Banyak yang Jadi Pejabat, Ini Kisah Kehidupan Keturunan Jawa di Kepulauan Pasifik

New Caledonia adalah sebuah negara kepulauan kecil yang terletak di Samudra Pasifik. Pada zaman penjajahan Belanda, banyak orang Jawa yang bermigrasi ke kepulauan itu untuk bekerja di pertambangan.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Banyak yang Jadi Pejabat, Ini Kisah Kehidupan Keturunan Jawa di Kepulauan Pasifik
Orang Jawa di New Caledonia. ©2021 liputan6.com

New Caledonia adalah sebuah negara kepulauan kecil yang terletak di Samudra Pasifik. Kepulauan itu pertama kali ditemukan oleh penjelajah James Cook pada 4 September 1774. Ia menamakan kepulauan ini “Caledonia” karena teringat oleh nama kampung halamannya di Skotlandia. Kini, negara itu masih berstatus jajahan Prancis.

Dilansir dari Wikipedia.com, orang-orang Jawa di negara kepulauan itu dulunya termasuk yang terbesar. Kedatangan orang Jawa di New Caledonia pertama kali terjadi pada 16 Februari 1896 untuk bekerja di tambang nikel. Setelah kontrak mereka habis, sebagian dari mereka ada yang kembali ke Jawa namun ada pula yang memilih menetap di New Caledonia.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang Jawa yang memilih tinggal di New Caledonia menikah dan menghasilkan keturunan yang masih bisa ditemukan di negara itu kini. Lantas bagaimana kehidupan para keturunan Jawa di negara kepulauan itu?

Banyak yang Jadi Pejabat

Menurut data dari Badan Statistik New Caledonia – ISEE, yang dikutip dari Liputan6.com, terdapat sekitar 7.000 orang keturunan Indonesia berkewarganegaraan Prancis. Dari jumlah itu, 3.851 orang mengaku sebagai keturunan Indonesia, sementara sisanya mengaku sebagai orang New Caledonia asli.

Di negara itu, merekapun hidup sejahtera dan banyak berkarier di berbagai sektor mulai dari pemerintahan, militer, hingga swasta. Selain itu ada pula yang memegang posisi strategis sebagai pejabat negara seperti Yannick Slamet (Wakil Gubernur Provinsi Utara), Corine Voisin (Wali Kota La Foa), dan Wali Kota Bourail, Brigitte El Arbi.

Jalani Kehidupan yang Berat

Walaupun saat ini hidup sejahtera, perjuangan mereka untuk bertahan hidup di negari orang bukanlah hal yang mudah, Ridwan Zainin misalnya. Datang ke New Caledonia pada tahun 1949, dia mengenang betapa menderitanya mengawali pekerjaan di pertambangan Chagrin bersama para pekerja dari Indonesia lainnya.

Dia hanya bertahan 6 bulan di sana sebelum pindah ke Noumea dan bekerja sebagai penambang nikel. Kini, dia hidup bahagia bersama seorang istri yang merupakan keturunan Jawa dan dikaruniai 5 putra, 5 cucu, dan 7 cicit.

Begitu pula dengan Soehadi. Dibawa oleh orang tuanya ke New Caledonia pada tahun 1949 saat dirinya masih berusia 3 tahun, di usia 15 tahun dia sudah bekerja sebagai supir kendaraan alat berat di tambang nikel SLN hingga pensiun.

“Saya senang dapat bertemu dengan teman-teman yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa. Saya tetap menjadi WNI walaupun keturunan saya sudah memilih untuk menjadi warga negara Prancis,” kata Soehadi dikutip dari Liputan6.com.

Banyak Berjasa

Dalam peringatan 120 tahun kedatangan orang Jawa di New Caledonia pada tahun 2006, Walikota Noumea, Sonia Lagarde menyampaikan apresiasi kepada komunitas Indonesia yang telah banyak berjasa dalam pembangunan di New Caledonia di berbagai bidang.

Sementara itu, dalam upacara peringatan yang sama di Paita, Wali Kota Paita, Harold Martin memuji komunitas Indonesia yang berkontribusi dalam pembangunan kota itu dari dulu hingga sekarang.

“Saya harapkan hubungan antara Paita dengan Indonesia tidak hanya berkembang di kalangan masyarakat saja, namun dapat diperluas dengan hubungan antar pemerintah,” kata Harold.

Tetap Cinta Indonesia

Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia–New Caledonia (PMIK), Thierry Timan mengatakan bahwa sebagai orang tua, pihaknya merasa bertanggung jawab untuk mewariskan tradisi dan budaya Indonesia ke generasi muda. Meskipun demikian, dia berjanji tetap akan menghormati budaya setempat dan memegang prinsip berbagi dan membaur.

Sementara itu, Konjen Indonesia di Noumea, Widyarka Ryananta, mengatakan, walau telah banyak komunitas Indonesia yang berwarga negara Prancis, tidak berarti cinta mereka kepada negara nenek moyang mereka berkurang.

“Selama Indonesia terus berada di hati, darah, dan pikiran, masyarakat keturunan di New Caledonia ini akan terus menjadi bagian dari keluarga Indonesia,” kata Widyarka.

Rekomendasi