Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah 4 Januari 1946: Perpindahan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta

Sejarah 4 Januari 1946: Perpindahan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta Ilustrasi Kota Yogyakarta. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Seperti diketahui, Indonesia mempunyai sejarah yang panjang untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Di bawah penjajahan berbagai negara seperti Belanda, Jepang, hingga Inggris, seluruh masyarakat Indonesia bersatu dan berjuang bersama melawan para kolonial. Hingga pada 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia yang diwakili oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, memproklamasikan diri sebagai negara yang merdeka.

Ternyata tidak berhenti sampai di situ, pemerintahan Indonesia masih terus berjuang karena keberadaan Belanda yang masih mengusik. Bahkan Soekarno dan Hatta pun tidak luput dari berbagai teror yang ditujukan untuk melemahkan kembali pemerintahan Indonesia. Kondisi pun kembali genting, hingga terpaksa pada 4 Januari 1946, Ibukota Republik Indonesia dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

Perpindahan Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta ini dilakukan untuk menghindari situasi yang semakin kacau setelah Belanda menguasai Jakarta. Rencana perpindahan Ibukota ini pun dilakukan dengan singkat rapat terbatas. Berdasarkan usulan dan koordinasi dari pemerintah Daerah Yogyakarta, Soekarno memutuskan untuk mengatur pemerintahan nasional dari kota Yogyakarta.

Dalam upaya perpindahan Ibukota Jakarta ke Yogyakarta ini mempunyai runtutan peristiwa penting yang perlu diketahui. Ini juga menjadi momentum sejarah yang perlu diingat bagi masyarakat Indonesia untuk menghargai perjuangan para pahlawan. Dilansir dari laman TNI, berikut kami merangkum sejarah 4 Januari 1946 tentang perpindahan Ibu Kota RI ke Kota Yogyakarta.

Kedatangan Tentara NICA Belanda

tugu pal putih yogyakarta kian apik tanpa gangguan kabel melintang

©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Peristiwa pemindahan Ibukota RI ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 bermula saat kedatangan tentara NICA Belanda yang ingin menguasai kembali wilayah jajahan di Indonesia. Sebelumnya, Jepang telah menyerah pada sekutu Indonesia pada 14 Agustus 1945. Kemudian 16 September 1945, tentara Indonesia berlabuh di Tanjung Priok untuk melucuti senjata dan memulangkan tentara Jepang serta membebaskan tawanan perang.

Namun kedatangan tentara sekutu ternyata diboncengi oleh tentara NICA Belanda. Pada saat itu, tentara NICA ingin kembali membangun wilayah penjajahan di Indonesia.

Kedatangan tentara Belanda semakin membuat ketegangan dengan rakyat Indonesia. Pihak Belanda seperti menganggap bahwa Indonesia belum merdeka dan masih menjadi wilayah penjajahannya.

Beberapa Tokoh Nasional Menjadi Sasaran

Setelah kedatangan tentara Belanda di Tanjung Priok, situasi pun semakin kacau. Bahkan dengan sengaja, pemerintah Belanda membuka kantor dan bersikeras kembali menguasai Ibukota Jakarta.

Bukan hanya itu, upaya Belanda yang ingin kembali berkuasa juga dilakukan dengan upaya penculikan dan pembunuhan beberapa tokoh nasional. Seperti pada 26 Desember 1945, di mana Menteri Sutan Sjahrir dikejar sekelompok bersenjata dan nyaris dibunuh. Namun untungnya berhasil diselamatkan oleh Pilisi Militer Inggris.

Bukan hanya itu, pada 28 Desember 1945 Menteri Keamanan Rakyat, Amir Sjarifuddin pun tak luput jadi sasaran. Saar itu Menteri Amir dalam perjalanan menuju rumah Bung Karno, ia pun nyaris terkena sasaran tembak di depan Sekolah Tinggi Guru karena peluru meleset dan hanya mengenai mobil. Namun sebulan sebelumnya, Ketua Komite Nasional Indonesia Mohammad Roem tertembak di bagian paha kirinya.

Gelar Rapat Terbatas

menteri muda era soekarno

©2020 Merdeka.com

Situasi yang semakin bahaya pun turut mengancam Soekarno saat itu. Soekarno bahkan sempat mendapat beberapa kali ancaman dan teror mengerikan.

Tidak bisa dibiarkan terlalu lama, kemudian Soekarno menggelar rapat terbatas pada 1 Januari 1946 di kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Dari hasil rapat tersebut, pemerintah Indonesia sepakat untuk mengendalikan jalannya pemerintahan dasri lingkup daerah.

Kemudian pada 2 Januari 1946, Sultan Hamengku Buwono X saat itu menyarankan agar Ibukota ri dipindahkan sementara ke Yogyakarta. Lalu Soekarno menanyakan kembali kesanggupan dan kesiapan pemerintah Yogyakarta untuk menerima rencana pemindahan Ibukota. Setelah menyanggupi, Soekarno menerima tawaran tersebut.

Sampai di Yogyakarta

Proses pemindahan Ibukota Jakarta ke Yogyakarta pun segera dilakukan. Pada 3 Januari 1946, rombongan Soekarno-Hatta dan para menteri kabinet secara diam-diam melakukan perjalanan menuju Yogyakarta dengan Kereta Api Luar Biasa sekitar pukul 18.00 WIB.

Berangkat dari kediaman Soekarno, 15 pasukan khusus siap mengawal para tokoh hingga sampai di Yogyakarta. Setelah melewati 15 jam perjalanan kereta, rombongan akhirnya sampai di Yogyakarta pada 4 Januari 1946 pukul 09.00 WIB.

Diumumkan Melalui Siaran RRI

vredeburg

©2012 Merdeka.com

Pada hari kedatangan rombongan Soekarno ke Yogyakarta, Wakil Menteri Penerangan, Mr. Sli Sastromidjoyo mengumumkan siaran resmi pemindahan Ibukota RI ke Yogyakarta melalui siaran RRI. Dalam siaran tersebut, dijelaskan pemindahan Ibukota dilakukan karena situasi Jakarta yang semakin genting dan tidak aman. Selain itu, fasilitas yang ada di Yogyakarta dinilai sangat memadai untuk dijadikan pusat sistem pemerintahan sementara.

Itulah yang menjadi alasan dipilihnya Kota Yogyakarta sebagai Ibukota untuk menjalankan pusat pemerintahan sementara. Sejak saat itu, yaitu 4 Januari 1946 Yogyakarta resmi menjadi Ibukota RI dan pemerintah Indonesia kembali meneruskan perjuangan melawan penjajah Belanda. Pusat pemerintahan Indonesia saat itu berkantor di Gedung Agung yang terletak di seberang bekas benteng Vredeburg.

(mdk/ayi)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP