Sempat Dituduh Komunis, WNI Ini Diasingkan oleh Rezim Orde Baru saat Kuliah di Eropa

Salah satu mahasiswa yang menjadi korban situasi politik pada saat itu yang sekarang masih bersaksi adalah Soegeng Soejono.

Denny Marhendri
Oleh Denny Marhendri - Reporter
Sempat Dituduh Komunis, WNI Ini Diasingkan oleh Rezim Orde Baru saat Kuliah di Eropa
Sempat Dituduh Komunis, WNI Ini Diasingkan Oleh Rezim Orde Baru saat Kuliah di Eropa. Instagram - Soegeng Soejono

Jika melihat sejarah kelam Indonesia puluhan tahun silam, salah satu yang mencuri perhatian adalah momen G30S/PKI. Momen sejarah itu awalnya terjadi karena polemik politik yang ingin menggulingkan rezim Soekarno.

Ketika rezim Orde Baru sudah berhasil menggulingkan Soekarno dan menjalankan tugasnya dari perintah Soeharto, banyak situasi politik mulai berubah. Salah satunya adalah para mahasiswa yang disekolahkan oleh rezim Orde Lama di luar negeri.

Para mahasiswa khususnya yang bersekolah di negara-negara Eropa pada saat itu tidak bisa pulang karena paspor yang dimilikinya memang sengaja tidak diperpanjang oleh pemerintah Orde Baru. Salah satu mahasiswa yang menjadi korban situasi politik pada saat itu yang sekarang masih bersaksi adalah Soegeng Soejono.

Dituduh Komunis

Belum lama ini, Soegeng Soejono mengungkapkan kenangannya yang terjadi pada puluhan tahun silang di kanal Youtube Mahasiswa PL. Dalam tayangan video tersebut, Soegeng Soejono menceritakan bagaimana ia bisa dituduh komunis oleh rezim Orde Baru.

Soegeng Soejono yang pada saat itu sedang menyelesaikan kuliah di Republik Ceko, mendapatkan panggilan dari KBRI untuk membahas situasi politik yang baru saja terjadi. Namun, karena keterbatasan informasi yang didapatkan oleh Seogeng Soejono dan teman-temannya membuatnya bertanya apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia.

Salah satu pertanyaan yang diberikan kepada Soegeng Soejono dan teman-temannya adalah tentang Orde Baru. Setelah mendapat jawaban mengenai pembunuhan para jendral besar pada saat itu, Soegeng Soejono lantas memberikan jawaban tidak setuju terhadap rezim Orde Baru yang dinilainya melanggar HAM.

"Seminggu setelah itu (Peristiwa G30S/PKI), kita mendapat panggilan pelajar itu di screening satu per satu dengan satu pertanyaan, 'apakah saudara setuju dengan orde baru', waktu itu saya jawab 'saya tidak tahu apa itu orde baru kalau saudara bisa terangkan saya akan tahu apa itu'. Jawabnya 'ya itu sekarang yang berkuasa di Indonesia'," jelas Soegeng Soejono.

"Saya bilang kalau yang dimaksudkan itu, saya tidak bakal setuju karena informasi yang saya dapat terjadi suatu kekerasan pembunuhan orang yang dianggap komunis dan itu tanpa ada proses hukum. Saya bilang saya tidak setuju karena dengan begitu rezim yang baru ini tidak menghargai Hak Asasi Manusia," ucapnya lagi.

Tak Punya Kewarganegaraan

Setelah memberikan jawaban yang seolah ia mengecam rezim Orde Baru atas pelanggaran HAM, Soegeng Soejono langsung mendapatkan tuduhan bahwa ia adalah seorang komunis. Seperti yang diketahui, rezim Orde Baru adalah sangat anti terhadap ideologi komunis.

Pihak pemerintah yang menuduh Soegeng Soejono langsung memerintahkannya untuk pulang ke Indonesia atau paspor tinggal di Republik Ceko-nya tidak diperpanjang. Namun setelah tahu ia dituduh komunis, Soegeng Soejono tidak ingin pulang karena ia mengira pasti akan langsung dijegal oleh Soeharto dan tidak tahu kelanjutan hidupnya lagi.

"Terus katanya 'saudara harus pulang kalau tidak maka passpor-nya tidak akan diperpanjang' dengan begitu saya menjadi orang yang tidak berkewarganegaraan," kenang Soegeng Soejono.

"Dulu itu orang yang dituduh saja (komunis), langsung di (nyatakan) lah saya ini terang-terangan menyatakan melawan. Kalau saya pulang, ya gimana," imbuhnya.

Kewarganegaraan Republik Ceko

Setelah momen itu berlalu, ternyata memang paspor milik Soegeng Soejono tidak diperpanjang dan ia hidup di Republik Ceko tanpa status kewarganegaraan manapun. Sampai akhirnya ia bisa mengajukan asylum kepada pemerintah Republik Ceko untuk sebuah perlindungan wilayah negara atau status kewarganegaraan.

"Umur 24 saya baru datang ke Ceko. Nggak ngira bahwa sebagian besar hidup saya akan (sampai sekarang), nggak ngira sama sekali," pungkasnya.

Rekomendasi