Rumah Ibu Paula Nugroho Wati (44) terletak di sebuah desa yang berada di lereng bukit. Di sanalah dia mendirikan usaha salon. Usaha itu telah ia jalani sejak tahun 2002.
“Ya namanya saja usaha, kadang sepi, kadang rame. Tapi rata-rata 3-4 orang per hari. Tapi ada harinya sepi dari buka sampai tutup, apalagi pandemi kemarin. Sekarang mulai bergeliat lagi,” ujar Ibu Paula.
Di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan, dia juga harus merawat anak laki-laki semata wayangnya, Leonhart Ganesha Mahatmaja (11), yang baru menginjak kelas 5 SD.
Dalam keluarganya, Ibu Paula merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara. Waktu usia satu tahun, dia terkena penyakit polio yang membuat badannya panas dan otot kakinya lemas. Namun saat suhu tubuhnya menurun, otot kakinya masih saja terasa lemas. Sejak saat itulah ia harus berjalan dengan bantuan krek.
©2021 Merdeka.com/Nurul Diva Kautsar
Saat masuk SD, Ibu Paula kecil sering mendapat bullying dari teman-temannya karena tak bisa berjalan dengan normal. Menerima perlakuan itu dia hanya bisa menangis.
“Ya namanya anak kecil. Kalau waktu SMP dan SMA itu sudah tidak. Tapi pengalaman seperti itu yang membuat kita kebal,” ujarnya.
Bukannya berlarut-larut dalam trauma, pengalaman masa SD yang pahit membuat Ibu Paula menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri. Sudah terbiasa dihina sejak kecil membuat dia tak peduli jika ada orang yang menghinanya lagi. Lagi pula, saudara-saudaranya banyak memberi dukungan dan membukakan lapangan kerja agar ia bisa menjadi individu yang mandiri.
Demi meningkatkan kualitas hidupnya, Ibu Paula muda membekali diri dengan berbagai skill seperti kursus komputer, kursus pembuatan kue, dan kursus salon. Walau begitu, tetap saja rasa-rasa insecure sebagai penyandang disabilitas seringkali muncul. Hal ini yang membuat dia ragu apakah kelak bisa mendapatkan jodoh dan hidup berkeluarga.
“Dulu pernah berpikir, nggak mungkin nih punya jodoh. Tapi waktu itu saya berdoa pada Tuhan kalau punya jodoh dekatkan tapi kalau tidak berikan saya kekuatan untuk menjalani hidup,” ujar Ibu Paula.
©2021 Merdeka.com/Nurul Diva Kautsar
Tapi ketakutan Ibu Paula ternyata tidak terbukti. Waktu main ke Solo sama temannya, dia berkenalan dengan seorang lelaki. Berawal dari ngobrol, mereka ternyata merasa nyambung satu sama lain. Hingga akhirnya pria itu berkata panjang lebar menyatakan diri ingin menikahinya.
“Saya langsung ngomong di awal, kondisi saya seperti ini. Kita waktu itu juga beda agama. Kalau kamu memang serius ya kamu belajar agama Katolik. Tapi kalau nggak bisa ya sudah nggak usah,” kata Ibu Paula mengulang apa yang ia pernah katakan pada pria itu.
Untungnya pria itu membuktikan keseriusannya. Setelah empat tahun belajar Katolik, pria itu meminang Ibu Paula. Dua tahun kemudian mereka menikah.
“Bersyukur sih punya suami yang menerima apa adanya. Kalau rumah tangga cekcok itu sudah biasa. Tapi yang paling penting dia menerima, keluarga suami juga menerima saya apa adanya. Intinya mereka semua mendukung,” ujarnya.
Setelah pernikahan itu, suami ikut pulang ke rumah keluarga Ibu Paula karena dia harus mengurus ibunya yang sakit-sakitan. Saat itu Ibu Paula telah membuka usaha salonnya sembari menjaga sang ibu.
Selang berapa lama setelah menikah, Ibu Paula mengandung anak pertamanya. Namun ternyata ia keguguran.
Beberapa lama berselang, Ibu Paula kembali mengandung anak kedua. Berbeda dengan saat mengandung anak pertama, cobaan yang harus dihadapinya lebih berat saat mengandung anak kedua ini. Karena kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya yang tengah hamil, Ibu Paula berkali-kali terjatuh.
“Makanya saya bolak-bali ke dukun beranak di sini. Waktu itu sudah mau keluar. Untungnya masih bisa dibenerin sama dukun beranak itu,” tutur Ibu Paula.
Perjuangan Ibu Paula berlanjut saat anak itu lahir. Ibu Paula sendiri melahirkan anak itu dengan operasi caesar. Melalui perjuangan yang melelahkan, Leonhart lahir dengan selamat. Namun setelah melahirkan Leonhart, Ibu Paula harus berbaring di atas tempat tidur selama sebulan demi pemulihan.
“Untuk jalan saja masih sakit. Apalagi kalau jalan kan kaki saya bergoncang jadi takut jahitan di perut kenapa-kenapa. Untuk mandi saja saya harus dibasuh suami,” kenang Ibu Paula.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Membesarkan Anak
©2021 Merdeka.com/Nurul Diva Kautsar
Sebagai seorang difabel, Ibu Paula juga mengalami kesulitan dalam merawat Leonhart, terutama saat menggendong buah hatinya itu. Tugas menggendong itu akhirnya harus dilakukan suaminya.
“Memang begitu konsekuensi punya istri difabel. Untungnya dia tidak mengeluh. Itu jadi berkat bagi saya,” ungkapnya.
Karena tak sanggup melakukan peran sebagai ibu rumah tangga, dalam banyak aktivitas ia harus dibantu seorang pembantu. Mulai dari bersih-bersih rumah, mencuci, hingga menggendong Leonhart. Kalau pembantunya pulang, giliran ia dan suami yang merawat Leonhart. Mereka bertiga pun tidur bersama dalam satu kasur.
Saat Leonhart menginjak usia SD, Ibu Paula dan suaminya menyekolahkan anaknya itu di SD Kanisius Kalasan. Padahal letak sekolah itu cukup jauh dari rumahnya, sekitar 13 kilometer.
“Di kelas 2 SD dia sudah dapat pelajaran komputer. Jadi itu yang menjadi acuan kami dalam memilih sekolah. Demi ilmu dan pengalaman buat anak apa sih yang tidak kita berikan? Mahal nggak apa-apa, jauh nggap apa-apa. Dijalani saja, karena dari awal niat orang tua memang begitu, dan anak juga setuju,” ujar Ibu Paula.
Seperti orang tua kebanyakan, Ibu Paula mendidik anaknya agar kelak menjadi orang yang jujur, baik hati, dan hormat pada orang tua. Selain itu dia juga menanamkan pada Leonhart untuk harus percaya diri apapun kondisinya. Namun terkadang ia ingin tahu pandangan buah hatinya terhadapnya, terutama apakah anaknya malu punya ibu difabel seperti dirinya.
“Lah ngapain malu, bu? Lagian kan ibu menolong bapak cari uang untuk kebutuhan keluarga,” kata Ibu Paula menirukan ucapan anaknya.
Walaupun dikaruniai anak yang baik dan sehat, namun Ibu Paula mengaku tidak ingin punya anak lagi karena banyak pertimbangan. Hal ini pernah ia komunikasikan dengan sang suami dan dia pun menyetujuinya. Begitu pula dengan Leonhart, dia pernah bilang tidak ingin punya adik lagi.
©2021 Merdeka.com/Nurul Diva Kautsar
Bagi Ibu Paula, segala hal yang ia alami dalam hidup harus disyukuri. Apalagi dia dikaruniai keluarga yang sehat dan diberi kecukupan dalam memenuhi kebutuhan harian. Dia pun bersyukur dikaruniai buah hati yang sehat. Oleh karena itu, Ibu Paula mengaku siap mendukung apapun cita-cita Leonhart, termasuk kalau cita-cita itu membuat ia harus berpisah dengan anak semata wayangnya.
“Pernah dia tanya sama saya,’Bu, kalau misal saya jadi romo atau pastor gimana?’”
“Kalau kamu mau jadi pastor silahkan. Itu panggilan dari Tuhan. Bapak ibu gampang. Panti jompo masih buka. Kalau itu pilihanmu, fokus,” ujar Ibu Paula menirukan apa yang pernah ia sampaikan pada anaknya.
“Tapi kalau kamu ingin berumah tangga, carilah istri yang gemati, nggak cuma sama kamu tapi juga sama orang tuamu, karena anaknya ibu cuma kamu,” pungkasnya.
Tulisan ini dibuat khusus untuk memperingati Hari Ibu Sedunia 2021
Teks: Shani Rasyid
Foto: Nurul Diva Kautsar