Saat membicarakan tentang warisan dunia di Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pasti yang terlintas pertama kali adalah Candi Prambanan. Tak heran, pasalnya keindahan candi ini sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga mancanegara. Candi Prambanan merupakan salah satu warisan kebudayaan dunia yang ditetapkan UNESCO.
Sebenarnya, selain Candi Prambanan ada beberapa candi lain yang masuk dalam warisan dunia. Candi-candi tersebut antara lain Candi Sewu, Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Gana/Asu. Candi-candi tersebut berada di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Sewu, dan Candi Bubrah berada di lingkungan PT Taman Wisata. Sementara Candi Gana yang juga dikenal dengan sebutan Candi Asu berada di luar pagar. Candi ini terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk. Selama ini tidak banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan Candi Gana.
Advertisement
Candi Gana terletak di Dusun Bener, Kelurahan Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Keberadaan candi ini erat kaitannya dengan candi-candi di kawasan Prambanan. Bahkan, Candi Gana juga termasuk bangunan yang telah ternominasi menjadi warisan dunia.
Candi Gana merupakan candi Buddha yang berkedudukan sebagai subordinat, sementara Candi Sewu sebagai superdinat atau pusat. Gabungan Candi Gana dan Candi Sewu membentuk konsep mandala dalam agama Buddha.
Bentuk perbingkaian kaki dan bawah tubuh candi yakni bingkai belah rotan dan sisi genta. Mengutip dari laman resmi Kemendikbud RI, bentuk-bentuk belah rotan dan sisi genta merupakan ciri-ciri bangunan yang dibangun pada abad IX Masehi. Zaman Mataram kuno saat itu diperintah oleh dinasti Syailendra.
Berdasarkan hasil rekonstruksi, candi induk Gana berdenah bujur sangkar. Sementara kaki candi yang tersisa terdiri dari bingkai rata, padma, dan belah rotan. Di sisi barat terdapat sebuah tangga yang komponennya belum lengkap. Struktur tangga itu menyatu dengan kaki candi. Keberadaan tangga ini menunjukkan arah hadap candi, yakni ke arah barat.
Advertisement
Hingga kini, situs warisan kebudayaan itu masih berupa batu-batu yang terserak. Reruntuhannya mungkin mengingatkan pengunjung pada reruntuhan Candi Klodangan di Sleman dan Situs Payak di Bantul yang juga konon dibangun pada abad ke-9.
Di sisi lain, meskipun telah menjadi reruntuhan, beberapa patung di Candi Gana tampak hanya tercongkel sedikit di beberapa bagian. Sementara sebagian besar tubuh patung masih utuh.
Sementara itu, para wisatawan yang ingin berkunjung ke Candi Gana tak perlu risau dompetnya bakal kempes. Masing-masing pengunjung hanya dikenai tarif masuk sebesar Rp5.000.