ADHD adalah Gangguan Perkembangan Saraf pada Anak, Ketahui Gejalanya

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah sebuah gangguan perkembangan saraf yang sangat umum terjadi pada anak. Biasanya gangguan ini dapat dikenali pada masa kanak-kanak dan bisa berkembang hingga dewasa.

Ayu Isti Prabandari
Oleh Ayu Isti Prabandari - Reporter
ADHD adalah Gangguan Perkembangan Saraf pada Anak, Ketahui Gejalanya
Ilustrasi ADHD. Shutterstock/Tashatuvango

Bagi sebagian orang, melihat anak yang aktif berbicara tentu menjadi kegembiraan tersendiri. Anak yang aktif berbicara tentu dapat menghidupkan suasana. Bukan hanya saat bersama di tengah keluarga, tetapi juga ketika anak berada di lingkungan sekolah atau pertemanannya. Anak yang aktif berbicara juga sering kali dinilai mampu bersosialisasi dengan baik.

Meskipun begitu, jika anak terlalu aktif atau banyak bicara, ini menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. Terlebih lagi, ketika anak sering kali sulit menahan godaan atau menunggu giliran. Ini bisa menjadi beberapa tanda dari kondisi gangguan mental yang disebut dengan ADHD.

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah sebuah gangguan perkembangan saraf yang sangat umum terjadi pada anak. Biasanya gangguan ini dapat dikenali pada masa kanak-kanak dan bisa berkembang hingga dewasa. Anak yang mempunyai gangguan mental ini biasanya sulit memberikan perhatian secara penuh, berperilaku impulsif atau sembarangan, hingga terlalu aktif.

Jika Anda melihat beberapa tanda-tanda tersebut pada anak, maka tidak boleh dianggap remeh. Mungkin juga Anda perlu menghubungi dokter atau profesional untuk memastikan apakah anak benar-benar mempunyai gangguan ADHD atau tidak. Selain itu, penting juga bagi Anda untuk mencari tahu lebih banyak informasi mengenai kondisi gangguan mental ini.

Dilansir dari CDC, kami merangkum pengertian, gejala, penyebab, dan berbagai informasi mengenai ADHD adalah sebagai berikut.

Mengenal ADHD

Seperti dijelaskan sebelumnya, ADHD adalah salah satu gangguan perkembangan saraf yang umum terjadi pada anak-anak. Biasanya pertama kali didiagnosis pada masa kanak-kanak dan sering berlangsung hingga dewasa.

Anak-anak dengan ADHD mungkin mengalami kesulitan memperhatikan, mengendalikan perilaku impulsif (bertindak tanpa memikirkan akibatnya), atau terlalu aktif. Sebagai salah satu gangguan mental, tentu anak dengan kondisi ADHD tidak bisa dianggap remeh. Semakin cepat didiagnosis, Anda bisa membantu Anak mendapatkan perawatan dengan baik dan membantunya mengelola gejala dengan baik.

Gejala ADHD

Setelah mengetahui kondisi umum, berikutnya Anda juga perlu mengetahui berbagai gejala ADHD yang sering muncul pada penderitanya. Anak yang mengalami kondisi ini memang sering kali mengalami kesulitan fokus dan berperilaku pada waktu tertentu.

Berbagai gejala ADHD bahkan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih parah, sehingga menyebabkan berbagai macam kesulitan bagi anak. Beberapa gejala ADHD adalah sebagai berikut :

  • banyak melamun
  • lupa atau kehilangan banyak hal
  • menggeliat atau gelisah
  • terlalu banyak bicara
  • membuat kesalahan yang ceroboh atau mengambil risiko yang tidak perlu
  • sulit menahan godaan
  • mengalami kesulitan bergiliran
  • mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain

Jenis ADHD

Setelah mengetahui kondisi umum ADHD, selanjutnya terdapat beberapa jenis ADHD yang perlu Anda ketahui. Dalam hal ini, ADHD dibagi menjadi tiga jenis yaitu Predominantly Inattive Presentation, Predominantly Hyperactive-Impulsive Presentation, dan Combined Presentation. Penjelasan lebih lanjut mengenai jenis ADHD adalah sebagai berikut :

  • Predominantly Inattentive Presentation: orang dengan gangguan ini akan sulit bagi individu untuk mengatur atau menyelesaikan tugas, memperhatikan detail, atau mengikuti instruksi atau percakapan. Orang tersebut mudah terganggu atau lupa detail rutinitas sehari-hari.
  • Predominantly Hyperactive-Impulsive Presentation: orang dengan gangguan ini biasanya mengalami gelisah dan banyak bicara. Sulit untuk duduk diam dalam waktu lama (misalnya, untuk makan atau saat mengerjakan pekerjaan rumah). Anak-anak yang lebih kecil dapat berlari, melompat, atau memanjat terus-menerus. Individu merasa gelisah dan memiliki masalah dengan impulsif. Seseorang yang impulsif mungkin sering mengganggu orang lain, mengambil barang dari orang lain, atau berbicara pada waktu yang tidak tepat. Sulit bagi orang tersebut untuk menunggu giliran atau mendengarkan arahan. Seseorang dengan impulsif mungkin memiliki lebih banyak kecelakaan dan cedera daripada yang lain.
  • Combined Presentation: orang yang mempunyai gangguan ini mengalami gejala dari dua jenis ADHD di atas.

 

Penyebab ADHD

Setelah mengetahui gejala dan jenisnya, terdapat beberapa penyebab ADHD yang perlu Anda perhatikan. Sejauh ini, belum diketahui secara pasti apa yang menjadi faktor penyebab ADHD. Namun terdapat beberapa hal yang kemungkinan bisa menjadi pemicu ADHD. Beberapa faktor penyebab ADHD adalah sebagai berikut :

  • Kerusakan otak
  • Paparan lingkungan (misalnya, timbal) selama kehamilan atau pada usia muda
  • Konsumsi alkohol dan tembakau selama kehamilan
  • Kelahiran prematur
  • Berat badan lahir rendah

Perawatan ADHD

Sering kali, jenis perawatan yang diberikan pada penderita ADHD adalah kombinasi terapi perilaku dan konsumsi obat-obatan. Untuk anak usia prasekolah (4-5 tahun) dengan ADHD, terapi perilaku, terutama pelatihan bagi orang tua sangat direkomendasikan sebagai perawatan pertama yang bisa dilakukan sebelum mencoba jenis pengobatan lain.

Dalam hal ini, rencana perawatan yang baik akan mencakup pemantauan ketat, tindak lanjut, dan membuat perubahan, jika diperlukan selama proses pengobatan.

Cara Mengelola Gejala

Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, jika Anda mempunyai anak dengan gangguan ADHD adalah bagaimana cara mengelola gejala yang ada. DHD. Selain terapi perilaku dan pengobatan, memiliki gaya hidup sehat dapat memudahkan anak Anda untuk mengatasi gejala ADHD. Berikut adalah beberapa perilaku sehat yang dapat membantu:

  • Mengembangkan kebiasaan makan yang sehat seperti makan banyak buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian dan memilih sumber protein tanpa lemak
  • Berpartisipasi dalam aktivitas fisik harian berdasarkan usia
  • Membatasi jumlah waktu layar harian dari TV, komputer, telepon, dan perangkat elektronik lainnya
  • Mendapatkan jumlah tidur yang disarankan setiap malam berdasarkan usia
Rekomendasi