Menikmati Soto Daging Pak Sabar yang Legendaris Sejak 1984, Tetap Eksis dengan Sentuhan Digital QRIS BRI

Soto Daging Sapi Pak Sabar kuliner legendaris sejak 1984 kini menyediakan QRIS BRI untuk mempermudah transaksi non tunai.

Tyas Titi Kinapti
Oleh Tyas Titi Kinapti - Reporter
Menikmati Soto Daging Pak Sabar yang Legendaris Sejak 1984, Tetap Eksis dengan Sentuhan Digital QRIS BRI
Semangkuk Soto Daging Pak Sabar yang nikmat. (merdeka.com)

Di sudut Yogyakarta, tepatnya di Jl. Gedongkuning Selatan No.123, Banguntapan, Bantul, berdiri sebuah warung soto sederhana yang telah melegenda. Dari halaman tertulis di papan, warung ini telah berdiri sejak 1984-an.

Warung ini bukan sekadar tempat makan, tetapi juga bak saksi perjalanan waktu. Memperlihatkan perjuangan keluarga dalam mempertahankan cita rasa khas yang tetap digemari hingga kini. Memasuki warung ini, suasana tradisional begitu kental. Bangunan berdinding bambu memberikan kesan klasik, foto-foto kiai dan lambang Nahdlatul Ulama (NU) yang besar di tengah ruangan mencerminkan penghormatan kepada para guru spiritual.

“Pak Sabar memang menghormati guru. Insya Allah, rezekinya lancar kalau hormati guru. Makanya di warung ini dipasang foto-foto kiai” ujar Muhammad Ismail (35), putra sulung Pak Sabar saat ditemui merdeka.com pada Selasa (11/2/2025). 

Pesanan datang, semangkuk soto dengan kuah bening tersaji, lengkap dengan potongan daging yang melimpah. Satu perasan jeruk nipis semakin memperkaya rasa, menciptakan sensasi segar yang khas. Tak ketinggalan, segelas es teh manis sebagai pelengkap. Nikmat! 

Warung Soto Pak Sabar awalnya dirintis oleh Pak Sabar, seorang mantan pegawai Soto Pak Soleh di Tegalrejo. Berbekal pengalaman dan keyakinan yang kuat, Pak Sabar memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Kendati demikian, Soto Pak Sabar tidak bisa dipisahkan dari warung-warung soto legendaris lainnya di Yogyakarta. Soto Pak Gimin di Jalan Bantul dan Soto Pak Halim di Jalan Wonosari memiliki kesamaan rasa khas, karena mereka semua memiliki akar yang sama, yakni belajar langsung dari Soto Pak Soleh. Pak Gimin dan Pak Halim, yang merupakan adik-adik dari Pak Sabar, juga membuka warung soto yang menjadi pilihan legendaris bagi banyak penggemar soto di Yogyakarta. 

"Soto Pak Soleh, Pak Gimin di daerah Jalan Bantul, Soto Pak Halim di Jalan Wonosari masih saudara, mirip-mirip sebenarnya rasanya. Pak Gimin masih adik Pak Sabar, Pak Halim juga adik Pak Sabar. Memang enggak ada resep rahasia, lebih ke resep keluarga," ujar Ismail.

Keaslian rasa yang diwariskan dari keluarga ini menjadikan Soto Pak Sabar, Soto Pak Gimin, dan Soto Pak Halim tetap diminati meskipun banyak warung soto baru bermunculan. Meskipun tidak ada yang benar-benar berbeda dalam resep yang digunakan, keunikan rasa yang khas menjadikan ketiga warung ini pilihan utama bagi mereka yang mencari cita rasa soto yang otentik.

Setelah Pak Sabar wafat pada tahun 1995, usaha ini diteruskan oleh putra sulungnya, Muhammad Ismail, yang sejak kecil sudah akrab dengan dunia soto. Sejak lulus SMA, Ismail mulai membantu di warung. Setelah menikah dan menyelesaikan kuliah pada 2014, ia memutuskan untuk mengurus usaha ini sepenuhnya.

Pada awalnya, warung ini berpindah-pindah tempat hingga lima kali sebelum akhirnya menetap di lokasi sekarang. Kini, Soto Pak Sabar memiliki dua cabang, satu di Jalan Gedong Kuning dan satu lagi di Jalan Rajawali, Banguntapan, Bantul.

Warung Soto Pak Sabar memiliki pelanggan setia, baik dari warga sekitar maupun wisatawan yang datang untuk mencicipi kelezatan soto khas ini. Banyak pelanggan pertama kali datang berkat rekomendasi teman atau keluarga. Setelah mencicipi, mereka pun kembali lagi.

Ada juga yang datang untuk bernostalgia, mengingat masa kecil atau kenangan indah yang selalu hadir saat menikmati semangkuk soto hangat. Bahkan, tak jarang pelanggan lama mengenal Ismail sejak ia masih kecil.

“Mas, sampeyan itu anaknya Pak Sabar atau apa ya? Oh, sampeyan yang dulu masih kecil?” ujar Ismail sambil tersenyum mengenang momen ketika pelanggan lama mengenalinya sebagai anak dari Pak Sabar dan kini yang mengelola warung.

Soto Pak Sabar memang memiliki keunikan pada kuah kaldunya yang bening, segar, dan kaya akan rasa. Dilengkapi dengan potongan daging yang melimpah dan empuk, membuat setiap suapan begitu memuaskan. Ditambah dengan tempe goreng renyah yang selalu menjadi teman setia, soto ini menjadi sajian yang sulit dilupakan.

"Soto Pak Sabar itu terkenal dengan dagingnya yang banyak dan empuk, katanya juga kuah kaldunya yang segar," ungkap Ismail, menjelaskan ciri khas rasa soto legendaris ini.

Di Soto Pak Sabar, seporsi soto campur dengan daging melimpah bisa dinikmati seharga Rp 25.000, sementara bagi pecinta jeroan, tersedia pilihan iso atau babat dengan harga yang sama. Untuk pelengkap, segelas es teh manis yang menyegarkan bisa didapatkan dengan Rp 4.000.

Selain pelanggan biasa, warung ini juga pernah menarik perhatian tokoh-tokoh terkenal. Beberapa pejabat seperti Mahfud MD dan Rieke Dyah Pitaloka pernah berkunjung dan mencicipi soto yang sudah terkenal di kalangan pencinta kuliner Yogyakarta ini.

Dengan tujuh karyawan, warung ini terus beroperasi setiap hari dari pukul 08.00 pagi hingga Maghrib, kecuali saat Ramadan, di mana mereka hanya buka sampai waktu berbuka puasa.

Setiap harinya, mereka menghabiskan sekitar 15 kg daging, dan jumlah ini bisa meningkat hingga 30 kg saat akhir pekan atau musim liburan.“Kalau hari biasa, biasanya sekitar 15 kg daging, tapi kalau weekend bisa lebih banyak capai 30 kg. Bahkan, saat liburan Idul Fitri, pengunjung bisa lebih ramai dibandingkan weekend biasa” ujar Ismail. 

Meskipun laris manis, Ismail tidak pernah gencar dalam promosi. Ia lebih mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut atau word of mouth, yang menjadi cara paling efektif untuk menarik lebih banyak pelanggan. Sesekali, warung ini memang mendapatkan liputan dari kanal YouTube kuliner. 

Saat ditanya apakah ada rencana untuk membuka cabang baru, Ismail menggeleng. "Pernah ada yang nawarin kerja sama buka di Jakarta, tempatnya sudah disiapin, kita yang masak. Tapi saya belum tertarik, yang di sini dulu saja." pungkas Ismail.

Bagi Ismail, menjaga kepercayaan pelanggan adalah hal utama, seperti yang diajarkan oleh ayahnya. Menurutnya, bisnis kuliner bukan hanya soal rasa, namun juga kemampuan untuk mendengarkan dan memperbaiki keluhan dari pelanggan.

 "Yang merintis kan bapak, dan saya hanya mempertahankan serta terus memperbaiki berdasarkan kritik dari pelanggan," ujarnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, warung Soto Pak Sabar juga beradaptasi dengan perubahan. Jika dulu pelanggan hanya bisa membayar dengan uang tunai, kini warung ini telah menyediakan layanan pembayaran digital melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) BRI.

Awalnya, penggunaan QRIS BRI di warung ini bukanlah sesuatu yang direncanakan. Banyak pelanggan yang bertanya apakah bisa membayar secara cashless, hingga akhirnya Ismail memutuskan untuk mulai menyediakan QRIS BRI empat bulan lalu.

"Dulu sering ada pelanggan nanya, ‘Mas, ada QRIS nggak?’ Kalau nggak ada, mereka harus ke ATM dulu. Lama-lama saya pikir, pasang saja" cerita Ismail.

Kini, sekitar 30% transaksi di warungnya sudah menggunakan QRIS BRI. Menurutnya, penggunaan QRIS BRI memberikan banyak keuntungan, baik untuk dirinya sebagai pedagang maupun bagi pelanggan. Dengan QRIS, ia merasa lebih tenang karena transaksi menjadi lebih aman dan praktis. Pria 35 tahun ini juga mengungkapkan bahwa QRIS BRI membantu meminimalisir risiko seperti pemalakan di jalan atau kasus pencurian.

 "Sekarang kan banyak kasus uang palsu, bisa terhindar dari itu. Selain itu, kita nggak perlu ribet mikirin kembalian. Uang juga langsung masuk ke tabungan, jadi lebih aman," jelasnya. 

Tak bisa dipungkiri, QRIS BRI membantu pedagang seperti Ismail untuk melayani pelanggan dengan lebih cepat dan mudah, serta membuat keuangan lebih transparan dan terkontrol.

Fifin (48), salah satu pelanggan setia Soto Pak Sabar, merasa sangat terbantu dengan adanya sistem pembayaran QRIS BRI.

 "Dengan adanya QRIS BRI, saya jadi lebih mudah bayar tanpa repot. Tidak perlu bawa uang tunai, tinggal scan dari HP saja," ungkapnya. 

Sebagai pelanggan yang sudah sering datang, Fifin merasa bahwa kemudahan transaksi ini membuat pengalaman makannya jadi lebih praktis dan nyaman. QRIS BRI menawarkan kenyamanan karena bisa melakukan pembayaran hanya dengan menggunakan ponsel, tanpa perlu membawa uang tunai, yang tentunya membuat pengalaman berbelanja lebih nyaman dan aman.

QRIS BRI mempermudah pelanggan Soto Pak Sabar, karena selain menghemat waktu, sistem ini juga mengurangi kerepotan membawa uang tunai.

Jika Anda ingin mendaftarkan usaha sebagai merchant QRIS BRI bisa melalui BRImo, ikuti langkah-langkah berikut:

  1. Login ke BRImo, lalu pilih menu “Lainnya”.
  2. Ketik “Jadi Merchant”, klik ikon yang muncul, atau scroll ke bawah ke menu “Produk BRI” untuk masuk ke website pendaftaran (jadimerchant.bri.co.id).
  3. Di website, klik “Daftar Sekarang”, lalu pilih produk merchant yang sesuai.
  4. Pastikan Anda memiliki rekening BRI, lalu isi data diri dan informasi usaha (alamat, NIK, nomor handphone, jenis usaha, dan merchant).
  5. Klik “Daftar Merchant” untuk menyelesaikan proses pendaftaran.
Rekomendasi