Pergantian tahun memang menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat dunia. Bukan hanya menandai pergantian waktu, momen tahun baru juga memberikan harapan kehidupan baru yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Ini pun menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk memperbaiki diri dan merencanakan hal-hal baik ke depan.
Dalam ajaran Islam, pergantian tahun bukan hanya menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan melakukan hal baik di tahun berikutnya, tetapi juga sepatutnya menjadi momen untuk mensyukuri hal-hal yang telah didapatkan selama satu tahun terakhir. Berbagai kebaikan yang telah didapatkan, bisa menjadi penyemangat untuk terus melanjutkan usaha-usaha baik lainnya di tahun selanjutnya.
Berbagai petuah kebaikan di tahun baru ini sering kali disampaikan oleh khatib dalam ibadah khotbah Jumat di awal-awal tahun. Bukan hanya berisi pesan dan petuah, namun khotbah Jumat tentang tahun baru ini juga menjadi pengingat tersendiri bagi seluruh umat muslim untuk terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah.
Jika Anda sedang mencari inspirasi isi khotbah, beberapa contoh khotbah minggu pertama tahun baru berikut bisa menjadi salah satu pilihan Anda. Dengan beberapa contoh ini, Anda bisa mengembangkan isi khotbah dengan menambah berbagai referensi sesuai konteks yang diangkat.
Dilansir dari NU Online, berikut kami merangkum contoh khotbah minggu pertama tahun baru bisa Anda simak.
Advertisement
Khotbah Minggu Pertama Tahun Baru: Syukur atas Nikmat Selama Setahun
Berikut contoh khotbah minggu pertama tahun baru dengan tema rasa syukur atas nikmat yang telah didapatkan selama satu tahun terakhir, bisa Anda simak:
Segala puji merupakan milik Allah swt, Tuhan semesta alam. Segala anugerah yang telah kita nikmati sampai detik ini, tidak lain adalah pemberian dari-Nya. Khususnya, nikmat iman, nikmat Islam, juga nikmat sehat wal afiat. Dengan kenikmatan-kenikmatan itu, sudah sepatutnya kita datang dan bertemu pada siang hari ini dalam rangka menunaikan ibadah kepada-Nya. Tidak lain, inilah bentuk syukur kita atas semua hal itu.
Selanjutnya, khatib mengajak kita semua untuk senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad, Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammad. Semoga shalawat kita juga dapat mengalir kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’in, dan juga kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya rabbal alamin.
Allah swt memerintahkan kita untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah-ibadah, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh-Nya.
Sebagai bagian dari peningkatan takwa itu, kita perlu senantiasa bersyukur atas segala nikmat karunia yang telah Allah swt anugerahkan kepada kita semua, sehingga kita bisa dapat menjalani kehidupan dengan baik.
jemaah Jumat yang dimuliakan Allah swt, begitu banyak hal yang telah kita lalui sepanjang tahun 2022, mulai dari hal yang terasa berat, tidak enak, hingga nikmat-nikmat yang memberikan rasa bahagia bagi kita.
Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah semua hal tersebut patut kita syukuri. Iya, sekalipun bisa dipastikan sepanjang tahun itu tidak semuanya bahagia dan ada saja hal yang membuat kita kecewa, kesal, dan sedih, pasti saja ada hal penting yang belum kita ketahui di balik itu semua.
Selain memang, kesedihan, kekecewaan, dan kekesalan yang kita terima itu jauh lebih sedikit daripada kenikmatan yang telah kita terima. Sebab, banyak hal yang tanpa kita sadari, itu adalah nikmat besar yang seringkali luput dari pengamatan. Padahal, itulah yang biasa kita rasakan saban hari sejak kali pertama terlahir di dunia sampai hari ini. Misalnya, udara yang kita hirup sebagai napas diperoleh secara gratis. Kita tidak dapat membayangkan seumpama oksigen itu harus kita bayar.
Kita juga kerap lupa dengan nikmat sehat yang selama ini kita nikmati. Saat kita ditimpa sakit, barulah kita memohon-mohon berdoa kepada Allah agar lekas disembuhkan, sedang saat sehat, kita sendiri lupa tidak mensyukurinya.
Nabi Muhammad saw sampai menyebut hal itu dalam hadisnya, bahwa banyak orang tertipu akan dua kenikmatan, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu. jemaah Jumat yang berbahagia, Allah swt secara tegas memerintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 152 berikut.
Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
Dalam Tafsir Al-Baghawi, disebutkan bahwa bersyukur itu dilakukan ketaatan, sedangkan tidak kufur berarti tidak bermaksiat. Sementara menurut Imam Al-Qurthubi, bahwa syukurnya seorang hamba ini harus diucapkan dengan lisan dan diikrarkan dalam hati bahwa menggunakan nikmat itu untuk ketaatan.
jemaah Jumat yang dimuliakan Allah swt, dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa dengan bersyukur, niscaya nikmat kita akan ditambah. Hal itu termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 berikut.
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”.”
Dalam kitab tafsirnya, Imam Al-Baghawi mengutip sebuah pendapat, bahwa syukur itu mengikat yang sudah ada dan memburu yang tiada. Ia juga menyampaikan bahwa syukur yang sesungguhnya adalah dengan senantiasa menjalankan ketaatan atas segala perintah Sang Pemberi nikmat itu.
Sementara hal yang ditambahkan adalah pahalanya. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui bahwa nikmat itu tidak lain ditujukan bagi Sang Pemberi nikmat itu sendiri, yaitu Allah swt, dan tidak menggunakannya untuk selain taat kepada-Nya.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah swt, Oleh karena itu, dari penjelasan para ulama di atas, dapat kita ambil pengertian bahwa bersyukur berarti adalah menggunakan segala nikmat yang kita peroleh untuk menunaikan ketaatan kita, yaitu menghamba kepada-Nya, beribadah karena-Nya.
Dalam hal ini, kita perlu meningkatkan ketaatan kita mulai hari ini dan ke depannya sebagai tanda syukur kita atas segala nikmat yang telah Allah swt anugerahkan kepada kita. Dan menjadikan ini sebagai bagian dari resolusi tahun 2023 kita.
Saking mulianya bersyukur, Rasulullah saw bersabda, bahwa orang yang makan dan bersyukur itu sederajat dengan orang berpuasa dan sabar atas puasanya itu. Dari hal itu, khatib mengajak jemaah semuanya untuk bersyukur atas segala anugerah yang telah kita peroleh dengan senantiasa meningkatkan ketaatan kita kepada-Nya, menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk beribadah kepada-Nya.
Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan untuk mensyukuri seluruh nikmat-Nya sehingga kita tergolong sebagai ‘ibadiyassyakur, hamba-hamba Allah yang banyak bersyukur.
Advertisement
Khotbah Minggu Pertama Tahun Baru: Menjadi Pribadi Lebih Baik
Berikut contoh khotbah minggu pertama tahun baru dengan tema menyongsong tahun baru menjadi pribadi lebih baik, bisa Anda simak:
jemaah shalat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.
Segala puji serta syukur marilah kita panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala nikmatnya, sehingga kita dapat berkumpul untuk melaksanakan kewajiban kita di hari yang penuh berkah ini. Tentu, khatib berwasiat kepada jemaah sekalian dan khususnya untuk diri khatib pribadi, marilah sama-sama kita menjaga kualitas ketakwaan kita sembari berusaha secara perlahan untuk meningkatkannya. Sebab dengan ketakwaan, Allah akan memberikan jalan kemudahan di setiap problem kehidupan yang kita alami.
jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala
Di awal tahun 2023 ini marilah kita berintrospeksi apakah satu tahun ke belakang kita lalui dengan penuh kebaikan, peningkatan ketakwaan serta amal ibadah kita. Apakah tahun lalu hubungan kita dengan orang-orang sekitar kita semakin harmonis atau sebaliknya.
Begitu pun hubungan kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Pada tahun lalu, sudah berapa banyak kita belanjakan harta kita di jalan Allah? Atau kita hanya larut dalam ketamakan dan nafsu mengejar dunia tanpa tersentuh hati kita untuk menyedekahkan rezeki yang kita dapat.
Begitu pun dengan ragam amal ibadah yang kita lakukan, apakah sudah kita sempurnakan dengan ibadah sunah lainnya? Apakah diri kita tergerak karena mengejar rida Allah? Atau sejauh ini karena hanya untuk menggugurkan kewajiban saja.
Jemaah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala
Sebagai seorang muslim kita mesti memperhatikan perbuatan yang kita lakukan sebab di akhirat nanti akan dipertanggungjawabkan. Jangan sampai kita lalai dan lupa bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Quran surah al-Hasyr ayat 18:
Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hasyr: 18)
Ayat yang tadi dibacakan perlu kita renungi sebagai pengingat. Bukan hanya sebagai pengingat sehingga diri kita melakukan muhasabah, akan tetapi untuk memperbaiki diri kita di tahun selanjutnya. Bukan sekadar motivasi yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, namun kita dituntut untuk bergerak dan melakukan perubahan sedikit demi sedikit dengan usaha yang nyata. jemaah yang berbahagia, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki diri.
Pertama, niatkan diri kita untuk menjadi lebih baik sejak saat ini. Dengan niat, seorang muslim dapat memelihara tujuan yang ingin dicapainya. Itulah mengapa ibadah-ibadah dalam Islam diawali dengan niat. Di sisi lain, Rasululullah shallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:
Artinya: “Niat seorang mukmin lebih utama dari pada amalnya.”
Hadis tersebut menegaskan bahwa niat lebih baik daripada perbuatan yang kita lakukan, oleh sebab itu perlu kita mengawali perubahan diri kita kepada yang lebih baik dengan niat yang baik. Hadis ini, tidak sama sekali mendukung seseorang untuk merencanakan sesuatu kemudian tidak merealisasikannya. Karena niat adalah suatu kehendak yang disertai dengan perbuatan.
Jemaah salat Jumah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, Yang kedua, melakukan tobat atas kemaksiatan yang kita lakukan di tahun lalu dan berkomitmen untuk berusaha tidak mengulanginya di tahun depan. Mungkin untuk bertobat saja adalah hal yang tidak begitu sulit, namun komitmen untuk tidak mengulanginya butuh usaha yang gigih dari diri seorang muslim. jemaah sekalian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari melakukan tobat seratus kal, kendati beliau sudah dijamin masuk surga. Beliau pernah bersabda:
Artinya, “Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku juga bertobat kepada-Nya sehari seratus kali.” (Hadis riwayat Imam Muslim)
Lantas bagaimana kita melakukan tobat? Cobalah dengan tahapan-tahapan yang ringan. Pertama niat untuk meninggalkan perbuatan tersebut, kedua memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas perbuatan yang selayaknya tidak kita lakukan. Bacalah lafaz-lafaz istigfar seperti astagfirullahal ‘adzim, dan sejenisnya. Lebih utama lagi, apabila mengamalkan sayyidul istigfar yang pernah Nabi ajarkan:
Artinya: “Ya Allah, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah dan janji-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.”
Jemaah salat Jumah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, langkah ketiga yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri kita adalah mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita, khususnya nikmat ketaatan dan ibadah yang dapat kita jalankan sebab adanya rahmat dan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Di penghujung tahun ini, semoga kita dapat mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik dan lebih saleh. Semoga poin-poin yang telah disampaikan di atas dapat sama-sama kita jalankan. Janganlah menunda-nunda diri untuk melakukan kebaikan.
Advertisement
Khotbah Minggu Pertama Tahun Baru: Menumbuhkan Semangat Ibadah dan Kebaikan
Berikut contoh khotbah minggu pertama tahun baru dengan tema menumbuhkan semangat ibadah dan kebaikan di tahun baru, bisa Anda simak:
Hadirin jemaah Jumat yang dirahmati Allah.
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kita semua nikmat Islam, iman, dan kesehatan, sehingga masih bisa mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah wajib salat Jumat, serta bisa merasakan indahnya momentum tahun baru sebagaimana yang akan kita hadapi saat ini. Shalawat dan salam mudah-mudahan terus mengalir kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, nabi terakhir yang Allah utus sebagai rahmat bagi alam semesta.
Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri, keluarga, dan semua jemaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk selalu meningkatkan ketaatan, dan semangat dalam melaksanakan ketaatan dalam beribadah, serta semangat dalam meninggalkan setiap sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah, khususnya pada momentum tahun baru ini. Jangan hanya tahun yang baru, namun harus kita tumbuhkan semangat baru dalam beribadah dan melakukan setiap kebajikan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Spirit tahun baru tahun ini seharusnya tidak hanya digunakan untuk pesta kembang api dan gegap gempita trompet di mana-mana. Jauh lebih penting dari semua itu adalah tumbuhnya semangat baru untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah dan kebajikan, sebab orang muslim sejati adalah orang yang harinya lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:
Artinya, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Dan, barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).
Hadis ini memberikan pengertian perihal pentingnya meningkatkan semangat baru dalam menjalani hari-hari yang baru, termasuk juga dengan tahun baru. Jika hari tahun baru ini lebih baik dari hari dan tahun sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang beruntung. Jika sama, maka sungguh hanya kerugian yang ia dapatkan. Dan, jika lebih buruk, maka akan menjadi hari dan tahun yang dilaknat karena tidak bisa mengambil manfaat dan keberkahan di dalamnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa orang-orang yang harinya justru lebih buruk dari hari-hari sebelumnya, maka tidak ada kebaikan selain kematian untuknya. Riwayat ini sebagaimana dikutip oleh Syekh Abdurrahman as-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidul Hasanah, juz I, halaman 631. Rasulullah saw bersabda:
Artinya, “Barangsiapa yang kedua harinya (saat ini dan kemarin) sama, maka ia (tergolong) orang yang rugi. Barangsiapa yang dua hari terakhirnya lebih buruk, maka ia terlaknat. Barangsiapa yang tidak berada pada peningkatan, maka ia berada pada pengurangan. Barangsiapa yang berada pada pengurangan, maka kematian lebih baik baginya. Dan, barangsiapa yang merindukan surga, maka ia akan cepat-cepat dalam melakukan kebaikan.” (HR ad-Dailami).
Syekh Nuruddin Al-Harawi Al-Qari (wafat 1014 H) dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, juz IV, halaman 352, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ziyadah (peningkatan-penambahan) pada hadits di atas adalah dengan bertambahnya ilmu, ibadah, dan segala bentuk kebaikan. Bukan bertambahnya dunia dan jabatan. Sebab, keberuntungan selalu berpihak pada orang yang meningkatkan ketaatan dan kebaikannya, bukan dunia dan jabatannya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Berkaitan hal ini, Allah swt memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu introspeksi perihal apa yang akan menjadi bekalnya menuju akhirat. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).
Imam al-Qusyairi (wafat 465 H) dalam kitab tafsir Lathaiful Isyarat atau Tafsir Al-Qusyairi menjelaskan bahwa ayat di atas memiliki dua arti ketakwaan, yaitu:
Meningkatkan ketakwaan dengan cara memikirkan balasan yang akan didapatkan kelak di akhirat atas perbuatan baik dan buruk yang dilakukan di dunia;
Meningkatkan ketakwaan dengan cara mawas diri dan introspeksi, yaitu dengan memaksimalkan waktunya untuk menambah ketaatan. Dengan kata lain, menumbuhkan semangat baru di hari-hari baru yang dihadapi oleh setiap orang.
Cara menumbuhkan semangat baru di hari yang baru adalah dengan memperbaiki hari-harinya yang baru dengan ketaatan dan kebajikan. Orang tidak bisa memperbaiki harinya kecuali dengan cara introspeksi atas apa yang dilakukan di hari-hari sebelumnya.
Demikian khutbah menumbuhkan semangat baru di tahun pada siang hari ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta bisa menjadi penyebab untuk meningkatkan ibadah, kebajikan, ketakwaan, keimanan, dan menjauhi segala larangan.