Skenario Berakhirnya Pandemi Menurut Ahli, Bagaimana Dengan Indonesia?

Para ilmuwan memperkirakan masyarakat pada akhirnya bisa hidup berdampingan dengan virus COVID-19. Mereka berpendapat, COVID-19 pada akhirnya menjadi virus yang diprediksi seperti flu. Itu artinya, virus ini akan menyebabkan wabah musiman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Skenario Berakhirnya Pandemi Menurut Ahli, Bagaimana Dengan Indonesia?
Ilustrasi pandemi dunia. ©2021 Merdeka.com/pixabay

Sudah dua tahun, pandemi COVID-19 masih menjadi PR bagi berbagai negara. Apalagi sekarang, berbagai varian baru dari mutasi jenis sebelumnya kembali menghantui. Belajar dari kasus-kasus sebelumnya, berbagai negara tentu sudah mempersiapkan rencana untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

Berbagai skenario pun turut dikembangkan untuk menekan laju penyebaran virus COVID-19. Sejak terdeteksi pada akhir 2019, Badan Kesehatan Dunia, WHO menetapkan virus corona sebagai krisis kesehatan global pada Januari 2020. Hingga kini, tidak diketahui pasti kapan pandemi berakhir. Pasalnya, seberapa besar ancaman yang ditimbulkan dari pendemi bisa beragam di setiap negara.

"Ini penilaian agak subjektif karena ini bukan hanya tentang jumlah kasus. Ini tentang tingkat keparahan dan dampak," jelas kepala kedaruratan WHO, Dr. Michael Ryan, dikutip dari Al Arabiya pada Kamis (16/12).

Begitu pula dengan tingkat fase paling akut dari krisis ini dapat disebut mereda berbeda di setiap negara. Para ilmuwan memperkirakan masyarakat pada akhirnya bisa hidup berdampingan dengan virus COVID-19. Mereka berpendapat, COVID-19 pada akhirnya menjadi virus yang diprediksi seperti flu. Itu artinya, virus ini akan menyebabkan wabah musiman.

Sebagai upaya untuk menekan laju penyebaran virus COVID-19 jelang akhir tahun, pemerintah sudah menyiapkan langkah guna memperkecil kemungkinan terjadinya gelombang ketiga. Meski pada akhirnya PPKM level 3 dibatalkan, namun pemerintah menyakini pembatasan mobilitas menjadi keputusan terbaik saat ini. Langkah tersebut juga diharapkan bisa menurunkan angka kasus COVID-19 dari waktu ke waktu.

Keputusan tersebut juga diamini oleh Epidemolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono. Ia menilai, kebijakan pemerintah mengambil keputusan tersebut sudah tepat. Menurut Pandu, potensi terjadinya gelombang ketiga pada libur akhir tahun sangat kecil karena tingkat kekebalan masyarakat Indonesia sudah cukup tinggi.

"Tingkat kekebalan penduduk yang tinggi dan dapat diandalkan untuk cegah gelombang Pandemi," ucap Pandu.

Pandu menambahkan, jika kekebalan tubuh seseorang menjadi andalan dalam upaya menekan pandemi. Kekhawatiran akan munculnya gelombang ketiga pada libur akhir tahun bukanlah tanpa alasan. Berkaca pada libur Idul Fitri yang juga dibarengi dengan kemunculan varian Delta, membuat lonjakan kasus COVID-19.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengikuti aturan pemerintah dengan membatasi mobilitas selama libur nataru. Meski dikatakan Pandu terkait kekebalan masyarakat Indonesia yang sudah tinggi, menerapkan protokol kesehatan tetap tak boleh ditinggalkan.

Saat menghabiskan momen Natal dan Tahun Baru bersama keluarga, teman dan kerabat jangan lupa untuk selalu melaksanakan pesan ibu. Tetap menggunakan masker, mencuci tangan usai bepergian atau menyentuh benda, menjaga jarak, tidak keluar rumah jika bukan urusan penting. Dan jangan lupa vaksin!

Reporter: Azizta Laksa Mahardikengrat

Rekomendasi