Dilansir dari Liputan6.com pada Jumat (30/7), sebanyak empat anggota keluarga yang tinggal di sebuah rusunawa di Bantul meninggal dunia karena terpapar COVID-19. Keempatnya meninggal di waktu yang hampir bersamaan.
Namun, kejadian itu tak lantas membuat Rusunawan Sewon, Bantul, tempat meninggalnya keempat pasien COVID-19, ambil tindakan. Pengelola rusunawa mengatakan ia tak mau melakukan lockdown karena berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
“Kalau kami lockdown, bagaimana nanti mereka bekerja? Rata-rata di sini kan masyarakat berpenghasilan rendah,” kata Kepala UPDT dan Permakaman Dinas PUPR Bantul, Ari Mursukapti.
Berikut selengkapnya:
Advertisement
Sudah Lakukan Pembatasan
Terkait penularan COVID-19 di rusunawa yang berujung pada meninggalnya 4 orang dalam satu keluarga, Ari mengatakan kalau pihak rusunawa sudah memberlakukan protokol kesehatan. Ia pun menolak melakukan lockdown walaupun hanya di lantai tempat 4 anggota keluarga itu meninggal dunia
Ari menjelaskan, kalau rusunawa itu dilakukan “lockdown”, pihaknya harus menyediakan bantuan minimal makan kepada 400 kepala keluarga. Akhirnya dia mengambil kebijakan yang aman secara finansial.
“Kami sudah lakukan pembatasan. Tak boleh kumpul-kumpul, 5 M. Tapi namanya orang banyak ya seperti itulah, ada yang patuh ada yang tidak,” terang Ari dikutip dari Liputan6.com.
Advertisement
Tanggapan Anggota DPRD
Sementara itu Anggota Komisi C DPRD Bantul, Arni Tyas Palupi mengaku telah mendengar informasi terkait adanya warga rusunawa yang meninggal dunia. Dia secara informal sudah menghubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bobot Arifianto. Namun hingga berita ini diturunkan pihaknya belum mendapatkan keterangan secara resmi.
Arni menjelaskan, seharusnya pihak pengelola rusunawa menyediakan dua kamar khusus untuk ruang isolasi. Dua kamar yang selama ini digunakan untuk tamu yang ingin menginap di rusunawa itu untuk sementara bisa dialihkan jadi ruang isolasi.