Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Terancam Punah, Begini Strategi UGM Selamatkan Gajah Sumatra

Terancam Punah, Begini Strategi UGM Selamatkan Gajah Sumatra Ilustrasi gajah Sumatra. ©WWF-Indonesia/Supriyanto

Merdeka.com - Gajah Sumatra merupakan salah satu hewan dilindungi yang keberadaannya terancam punah. Populasinya telah mengalami penurunan hingga 35 persen sejak tahun 1992. Oleh karena itu banyak pihak berusaha untuk menyelamatkan eksistensi hewan langka tersebut.

Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) Dr. R. Wisnu Cahyo menyebut banyak faktor yang mengakibatkan penurunan populasi Gajah Sumatra semakin tak terkendali.

Beberapa di antaranya adalah aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, pembunuhan akibat konflik, serta perburuan hewan. Oleh karena itu dia dan timnya mengembangkan strategi untuk menyelamatkan Gajah Sumatra dari ancaman kepunahan.

Lantas seperti apa langkah strategi konservasi agar eksistensi hewan langka itu tetap terjaga? Berikut selengkapnya:

Ancaman Parasit

leishmania

©Washington University School of Medicine/Getty Images

Selain aktivitas ilegal yang dilakukan manusia, habitat gajah juga terancam dengan adanya penyakit yang disebabkan infeksi bakteri, virus, dan juga parasit.

Melalui kajian bersama dengan Lembaga Biologi Molekuler Ejikman, Wisnu menemukan penyakit infeksi yang dapat menyerang Gajah Sumatra di antaranya infeksi parasit, bakteri, virus, dan jamur. Di antara semua itu, infeksi oleh parasit memegang peranan penting mengingat gajah-gajah di alam bergantung makanan pada tumbuh-tumbuhan.

Selain itu, iklim di Indonesia sepanjang tahun dengan curah hujan di Pulau Sumatra yang relatif tinggi menjadikan habitat parasit berkembang.

Keragaman Genetik Gajah Sumatra

mengunjungi barumun nagari wildlife sanctuary rumah bagi gajah sumatra yang terluka

Instagram/@barumunnagari ©2021 Merdeka.com

Selain itu, kondisi gajah yang ditangkap dan kemudian masuk ke dalam Pusat Latihan Gajah (PLG) dalam waktu lama akan mempengaruhi keberagaman genetik dan struktur populasi.

Hal ini dikarenakan ada keterbatasan aliran gen dan peningkatan “genetic drift” serta resiko perkawinan sesama keluarga. Perbedaan asal usul dari Gajah Sumatra yang berada di PLG juga mempengaruhi keberagaman genetik dari satwa genetik khas Indonesia ini.

Dari studi yang dilakukan PKH UGM dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman serta University of Liege, Belgia, diketahui bahwa terdapat keragaman genetik yang rendah pada populasi Gajah Sumatra jinak di lembaga konservasi.

Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi populasi Gajah Sumatra jinak ini mengalami tekanan inbreeding. Hal ini disebabkan Gajah Sumatra berada pada populasi kecil di Lembaga Konservasi.

“Langkah-langkah pengelolaan lembaga konservasi di masa depan harus dikembangkan untuk mempertahankan keberagaman genetik dan mencegah inbreeding dari populasi Gajah Sumatra yang masih ada,” kata Wisnu dikutip dari Ugm.ac.id pada Selasa (8/2).

Program yang Dijalankan

mengunjungi barumun nagari wildlife sanctuary rumah bagi gajah sumatra yang terluka

Instagram/@barumunnagari ©2021 Merdeka.com

Terkait dengan usaha penyelamatan Gajah Sumatra, Wisnu dan timnya menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra untuk melakukan konservasi, salah satunya adalah dengan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC).

Dari kerja sama itu, mereka menjalankan sejumlah program salah satunya meningkatkan kualitas pengelolaan gajah jinak secara terpadu, lalu membangun sistem database gajah jinak terkait data individual, rekam medis, identifikasi penyakit, dan analisis DNA.

“Gajah Sumatra menjadi subspesies Gajah Asia yang masih tersisa di dunia dengan status terancam punah. Populasinya terus menurun karena berbagai faktor. Oleh sebab itu, usaha konservasi penting dilakukan guna menjaga dan melestarikan Gajah Sumatra ini,” papar Wisnu.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP