Miniseri 'Sementara, Selamanya' hasil karya Reza Rahadian sudah bisa disaksikan di kanal Vidio. Miniseri ini sudah tayang sejak 6 Juni 2020 setiap Sabtu dan Minggu. Namun, sayangnya kini sudah berakhir tepat pada Minggu (21/6) lalu.
Pada kedua babak terakhirnya, miniseri tersebut mendapatkan banyak respon positif dari penontonnya. Selain dibintangi Reza Rahadian dan Laura Basuki, miniseri tersebut juga dibintangi aktris senior Christine Hakim serta Ruth Marini.
Sedangkan yang bertanggung jawab untuk penulisan naskah miniseri tersebut adalah Ika Natassa. Ika Natassa dikenal sebagai penulis novel yang populer seperti Critical Eleven dan Antologi Rasa.
Advertisement
1. Beda Naskah dan Novel
Ika Natassa mengungkapkan bahwa menulis naskah untuk miniseri dan menulis untuk novel itu berbeda. Saat menulis novel, dirinya akan lebih bebas dalam melakukan pengembangan karakter dan penentuan alur cerita.
“Menulis novel itu sejujurnya suka-suka aku. Alur cerita dan pengembangan karakter terserah aku. Saat menulis novel bisa saja saya mengetik cerita untuk halaman pertama, halaman berikutnya belum ketahuan gimana,” ujarnya.
Sedangkan untuk menulis naskah, akan lebih membutuhkan struktur yang jelas. Bahkan ide kalimat harus didiskusikan secara detail.
Menulis naskah butuh outline dan struktur yang jelas. “Kita tidak bisa menulis naskah tanpa mengetahui ending-nya. Ide diekskusi dalam kalimat demi kalimat detail,” tambahnya.
Advertisement
2. Awalnya Judul Berbahasa Inggris
Konsep yang kuat dari miniseri ini adalah dari pemilihan judul per episode. Setiap episode dari Sementara, Selamanya pasti akan dan selalu berawalan "Yang Dia"
Sebelumnya, Ika Natassa mengaku bahwa semula judul di tiap episodenya berbahasa Inggris. Sedangkan untuk pemilihan judul mengacu pada tiga aspek yaitu singkat, menarik, dan tidak membocorkan inti cerita.
Advertisement
3. Naskah Tidak Per Episode
Walaupun Sementara, Selamanya sudah tayang dalam enam episode, Ika Natassa tidak menulis naskahnya per episode. Ika Natassa ternyata menulis dalam format cerita panjang karena pada awalnya dirinya tidak terbayang akan tayang di media digital.
“Karena saat itu belum terbayang akan tayang di patform digital. Setelah resmi jadi miniseri dengan durasi pendek, naskah dijadikan pegangan untuk syuting per episode. Proses pengambilan gambarnya sesuai kronologi,” tutur Ika Natassa.
Advertisement
4. Kinerja Reza Sebagai Sineas
Walaupun Reza Rahadian sudah banyak membintangi puluhan judul film, namun untuk menjadi sutradara jam terbang Reza Rahadian masih belum banyak. Meski demikian, Ika Natassa mengapresiasi kerja keras Reza Rahadian saat produksi karena sehari bisa memproduksi dua episode.
“Selama syuting, Reza tidak buang-buang adegan, kinerjanya magic dan efektif. Kenal Reza Rahadian sejak syuting Critical Eleven. Setiap berkolaborasi dengannya terasa inklusif, orangnya berdedikasi, dan senang menantang diri sendiri,” Ika berbagi pendapat.
Advertisement
5. Aktris Utama Peraih Citra
Banyak penonton film yang menyebutkan bahwa tokoh utama perempuan yang ada di dalam film karangan Ika Natassa tak bisa diperankan oleh sembarang artis. Seperti film-film karangan Ika Natassa sebelumnya yaitu Anya di Critical Elevel dihidupkan Adinia Wirasti, Twivortiare jatuh ke tangan Raihaanun, The Architecture of Love kabarnya merekrut Putri Marino, dan Sementara, Selamanya merangkul Laura Basuki.
Ketika ditanyakan mengenai hal ini, Ika Natassa malah tertawa.
“Ha ha ha, enggak semua pemeran utama wanitanya peraih Piala Citra. Carissa Perusset (di Antologi Rasa) kan wajah baru dan fresh untuk layar lebar kita. Pemeran dan karakter itu jodoh-jodohan. Terpilihnya Adinia Wirasti untuk Critical Eleven misalnya. Itu melalui proses audisi. Hasilnya, performa dia paling oke,” ungkap Ika Natassa seperti informasi yang dilansir dari Liputan6.com.
Advertisement
6. Tiga Kata Buat Reza
Miniseri ini adalah program kerja sama Ika Natassa dengan Reza Rahadian untuk kesekian kalinya. Karena profesionalitas Reza Rahadian dalam melakukan kerja sama, ada tiga kata yang menggambarkan aktor peraih 4 piala citra itu.
Pertama adalah versatile, dengan kata lain seorang Reza Rahadian bisa menjadi siapa saja ketika di depan kamera. Bahkan sekarang bisa menunjukkan kemampuannya menjadi sutradara.
Kedua, generous, adalah sebuah bentuk usaha yang tak mudah bagi Reza Rahadian untuk menghidupkan peran.
“Di miniseri ini Reza menjadikan rumahnya sebagai lokasi syuting. Terakhir, passionate, berani mengambil risiko lalu mengerjakan bagiannya dengan penuh cinta,” pungkas Ika Natassa.
Advertisement
7. Respon Warganet
Banyak respon dari warganet yang tidak menyangka bahwa miniseri itu bisa mengaduk-aduk perasaannya. Walaupun, di miniseri itu Laura Basuki hanya menggunakan suaranya untuk bermain peran.
"jago banget ngaduk-ngaduk perasaan padahal cuma suara doang," ujar akun Twitter @yangfrbriyani
Ada juga warganet yang takjub dengan cerita di setiap episode-nya. Walaupun menurutnya akhir kisah ini sudah bisa ditebak.
"Cerita yg sbnrnya sangat mudah ditebak endingnya. Tapi dengan pembawaan yg tepat dan pemain yg tepat pula, bisa mnjadikan cerita ini menakjubkan disetiap episodenya. Gk kuat liat endingnya. Sangat dalam dan real," ungkap akun Twitter @indahprmtd