Meletusnya sebuah kawah lumpur di Dukuh Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Blora menyita perhatian banyak orang. Bagi warga setempat, peristiwa itu merupakan hal yang cukup langka dan mengkhawatirkan.
Selain menewaskan belasan kerbau, gas yang dikeluarkanletusan lumpur ternyata mengandung racun. Untungnya lokasi letusan itu cukup jauh dari rumah-rumah penduduk.
Menurut masyarakat Blora, peristiwa itu merupakan letusan terbesar dalam rentan 30 tahun terakhir. Lalu bagaimana bisa letusan itu terjadi? Berikut selengkapnya:
Advertisement
Berbeda dengan Letusan Gunung
Menurut Kepala Seksi Energi Cabang Dinas ESDM Kendeng Selatan, Sinung Sugeng Arianto, peristiwa itu merupakan yang tebesar sejak 30 tahun terakhir. Dia mengatakan sebenarnya pada 2013 lalu pernah terjadi kejadian serupa, hanya tidak sebesar yang terjadi pada Kamis (27/8) kemarin.
“Berbeda dengan letusan gunung, memang kemarin paling besar dan saat ini berulang kali meletus. Bedanya dengan letusan gunung adalah kalau letusan gunung mengeluarkan magma sedangkan kalau di sini mengeluarkan lumpur,” ungkap Sinung dikutip dari Liputan6.com pada Jum’at (28/8).
Advertisement
Berpotensi Terjadi Lagi
Menurut Sinung, letusan itu masih tergolong kecil. Setelah mempelajari hasil satelit, ia mempelajari pada zaman dulu pernah terjadi letusan lumpur yang memiliki luas letupan mencapai 114 hektar.
“Artinya letusan itu bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. saat ini masih berpotensi terjadi lagi,” kata Sinung.
Advertisement
Meletus hingga 11 Kali
Menurut anggota Polhut Resot Pemangkuan Hutan Padas Agus Rimbawanto, letusan terjadi berkali-kali di kawah lumpur Kesongo. Bahkan hingga Jum’at (28/8) pukul 10 pagi, letusan sudah terjadi sebanyak 11 kali.
Menurut Kapolsek Jati Ajun Komisaris Polisi Bajuri, dia sudah memasang garis polisi agar masyarakat tidak mendekat ke lokasi semburan. Dia mengakui sejak bertugas sebagai polisi, peristiwa ini baru pertama kali ini dirasakannya.
Advertisement
Pertamina Bersedia Membantu
Hingga sekarang belum diketahui penyebab pasti dari letusan itu. Oleh karena itu pemerintah Kabupaten Blora menggandeng Pertamina untuk mencari tahu penyebab letusan. Hingga sekarang, pihak Pertamina belum menemukan jawabannya.
"Arahan dari pemerintah setempat supaya ikut menangani, kami siap. Tentu saja sesuai kompetensi kami,” kata CSR Staff Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Kautsar Restu Yuda dikutip dari Liputan6.com.
Advertisement
Reaksi Ganjar Pranowo
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar para korban yang kehilangan hewan ternak segera mendapat bantuan. Selain itu Ganjar juga telah melakukan perencanaan untuk menanggulangi dan mengantisipasi peristiwa letusan itu.
“Sudah pasti ini dilakukan. Ini ESDM juga sudah berkoordinasi,” kata Ganjar dikutip dari Liputan6.com pada Jum’at (28/8).