Mengenal Eco-Anxiety, Ketahui Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Gangguan kecemasan pada lingkungan ini juga dikenal dengan istilah eco-anxiety. Gangguan kecemasan ini pun dapat mendorong pada gangguan mental lain seperti trauma dan syok, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Ayu Isti Prabandari
Oleh Ayu Isti Prabandari - Reporter
Mengenal Eco-Anxiety, Ketahui Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi Pencemaran Lingkungan. ©2021 Merdeka.com/Pexels.com-pixabay

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat berbagai macam bencana alam hebat yang terjadi di beberapa belahan bumi. Mulai dari kebakaran hutan yang menyebabkan kepulan asap tebal hingga menjangkau antar negara, tanah longsor akibat penebangan liar, hingga banjir akibat hujan lebat dan buruknya sistem penyerapan air karena banyaknya sampah yang menyumbat.

Berbagai bencana alam yang terjadi dalam beberapa beberapa tahun terakhir, mendapat banyak pengaruh dari faktor kerusakan lingkungan. Dalam hal ini, berbagai aktivitas manusia memberikan dampak besar pada kondisi lingkungan yang semakin rusak dan terganggu.

Mulai dari produksi sampah makanan yang memberikan risiko penambahan emisi gas rumah kaca, polusi udara yang semakin meningkat baik dari transportasi hingga industri, sampai tindakan penebangan liar dan pembakaran hutan secara masif yang membuat suhu bumi semakin meningkat.

Tidak heran, jika kondisi kerusakan lingkungan ini menyebabkan munculnya kecemasan pada generasi muda kondisi masa depan planet bumi yang semakin buruk dan tidak layak. Gangguan kecemasan pada lingkungan ini juga dikenal dengan istilah eco-anxiety. Gangguan kecemasan ini pun dapat mendorong pada gangguan mental lain seperti trauma dan syok, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan eco-anxiety, bagaimana dengan penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Melansir dari Medical News Today, berikut kami merangkum penjelasannya untuk Anda.

Eco-anxiety atau kecemasan lingkungan merupakan gangguan kecemasan kronis atau parah terkait dengan hubungan manusia dengan lingkungan. Gangguan ini biasanya melibatkan perasaan takut dan cemas akan malapetaka yang terjadi pada lingkungan. Meskipun berupa gangguan kecemasan, namun eco-anxiety tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Dalam hal ini, para ahli menggunakan istilah eco-anxiety dalam bidang ekopsikologi, yaitu cabang yang berhubungan dengan hubungan psikologis orang dengan alam dan bagaimana kondisi tersebut berdampak pada identitas, kesejahteraan, dan kesehatan individu.

Efek langsung dari perubahan iklim, seperti kerusakan pada kelompok masyarakat, hilangnya makanan, dan berkurangnya keamanan pasokan medis, dapat menyebabkan kerusakan akut pada kesehatan mental masyarakat.Dampak bertahap dari kondisi perubahan iklim, termasuk meningkatnya permukaan air laut dan perubahan pola cuaca ekstrem, bahkan dapat menyebabkan gejala kesehatan mental kronis.

Kondisi ini dapat meningkatkan gangguan stres, dan jika tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan depresi. Bukan hanya itu, kecemasan lingkungan juga bisa mendorong pada gangguan mental kronis lain, seperti trauma dan syok, PTSD, penyalahgunaan zat, hingga perasaan ketakutan dan tidak berdaya.

Penyebab

Eco-anxiety disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengalaman langsung maupun risiko di masa depan tentang kondisi lingkungan yang semakin rusak dan menimbulkan berbagai bencana alam. Berdasarkan penelitian, terbukti bahwa sebagian orang cenderung mengalami kecemasan kronis karena merasa tidak bisa mengendalikan masalah lingkungan, terutama perubahan iklim.

Bagi sebagian orang, meningkatnya krisis lingkungan tidak hanya membuat frustrasi, menakutkan, dan mengejutkan, tetapi juga sumber kecemasan yang berkepanjangan dan melelahkan. Sebagian orang juga mungkin merasa bersalah akan dampak kerusakan lingkungan yang dilakukan generasinya dan akan diturunkan pada generasi mendatang.

Setelah mengetahui pengertian umum dan penyebabnya, berikutnya terdapat beberapa gejala eco-anxiety yang perlu dikenali. Perasaan sedih, marah, frustrasi, atau tidak berdaya dan putus asa tentang kerusakan lingkungan memang wajar dialami oleh semua orang.

Tidak ada gejala pasti yang terjadi pada eco-anxiety atau kecemasan lingkungan. Namun jika gangguan kecemasan terjadi secara terus menerus hingga mengganggu produktivitas sehari-hari, maka perlu segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental untuk membantu mengatasi gangguan yang dirasakan.

Berkonsultasi dengan psikolog, dapat membantu Anda mengelola kondisi stres dan cemas yang dirasakan. Cara ini juga mencegah kondisi kecemasan yang semakin parah yang bisa mengganggu kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Setelah mengetahui penyebab dan gejala eco-anxiety, terakhir terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan ini. Cara mengatasi eco-anxiety ini dapat dilakukan dengan mengambil tindakan nyata untuk keselamatan lingkungan, mengedukasi diri dengan informasi akurat, hingga membangun pikiran optimis. Berikut beberapa cara mengatasi eco-anxiety yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Mengambil tindakan nyata untuk membantu keselamatan lingkungan, seperti menjadi sukarelawan untuk kegiatan lingkungan, menjalankan pola hidup berkelanjutan dengan mengurangi sampah dan mengolah sampah, hingga mengurangi konsumsi daging dan produk susu.
  • Mengedukasi diri dengan informasi yang akurat tentang perkembangan lingkungan dan kiat-kiat yang bisa dilakukan jika terjadi krisis.
  • Fokus pada ketahanan, yaitu orang yang merasa positif tentang kemampuannya dalam mengatasi stres dan cemas lebih baik daripada orang yang kurang percaya diri dengan keterampilan ketahanannya.
  • Membangun pola pikir yang optimis disertai dengan upaya nyata yang berdampak baik pada lingkungan.
  • Melakukan latihan fisik atau olahraga secara teratur untuk membantu mengelola perasaan stres dan cemas yang dialami.
  • Jika terlalu stres mendapatkan terpaan berbagai informasi negatif tentang lingkungan, istirahat sejenak dari interaksi media, baik media televisi, radio, hingga media sosial.
  • Berkonsultasi dengan dokter atau psikolog jika perasaan cemas semakin mengganggu dan mempengaruhi produktivitas sehari-hari.
Rekomendasi