Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peristiwa 3 Maret: Pemberontakan Bersenjata di Sumatra Barat

Peristiwa 3 Maret: Pemberontakan Bersenjata di Sumatra Barat Kota Bukittinggi, Sumbar. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Tepat hari ini, 3 Maret pada 1947 silam, terjadi pergolakan di wilayah Keresidenan Sumatra Barat, tepatnya di ibu kota Bukittinggi. Di mana pasukan bersenjata yang memiliki relasi dengan laskar Hizbullah, merasa tidak puas dengan kinerja pemerintah. Dengan alasan tersebut, mereka melakukan pemberontakan yang berpusat di markas pemerintahan di Bukittinggi.

Audry Kahin dalam bukunya Dari Pemberontakan ke Integrasi, Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (2005), menyebut bahwa kelompok ini di bawah komando Hizbullah Sjamsuddin Ahmad. Adapun pemberontakan ini dilakukan untuk merebut kekuasaan dari pemerintah Republik serta menculik kepala pemerintahan saat itu, Muhammad Rasjid dan Komandan Militer Ismail Lengah.

Akibat insiden tersebut, Polisi Militer (PM) menangkap beberapa tokoh pemimpin gerakan. Anggota laskar pemberontak yang ditangkap pun harus mendekam di penjara, tetapi beberapa hari setelahnya dibebaskan dengan membawa uang dan pakaian.

Lantas, apa latar belakang dan bagaimana kronologi pemberontakan tersebut? Simak ulasannya yang merdeka.com rangkum dari Liputan6.com:

Latar Belakang Pemberontakan

bukittinggi

©Pixabay/andriyutis

Pemberontakan yang terjadi pada 3 Maret 1947 disebabkan oleh beberapa faktor, di antara lain adanya perbedaan pelayanan perbekalan antara pasukan tentara reguler Devisi IX Banteng dan perbekalan untuk laskar. Yang mana, perbekalan tentara Devisi IX jauh lebih baik dibandingkan dengan perbekalan milik laskar, yang sama-sama bertugas di Padang Area.

Dikutip dari buku Etnik, Elite dan Integrasi Nasional (2015), pemberontakan yang dilakukan laskar Hizbullah juga dipicu ketidakpuasan mereka terhadap pemimpin perjuangan di daerah bersikap lembek dan tidak becus terhadap Belanda. Hal ini yang kemudian menjadi latar belakang pemberontakan di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kronologi Pemberontakan Laskar Islam

kota bukittinggi sumbar

©2021 Merdeka.com

Sehari sebelum pemberontakan, tepatnya pada 2 Maret 1947, para tokoh dan ulama di Sumatra Barat mengadakan rapat di Padangpanjang. Dalam pertemuan ini, dihadiri oleh Kolonel Ismail Lengah, komandan Divisi Tentara Rakyat Indonesia Sumatera Tengah dan juga Residen Sumatra Barat, Sutan Mohammad Rasjid. Yang mana kedua tokoh tersebut hadir dan memberi sambutan.

Sementara itu, Jenderal Mayor Hizbullah Bachtiar yang hadir dalam pertemuan itu menganggap bahwa seluruh jajaran pemerintah Sumatra Barat dan pihak militer tidak kompeten dalam menangani masalah. Tudingan tersebut kemudian ditanggapi oleh Ismail Lengah, seorang tentara sejak zaman Jepang, yang menyebut bahwa serangan yang dilakukan militer tidak hanya lewat kata-kata seperti Bachtiar Junus.

Setelah pertemuan itu, tepatnya pada malam 3 Maret 1974, kelompok anti pemerintah yang bersenjata menuju kediaman Residen Sutan Mohammad Rasjid dan Ismail Lengah di Bukittinggi. Pasukan bersenjata yang dipimpin oleh Hizbullah Syamsudin Ahmad ini hendak menculik kedua tokoh tersebut.

Melansir dari Liputan6.com, unit-unit bersenjata itu berasal dari laskar Islam mengangkat senjata melawan pemerintah Republik di Bukittinggi dan beberapa kota lain di Sumatra Barat. Adapun pemberontakan ini dilakukan oleh laskar mandiri dan di luar dari tentara reguler. Yang mana sebagian besar kelompok ini berasal dari partai politik Islam dan laskar agama serta sekuler.

Upaya penculikan tersebut gagal dilakukan oleh pasukan bersenjata. Pasalnya, kediaman Residen Rasjid dijaga oleh Mobile Brigade dari kepolisian, sehingga sulit ditembus. Akhirnya, mereka hanya bisa menangkap para pamong praja yang dulunya pernah bekerja pada zaman Belanda dan Jepang.

Tujuan Pemberontakan

Tujuan utama pemberontakan yang dilakukan pasukan bersenjata itu untuk merebut kekuasaan dari pemerintah Republik. Selain itu, laskar Islam juga ingin menculik Residen Muhammad Rasjid dan Komandan Militer Ismail Lengah serta pejabat lainnya.

Namun, sebelum pasukan bersenjata datang, kedua pemimpin tersebut telah disiagakan untuk kemungkinan terjadinya pemberontakan. Sementara pasukan pimpinan Hizbullah Syamsudin Ahmad sendiri kurang memiliki daya kejut karena sudah terprediksi.

Kendati demikian, sempat terjadi kontak tembak di Bukittinggi selama beberapa jam. Namun, sebelum berhasil masuk kota, kelompok penyerang sudah menyerah. Selain tak berhasil menangkap Rasjid dan Ismail, gerakan ini ternyata lemah dan tak terorganisir.

(mdk/jen)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP