Di dunia sepak bola Indonesia, konflik antar suporter sering terjadi dan tak sedikit korban jiwa melayang. Saat dua musuh bebuyutan saling bertanding, salah satu kelompok suporter tidak boleh datang di stadion guna menghindari bentrokan.
Usaha untuk berdamai sebenarnya telah dilakukan kelompok yang berseteru. Tapi tak sedikit oknum yang suka memperkeruh suasana sehingga bentrok demi bentrok kembali terjadi.
Di samping tensi panas konflik antar suporter, beberapa kelompok suporter sepakat untuk berdamai. Bahkan mereka saling berusaha untuk membangun hubungan positif antara satu sama lain. Berikut ini adalah beberapa momen perdamaian antara dua kelompok suporter yang sering berseteru.
Advertisement
Bonek dan The Jakmania di Stasiun Gubeng
Selama ini, pendukung Persebaya Surabaya, Bonek, hampir selalu berseteru dengan pendukung Persija Jakarta, The Jakmania. Maka dari itu, pertemuan antara kedua kelompok itu secara langsung hampir selalu berlangsung tegang.
Namun, itu tidak terlihat pada Jumat malam tanggal 27 November 2015. Saat itu sekitar 200 Jakmania berangkat menuju Malang dan transit di Surabaya. Tanpa ada perencanaan, para Bonek menunggu di stasiun. Tak ada sambutan rasis, keduanya justru saling bersalaman. Para Bonek menyanyikan lagu selamat datang pada Jakmania.
Perdamaian ini menyebar melalui media sosial dan membuat banyak suporter menaruh respek kepada mereka.
Advertisement
Bonek dan Pasoepati Tanam Pohon Cinta
Pada September 2013, sesepuh Pasoepati, Mayor Haristanto, memunculkan ide menanam pohon cinta untuk mendamaikan kelompok suporter Pasoepati dan Bonek. Pertemuan Persebaya dan Persis pada musim 2005/2006 berujung pada rivalitas yang sengit.
Dalam acara itu, Mayor mengundang pentolan Bonek ke Solo untuk menanam pohon yang terletak di kediamannya. Pentolan Bonek datang. Pada tahun yang sama, Pasoepati mendapat sambutan hangat di Stadion Tambaksari Surabaya.
Advertisement
Berawal dari Tahu Sumedang
Rivalitas antara suporter PSIS Semarang, Panser Biru, dengan suporter Persijap Jepara, Banaspati, telah berlangsung sejak lama. Bahkan rivalitas ini telah menyebabkan korban jiwa. Pada tahun 2015, Persijap bermain di kandang sendiri, Stadion Gelora Bumi Kartini, melawan PSIS. Sebenarnya suporter PSIS dilarang datang.
Namun, ada beberapa anggota Panser Biru yang datang, termasuk sang ketua, Kepareng. Mereka datang menyamar dan menanggalkan atribut. Beberapa suporter Persijap mengenalinya. Mereka justru membelikan Kepareng dan kawan-kawan tahu sumedang dan minuman segar.
Kedua suporter damai sampai pertandingan berakhir. Momen itu jadi pembicaraan di media sosial dan kedua kelompok suporter jadi harmonis.
Advertisement
Mendukung Pakai Baju Koko
Walaupun sama-sama mendukung PSIS Semarang, Panser Biru dan Snex (Suporter Semarang Extreme) kerap bergesekan. Bahkan pada tahun 2012, konflik antar keduanya merenggut korban jiwa. Setelah peristiwa itu, panpel PSIS melarang kedua suporter mengenakan atribut kala mendukung PSIS.
Lewat media sosial, kedua suporter sepakat menggunakan baju koko saat mendukung PSIS Semarang pada kompetisi Divisi Utama 2013. Momen itu jadi tambah lucu karena suporter malah membawa sarung dan peci.
Alhasil, tiap pertandingan PSIS Semarang di kandang justru lebih mirip pengajian. Sejak saat itu, hubungan kedua suporter kembali mesra. Mereka kerap berangkat tur bersama dan diizinkan mengenakan atribut kembali.
Advertisement
Mataram is Love
Momen Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 menjadi momentum para suporter untuk menggelar doa bersama.
Dalam acara doa bersama yang diadakan di Stadion Mandala Krida pada Selasa (4/10), banyak kelompok suporter yang hadir seperti Brajamusti, Pasoepati, Slemania, BCS, Paserbumi, dan kelompok suporter lainnya.
Selain doa bersama, dalam acara itu mereka menjalin perdamaian. Acara diakhiri dengan foto bersama dengan masing-masing suporter.