Rumahnya Beberapa Kali Hampir Terbakar, Begini Kabar Terbaru Wanita yang Tinggal di Gubuk Terpencil Tengah Hutan Rembang

Gubuk tempat ia selama ini tinggal beberapa kali nyaris terbakar karena dampak pembakaran lahan dari orang tidak dikenal.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Rumahnya Beberapa Kali Hampir Terbakar, Begini Kabar Terbaru Wanita yang Tinggal di Gubuk Terpencil Tengah Hutan Rembang
Kabar terbaru wanita Rembang yang tinggal sendiri di tengah hutan (YouTube/Musyafa Musa)

Pada tahun 2020 lalu, sempat viral kisah seorang perempuan yang tinggal di tengah hutan Rembang bernama Kartini. Sejak suaminya meninggal dunia, ia harus hidup sendiri menafkahi ketiga anaknya.

Ia memutuskan tinggal di hutan belantara karena tergiur dengan penawaran lahan yang diklaim memiliki prospek keuntungan yang tinggi dengan adanya rumor bahwa di sekitar lahan akan dibuat pertanian tebu.

Untungnya lahan yang ia beli itu tanahnya subur. Di sana ia berhasil menanam berbagai macam sayuran hingga buah-buahan yang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari.

Kini empat tahun telah berlalu. Kartini masih betah hidup sendirian di tengah hutan. Lalu seperti apa ia menjalani hari-harinya? Berikut selengkapnya:

Melalui video yang diunggah Minggu (21/10), pemilik kanal YouTube Musyafa Musa berkesempatan untuk mengunjungi rumah Ibu Kartini dan mengadakan sesi wawancara di sana.

Ibu Kartini memberi sambutan hangat pada Musyafa Musa. Walaupun hampir berusia 60 tahun, secara fisik ia tampak sehat. Selain itu wajahnya tampak lebih segar. Namun dari lubuk hatinya, Kartini memendam kegelisahan.

Ia bercerita gubuk tempat ia selama ini tinggal beberapa kali nyaris terbakar karena dampak pembakaran lahan dari orang tidak dikenal. Saat itu api membakar habis lahan hingga pohon-pohon di belakang gubuknya.

Saat itu Kartini sempat panik. Ia berusaha keras memadamkan api itu sendirian. Karena hembusan angin kencang saat musim kemarau, api jadi sulit dikendalikan. Sebagian tanaman yang selama ini menjadi pagar pembatas rumahnya juga ikut hangus terbakar. Beruntung ia masih dapat mencegah lahap api menjalar hingga sampai rumahnya. Namun peristiwa yang sudah dua kali terjadi itu membuatnya trauma.

“Peristiwa itu terjadi tahun lalu. Pohon pisang saya yang subur dari utara sampai ke selatan mati semua. Nggak ada yang bisa saya mintai tolong. Bahkan penggarap lahannya saja, sudah saya kabari, dia nggak mau tahu,” kata Kartini dikutip dari kanal YouTube Musyafa Musa.

Selain kebakaran, masalah air juga menjadi tantangan bagi Kartini. Ia harus berhemat antara memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari dan berbagi dengan tanaman. Ia pun bersyukur listrik pembangkit tenaga surya di samping gubuknya masih mampu menyedot air dari penampungan air di samping gubuknya.

“Alhamdulillah puji syukur sampai detik ini saya masih dikasih air. Tapi saya jaga, saya hati-hati, karena ini puncak musim kemarau. Ini sudah satu bulan ini saya nggak nyiram pohon lagi. Kemarin itu listriknya juga bermasalah, gara-gara itu satu minggu saya nggak bisa mengambil air,” tutur Kartini.

Hari-hari Kartini dihabiskan dengan bertani. Belakangan ia semangat menanam kunyit karena harganya yang lumayan. Sementara itu ketiga anaknya tinggal di luar kota dan sudah berkeluarga.

Walaupun tinggal sendiri, ia mengaku terhibur begitu mendengar kabar dari anak-anaknya. Anak pertamanya kini sudah punya anak sehingga Kartini sekarang sudah menjadi seorang nenek. Sementara putri keduanya baru saja menyelesaikan kuliah S2 di New Zealand, sementara itu putri ketiganya tinggal di Korea bersama suaminya.

Tak terasa hari sudah malam. Musyafa Musa pamit pada Kartini untuk pulang ke Rembang.

Rekomendasi