Tinggal Bareng di Rusunawa, Ibu Muda Ini Kehilangan 4 Anggota Keluarga karena Corona

Di Bantul, seorang ibu muda dengan dua anak balita harus kehilangan empat anggota keluarganya karena COVID-19. perempuan yang tinggal dalam sebuah kamar di Rusunawa Sewon ini harus kehilangan suami, kedua mertua, dan adik iparnya yang berumur 16 tahun.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Tinggal Bareng di Rusunawa, Ibu Muda Ini Kehilangan 4 Anggota Keluarga karena Corona
Ibu muda kehilangan 4 anggota keluarga karena COVID-19. ©2021 Liputan6.com

Bencana Virus Corona tak henti-hentinya memakan korban. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, puluhan orang meninggal akibat COVID-19 setiap harinya.

Dari banyaknya pasien yang meninggal itu, ada yang masih satu keluarga. Bahkan ada pula dalam satu keluarga yang meninggal karena COVID-19 mencapai lebih dari dua orang.

Dilansir dari Liputan6.com pada Jumat (30/7), di Bantul, seorang ibu muda dengan dua anak balita harus kehilangan empat anggota keluarganya karena COVID-19. Perempuan yang tinggal dalam sebuah kamar di Rusunawa Sewon ini harus kehilangan suami, kedua mertua, dan adik iparnya yang berumur 16 tahun.

Bagaimana kisahnya? Berikut selengkapnya:

Kronologi Penularan

Lurah Panggungharjo, Sewon, Bantul, Wahyudi Anggoro Hadi menjelaskan, satu keluarga tersebut tinggal pada dua kamar rusunawa di wilayahnya. Satu kamar dihuni oleh ibu muda itu, suaminya, dan dua anaknya yang masih balita, sedangkan satu kamar lagi dihuni oleh kedua mertua dan seorang adik iparnya yang berusia 16 tahun.

Singkat cerita, ibu muda itu, suami, dan dua anak balitanya itu dinyatakan positif COVID-19. Setelah dilakukan tracing, adik iparnya juga dinyatakan positif COVID-19. Saat tracing ini, mereka tidak menyebut kalau kedua mertuanya juga melakukan kontak erat.

Ibu Mertua Meninggal Dunia

Beberapa hari kemudian, Wahyudi kaget saat mendapat kabar kalau ibu mertua yang tinggal di rusunawa itu meninggal dunia dalam kondisi COVID-19 dengan penyakit penyerta berupa kanker. Pihak keluarga meminta agar ibu mertua itu dimakamkan di Jepara. Saat itu, Al, suami dari ibu muda dan ayah dari kedua balita itu, ikut mendampingi jenazah ibunya ke Jepara.

Selang beberapa hari kemudian, kondisi Al menurun drastis. Dengan bantuan pihak Kalurahan Panggungharjo, Al dikirim ke RS Panembahan Senopati. Namun meski sudah mendapat perawatan, kondisi Al tak tertolong lagi.

Begitu pula dengan adik ipar ibu muda itu yang masih berusia 16 tahun. Dengan bantuan satgas kelurahan, adik ipar itu dikirim ke RS PKU Muhammadiyah Gamping. Namun nyawanya juga tidak tertolong. Dia meninggal 5 hari setelah meninggalnya Al.

Dirawat 24 Jam

Selang beberapa hari kemudian, Mj, ayah mertua dari ibu muda itu, juga mengalami penurunan kondisi. Dengan bantuan kelurahan, Mj dibawa ke Rumah Sakit Nur Hidayah.

Setelah sampai di sana, pihak rumah sakit meminta Mj untuk dibawa pulang karena tidak punya ruang rawat inap pasien COVID-19. Namun setelah negosiasi, pihak rumah sakit bersedia merawat Mj dengan catatan hanya 24 jam.

Namun setelah 24 jam berakhir, pihak satgas belum membuat keputusan lagi mau dirawat di rumah sakit mana. Akhirnya mereka merawat Mj di shelter yang dikelola Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Namun kondisi Mj terus menurun.

Dibawa ke Rumah Sakit

Malam itu, Kamis (22/7), Mj dibawa ke RSLKC Bambanglipuro, Bantul. Sampai di rumah sakit, Mj disambut oleh tenaga medis dengan kursi roda dan dibawa ke ruang tunggu. Namun saat masih menunggu giliran penanganan, kondisi Mj kian memburuk dan semakin lemas.

“Pak Mj pun akhirnya meninggal dunia dengan posisi terduduk di kursi roda di lobi rumah sakit,” terang Wahyudi dikutip dari Liputan6.com pada Jumat (30/7).

Rekomendasi