Kisah Inspirasi Joko Kendang, Teruskan Usaha Sang Kakek Jadi Perajin Alat Musik Tradisional

Joko rela meneruskan usaha keluarga demi melestarikan alat musik kendang agar tidak punah.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Kisah Inspirasi Joko Kendang, Teruskan Usaha Sang Kakek Jadi Perajin Alat Musik Tradisional
Kisah Inspirasi Joko Kendang, Teruskan Usaha Sang Kakek Jadi Perajin Alat Musik Tradisional (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kendang merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia. Seiring perkembangan seni musik modern, penggunaan kendang makin jarang ditemukan, begitu pula dengan perajinnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Namun bukan berarti para perajin kendang sudah tidak ada lagi. Salah satu perajin kendang yang masih eksis hingga kini terdapat di Dusun Daleman, Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak. Ia adalah Joko Purnomo atau akrab disapa Joko Kendang. Ia merupakan generasi ketiga yang menekuni alat musik kendang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Joko menjadi perajin kendang berkat usaha turun-temurun dari keluarganya. Ia menjadi perajin kendang meneruskan usaha ayahnya sejak tahun 2005.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kerajinan kendang milik Joko sudah dirintis kakeknya sejak tahun 1950-an. Penjualan kendang itu tak hanya berada di pulau Jawa, namun sudah dipasarkan hingga Kalimantan dan Sumatra. Dalam sebulan mereka dapat memproduksi sekitar 50-100 kendang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Harga kendang yang ia jual juga cukup beragam. Mulai dari Rp800 ribu hingga Rp5 juta tergantung ukuran dan jenisnya. Kayu pohon nangka termasuk jenis yang paling bagus menurut penuturan Joko. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dilansir dari kanal YouTube Bantul TV, produksi kendang itu tidak ia lakukan sendiri. Badan kendang ia datangkan dari Wonogiri dan Sukoharjo. Sedangkan bagian kendang lainnya ia kerjakan bersama empat karyawan lainnya.

Konsumen kendang buatannya beragam, mulai dari paguyuban, perguruan tinggi, hingga pemerintah. Ia menuturkan jika ia tak hanya mewarisi usaha keluarganya sebagai mata pencaharian, namun juga sebagai upaya melestarikan budaya Jawa.

“Belajarnya otodidak. Kan tiap kali saya lihat, terus membantu, terus karena bapak saya sudah sepuh, akhirnya saya pegang sendiri,” kata Joko. 

Rekomendasi