan. Akibatnya, kini sang anak kesulitan mencari kerja.
"Saya sebagai orang tua sudah berusaha keras mencari uang untuk biaya sekolah anak. Meskipun menunggak saya berusaha mengangsur kok. Tapi kalau enggak bisa ikut ujian saya takut anak saya kena mental dan enggak mau sekolah lagi," tandasnya.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya